Posted On: October 13th 2026, 10:58 am
.
Di tengah krisis air seperti sekarang, saya mengingat kembali beberapa bulan lalu. Ketika mengunjungi sebuah danau, sumber di hulu sungai sana. Lahan basah yang berperan penting sebagai penopang. Saat itu, sembari membersamai rekan yang sedang beresidensi mencari madu. Saya mencoba melihat lebih dekat hubungan antara air, manusia, dan segala yang mengikuti arusnya.
Mereka yang hidup bersama air, yang memanfaatkannya sekaligus menjaga keberlangsungannya, ternyata saat ini juga berhadapan dengan krisis. Kedekatan dengan air tidak selalu berarti memiliki akses yang cukup atau layak terhadapnya, ketika keseimbangan lingkungan di wilayah lain berubah.
Sebab air tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia bergerak dari hulu ke hilir, meresap ke tanah, mengaliri sungai-sungai, menghidupi semua yg dilalui, lalu kembali berevaporasi ke udara dalam sebuah siklus. Apa yang terjadi di satu tempat, cepat atau lambat, dapat dirasakan di tempat lain.
Siklus yang terus berlangsung itu tidak berarti sistem hidrologis selalu mampu memulihkan dirinya tanpa batas. Ketika penyangga kehilangan daya dukung, tanah tak lagi mampu menyimpan air dengan baik, dan ruang hidup terus berubah, hubungan yang selama ini menopang kehidupan perlahan melemah. Wilayah yang sebelumnya terasa aman pun bisa semakin rentan ketika krisis datang.