Apa yang kutakutkan, ternyata membawaku untuk bisa lebih banyak belajar.
Usia 20an yang diwarnai kebingungan, tapi mungkin krisisnya pun mengajarkan sesuatu kalau kita punya ruang untuk merefleksi apa tujuannya. Mungkin juga ngga perlu sama dengan yang lainnya, karena masing-masing punya cara merayakan kehidupannya.
Bahkan ada hambatan, sesimpel chat udah ngga dibales menunjukan ada tujuan lain yang menanti. Well, patah hati sih sedikit, cuman bukan dia juga jalannya. Itulah, yang bikin tulisan ini ada. Menumpahkan isi pikiran yang niatnya kabur dari rasa kecewa.
Namun, ternyata ngga menyenangkan proses jadi dewasa. Debutnya juga ngga dibekali panduan to be this wise -- kek kenapa ada orang yang umurnya udah mateng tapi ngelola emosinya aja ngga bisa, jadinya nyebelin?. Hanya kita juga punya pilihan buat nemuin jawabannya, salah satunya lewat membaca. Terus biar lebih mudah mengingat, catatan belajarnya pun dibuat, ya lewat tiga buku ini contohnya.
Menulis hal-hal yang dipikirkan untuk manifestasi kalau kita bisa menciptakan teman baik itu, sesuai sama yang dirasa kala itu. Mungkin tulisan ini jadi pengingat kalau.. kita sudah berproses sejauh itu ya. Tapi tak pernah disyukuri, karena biasa saja buat kita, kali ya.
Memang ya.. gapapa buat bingung dan marah, tapi ada kok masanya merayakan hidup dari yang sederhana saja. Ada alasan seru buat bertahan di dunia tipu-tipu ini. Ngga dibales chatnya bukan akhir dari segalanya, emang ya ada masa depan lebih baik yang menanti disana.
Kadang ya, apa yang kita punya sekarang juga berproses dari apa yang dulu hanya bisa kita semogakan.
Gapapa bersedih secukupnya, kita bebasin diri cari jalan keluarnya, dan bersyukurlah bahagia itu akan selalu ada 🫶
Warm regards,
Aku dan the october gang
ps: tiga buku ini rilis di bulan Oktober wkwkwk✨️
#alyabookproject #bookstagram#bookrecs#selfimprovement #foryourpage❤️