Posted On: July 12th 2025, 02:49 am
dibanding malas untuk mengunggah ini tepat ketika wisuda, lebih tepatnya sekadar lupa. setelah kupikir-pikir lagi, ternyata momen ini cukup menyenangkan—meski masih sering menyesali kenapa tidak bersama angkatanku yang lain.
tujuh tahun memiliki cerita tersendiri yang entah kenapa sering terasa berat untuk diceritakan sebagai dongeng sebelum tidur. di antara itu, masih tersisa keinginan untuk bercengkerama dan berlama-lama dengan mereka. ketika pulang ke Bandung, aku tidak menemukan tempat untuk kembali; rumah itu tidak ada di sana—meski ribuan kali aku berpikir kalau diriku berjalan ke arah yang salah. tidak apa-apa, itu menjadi cerita yang akan kutanam di dada yang koyak porak kelak.
di kemudian, aku memahami bahwa takdir menjadi tempat hati manusia dipermainkan. ketika itu, aku menemukannya sebagai juru selamat dari tali-tali penyangga dunia yang kupikir telah renggang dan seisinya akan runtuh. dirinya yang kurang pandai mengolah kata-kata membuktikan bahwa dunia yang hampir jatuh bisa ditopang dengan cara selain ucapan manis. di sana aku tertampar: akan selalu ada tali yang terjuntai dan meminta untuk digenggam, dan mungkin itulah yang biasa kita sebut dengan hubungan.
sesekali aku masih memandang biru yang terkadang berubah keabu-abuan di atas sana dengan kecemasan: menerka kapan itu akan jatuh dan menimpaku sekali lagi. namun untuk sekarang, aku memiliki keyakinan kalau tangan-tangan itu akan memaksaku tetap berdiri meski kaki-kakiku hancur dan cacat.