Posted On: October 17th 2026, 09:42 am
Langit Kalimantan tak lagi biru. Kini, ia tertutup pekatnya kabut asap yang merampas hak paling dasar setiap makhluk hidup: udara bersih untuk bernapas. Setiap tarikan napas kini terasa perih, menyesakkan dada, dan mengancam nyawa terutama bagi anak-anak kecil yang terbatuk-batuk dan lansia yang rentan.
Di tengah darurat asap akibat Karhutla ini, kami melangkah menembus jalanan untuk membagikan 200 helai masker. Saat selembar pelindung itu kami serahkan, kami menatap mata-mata sayu yang memerah karena perihnya asap. Tapan mereka menyiratkan kelelahan yang luar biasa dan rasa syukur yang tak sempat terucap.
Hati rasanya hancur dan teriris. Bayangkan, untuk sekadar bertahan hidup dan mendapatkan oksigen, saudara-saudara kita harus berebut dengan abu dan racun sisa pembakaran hutan. 200 masker ini mungkin sangat kecil, tak akan mampu membendung pekatnya asap yang mengepung pulau ini. Namun, ini adalah pelukan kecil kami agar mereka tak merasa ditinggalkan berjuang sendirian.
Masker ini tidak bisa memadamkan api yang sedang melahap hutan-hutan kita, tapi kami berharap ia bisa sedikit melindungi paru-paru mereka yang hari ini terpaksa harus terus bekerja di luar rumah demi keluarga.
Lekas pulih, Kalimantan. Semoga Tuhan segera menurunkan hujan untuk membasuh luka bumi ini, memadamkan bara, dan mengembalikan napas segar bagi saudara-saudara kita. 🥀🤲🏻
#karhutlakalimantan #karhutla #prayforkalimantan