Posted On: November 25th 2025, 01:00 pm
Tugas akhir kelas Still-Life Drawing dari
@berkreartsi x
@rezamkti ✍️🏻
Kelas yang bermanfaat banget! Ini adalah perkenalan pertamaku dengan still-life. Apa yg kupelajari di kelas ini bisa diaplikasikan dalam gambar-gambar lain selain benda. Yang paling terasa adalah tingkat ketelitian, kesabaran, serta ketekunanku yang berkembang pesat. Mencoba menyederhanakan objek yg kompleks menjadi bentuk yg lebih sederhana. Mengasah muscle memory lewat repetisi dalam mengarsir + mengendalikan tekanan dan stabilitas tangan. Ini semua hal-hal yg penting untuk menapaki kemampuan menggambar lebih jauh.
Jujur, awal gemar menggambar tuh aku enggak suka gambar objek yang bukan manusia. Aku merasa "sekedar benda mati" enggak bisa menyampaikan kisah dan emosi yang bisa diekspresikan dari gambar manusia atau hewan, sementara imajinasiku terus menelurkan ide dan cerita-cerita baru. Jadilah aku melompati berbagai step-step dasar yg sebenernya sangat penting untuk membangun fondasi awal skill ini.
Gadis kecil yg keras kepala dan kekeuh menuruti kesukaannya itu kemudian tumbuh menjadi gadis muda yang perfeksionis. Sudah bisa dibayangkan, kan, dampak yang dihasilkan dari kombo keras kepala + perfeksionis 🫠 Yap, a lot of frustration and even going as far as self-loathing. Imajinasinya semakin canggih, cerita-ceritanya bertambah kompleks. Tapi penyalurannya amat flawed. Harusnya kalau punya tujuan besar, effortnya juga ikutan besar. Effort di sini bukan melulu effort yg kita suka menjalaninya. Hal-hal yg melelahkan dan membosankan pun juga perlu dilakukan.
Untungnya seiring bertambah dewasa, gadis tsb bisa menurunkan egonya. Dia mengakui bahwa ini bukan tentang "suka/enggak suka" lagi, tapi tentang "butuh/tidak butuh." Dia mulai mempelajari apa yg sejak kecil ia hindari akibat landasan berpikir, "hobi harusnya bikin senang, bukan jenuh atau capek!" Dia sempat lupa bahwa kesenangan yg dicapai melalui proses itu lebih memuaskan dibanding yg instan.
Tahu apa yg disukai itu bagus, tapi suka belum tentu benar. Keras mengikuti kesukaan/keinginan sendiri bisa jadi malah semakin menjauhkan kita dari kebahagiaan yg lebih besar di depan sana. Kebahagiaan yg menunggu kita untuk mau berkorban.