[Football For Unity]
Kemarin, saya bersama brigade
@kammi.hamka_uinriau baru saja sah dilantik sebagai satu kesatuan kepengurusan KAMMI tingkat Komisariat. Jauh sebelum saya mengenal organisasi, sepakbola sudah mengajarkan saya tentang kemanusiaan.
Dalam moment pertemuan bersama anak bangsa yang terhimpun dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, kami mengajak untuk sejenak mengheningkan cipta, mengirimkan Doa & Al-Fatihah atas tragedi yang menimpa di Stadion Kanjuruhan, Malang. Kota Malang adalah sejarah bagian dari KAMMI, begitupun dengan orang-orangnya merupakan saudara kita dalam hidup antar sesama.
Bicara sepakbola, apakah ada alat pemersatu bangsa? Iya jawabannya jelas sepakbola. Seyogyanya, sepakbola merupakan media menyatukan anak bangsa, bukan sebagai ajang menghilangkan nyawa. Sepakbola adalah alat menyehatkan, menggembirakan, dan tidak seharusnya ada memakan korban, apalagi mencapai ratusan. Tidak! Sepakbola dihadirkan bukan untuk kekerasan.
Apa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang, itulah insiden terkelam pesepakbolaan sepanjang sejarah Indonesia dan merupakan nomor dua yang paling mencekam seantero dunia. Dibelahan dunia lainnya, supporter pun sering memasuki lapangan, namun tidak sampai menghilangkan nyawa manusia. lantas apa yang membedakan dengan tragedi di Kanjuruhan, sehingga harus berjatuhan korban bukan lagi puluhan namun sudah mencapai ratusan.
Dengan tragedi kemanusiaan bersejarah ini, maka lebih aneh lagi jika tidak ada tersangka, tidak diberlakukannya hukum pidana, tidak adanya yang dicopot dari jabatannya, dan masih berlindung dengan atas nama oknum dalam lembaga. Jika hal sekelam semacam ini pun masih ada pembiaran, maka kalau kita masih dipimpin oleh orang-orang yang sama, kita hanya akan melewati kedukaan yang satu ke kedukaan yang lainnya.
Tidak ada olahraga yang sebanding dengan nyawa, sepakbola itu selamanya bukan segalanya. Tetap kemanusiaan diatas segalanya. Jika sepakbola lebih mahal dari pada nyawa, maka kami lebih memilih hidup tanpa sepakbola.
30 September, 7 jenderal tewas dalam satu malam.
1 Oktober, 135 meninggal dunia dengan sia-sia dalam satu pertandingan.