Saya sangat merasa beruntung diberi kesempatan mengunjungi perpustakaan kecil di Banda Aceh,
@sophies_sunset_library yg didirikan dan dikelola oleh Kak
@raihanlubis23 .
Dari sisi jumlah, koleksi bukunya memang seakan tidak merekah membuncah, tapi dari sisi pengetahuan yg disajikan, gemah ripah gaes! Perpustakan dgn ruang ramah anak, ruang diskusi kecil, toko buku, ruang baca, bahkan kedai kopi. Oh ya, nama Sophie diambil dari nama putri bungsunya yg msh berusia 10 tahun. Romantisasi yg masuk akal, menurutku.
Dalam konteks studi
#ruangketiga di Aceh yg sedang kulakukan dlm kapasitas sbg mhsw
@fisemaipb @ipbofficial , Kak Raihan yg sesama
@alumnidetikcom angkatan masuk 99-an (saya di desk IT, dia di biro Aceh) dan tim KPCPEN era COVID-19 ini, adalah seorang yg resourceful untuk sejarah Aceh.
Perbincangan pertama kami, Sabtu malam (23/8/2026) berlangsung sekitar 4 jam, yang harus berakhir pada sekitar 21.30 WIB. Merasa kurang memadai, saya pun membooking kembali jadwalnya pada Senin berikutnya untuk menggali lebih banyak pengetahuan tentang sosial budaya Aceh yg bak sedalam sumur, setinggi pohon Ara.
Saya selalu jatuh hati dgn mereka yg menopang keseharian eksistensi dirinya dgn buku, perpus or kedai buku, dan aroma lembaran kertas. Kak Raihan ini one of a kind, ketika budaya tutur lebih kuat daripada membaca, apalagi menulis, dia adalah bak penjaga oase di sekeliling tanah yg pecah retak lantaran kekeringan yg pekat.
Dia tahu apa yg dia ceritakan, dan dia ceritakan apa yg dia ketahui. Kecerdasan artifisial (AI) mungkin seperti air yg bisa membasuh dahaga raga di panas terik, tapi hadirnya pustakawan seperti dirinya, tidak akan dapat menggantikan air AI yg diguyurkan berember-ember, untuk jiwa.
Maka, atas nama memanusiakan pengetahuan, saya bersaksi bahwa Kak Raihan termasuk kaum pandai yg tak pelit berbagi pengetahuan, sesosok pustakawan yg hangat, pengelola perpustakaan yg cabe rawit. Jika kalian berkesempatan ke Banda Aceh, temuilah dia. Tak usah bawa air seember, bawalah rasa penasaranmu (tentang Aceh).
Ps:
page terakhir, foto saya bersama 2 perempuan hebat di Aceh, Kak Raihan (tengah) dan Kak
@nuu_husien dari
@darahuntukaceh.id #RelawanAcehTangguh