Posted On: August 17th 2025, 03:08 am
Memasuki abad ke-20.
Aku tidak sudi untuk mengakui bahwa aku seorang keturunan bangsawan dan anak dari seorang Bupati. Tapi karena hal itu aku mendapatkan kesempatan bersekolah di tempat berpendidikan Eropa dan berjumpa dengan pemikiran yang berbalik 180 derajat dengan pemikiran sebangsaku.
Sulit untuk diterima dengan pikiran yang sudah terkungkung warisan yang diturunkan nenek moyangku, tapi itu harga setimpal yang harus dibayar untuk kemajuan atau sekedar mengejar ketertinggalan.
Pengalaman yang aku lewati membuatku sadar bahwa keterbelakangan harus dibayar dengan harga yang mahal. Orang Indonesia kini, khususnya orang Bali harus bertemu pemikiran yang bertentangan dengan pikiran mereka secara nyata. Orang Bali yang religius dengan “nak mule ketonya” harus berjumpa dengan kaum atheis yang sangat rasional. Tri hita karana yang megah terpampang di tulisan-tulisan tentang Bali harus bertemu dengan mereka yang beraksi tanpa banyak basa-basi. Orang Bali yang bekerja keras dibungkus kata “ngayah” harus bergumul dengan orang-orang pragmatis yang hanya tau keuntungan. Semuanya untuk apa? Untuk memahami perspektif berbeda, dan merancang formula hidup yang tepat.
Aku harap di masa depan anak cucuku merawat bangsa ini dengan segenap hatinya, entah masih dengan nama Hindia Belanda ataupun nama lainnya.
Namaku Minke, seorang pribumi.
#17agustus #bumimanusia