Tentang Semarang,
Segelintir orang, terlebih seorang pendatang (kembali) sepertiku, memiliki pertanyaan mengenai makna Kota Semarang dan arah tumbuhnya. Selama 4 tahun terakhir, menjalani waktu perkuliahan yang seru dan gonjang-ganjing, aku berusaha menilik lebih dan mengkaji perihal makna dari kota ini, "apa itu Semarang dan kenapa Semarang terbentuk seperti ini?" Jawabannya pun cukup beragam.
"Potong kedua tangan dan kedua kaki orang (kreatif) Semarang, sisakan kepala dan badannya saja. Niscaya mereka akan tetap bisa berjalan, bisa tetap maju. Selambat apapun itu, mereka (Semarang) akan terus tetap bergerak, walau tanpa tangan dan tanpa kaki," menurut salah satu pegiat graffiti legendaris dari Semarang.
"Pegiat-pegiat (kreatif) Semarang itu tumbuhnya sendiri-sendiri, namun informasi akan tetap dibagi," tutur Vale Jemari Emas,
@valentino_goldfinger. Aku pun percaya hal yang serupa. Tak banyak figur baru yang secara rapid bermunculan dikomplotan-komplotan alternatif, namun ketika ditelusuri lagi, ternyata figur-figur yang muncul (atau mungkin yang akan muncul), mempunyai proses panjang dan dalam dibaliknya. Bagiku ini suatu kekuatan tersendiri yang dipunya oleh aktor-aktor di Semarang: kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dan mendalami dirinya, sendirian.
Namun ada juga yang bersuara, "... karena Semarang tidak ada apa-apa, makanya jadi bisa ngapa-ngapain," menurut Alm. Mas Gatot yang dituturkan oleh beberapa saksi. Statement ini sontak menggeser caraku memaknai suatu ruang hidup. Betul memang, jika di suatu tempat banyak hal yang absent, maka akan jauh lebih banyak hal yang bisa diwacanakan untuk membuatnya bertumbuh. Tidak mudah, memang, tapi bisa. Semua berawal dari kebisaan. Ketiadaan menjadikan nyawa-nyawa di antaranya untuk bisa melahirkan sesuatu yang baru, sesuatu yang segar. Ini bukan suatu keterbatasan, ini privilege.
Dewasa ini aku sadar, bahwa asinnya air, dan teriknya sorot matahari pesisir adalah satu dari banyak hal yang berpengaruh bagi cara kita-kita semua berpraktik; entah dari pace, respon terhadap isu, tentu juga yang lain-lainnya.
Sekiranya begitu, esai singkat abal-abal untuk kota yang sering banjir ini. Aturen awuren!
#hahaokwes