Posted On: August 30th 2024, 03:40 am
Karaeng Tinggi Mae, Orang Bugis-Makassar di Singapura tahun 1865.
Sekelompok pria bercelana pendek dan bersa-
rung, lengkap bersisip keris. Selagi tiga perempuan duduk menghadap kotak sirih dengan sarung dan waju tokko (busana khas suku Bugis). Bukanlah biasa mendapati perempuan ikut pergi berlayar ke seberang dimasa ini.
Tahun 1600, Masa Keemasan Kerajaan Tallo.
Gelombang migrasi orang-orang Bugis dari
daratan Sulawesi (Bandar Kerajaan Tallo, saat ini Makassar Utara) ke berbagai wilayah dari Samarinda hingga Singapura umum dikaitkan dengan peristiwa pasca perang Makassar yang ditandai dengan "perjanjian Bungaya" pergolakan sosial pada tahun 1669 terjadi dimana-mana. Mereka pergi untuk berdagang dan berkoloni, lazim dikenali sebagai orang-orang Bugis Wajo.
Next, kita bahas founder "Serikat Dagang Singapura", berasal dari Wajo.
Hingga akhir abad XVII, kapal Bugis identik
dengan membawa barang dagangan dengan muatan seperti kain, opium, budak, gading, hingga teripang, sirip hiu, tempurung kura-kura dan beberapa komoditi lainnya.
Kapal-kapal Bugis pun dikenal kerap menyelundupkan dagangan seperti senjata api, alkohol dan rempah, jauh sampai ke Manila dan Penang. Hal yang lumrah dilakukan pada zaman itu, abad XVII.
Di Singapura sendiri, tercatat ada 2.269 orang Bugis menurut sensus tahun 1849. Sementara laporan komisi tanah jajahan Inggris 1843 menyoroti peran mereka dalam "menyediakan" bahan makanan orang Singapura serta mengedarkan produk-produk dari Cina dan Eropa ke seantero negeri.
Mereka inilah yang membuat Raffles menye-
diakan sewilayah tanah di antara sungai Rochor dan Kalang untuk jadikan pemukiman Bugis yang kemudian dikenal sebagai "kampoeng Bugis'.
Selain berniaga, mereka yang bermukim umumnya berprofesi sebagai nelayan, porter, penjaga keamanan, juga memburu.