Instagram story viewer> @fahmimos> Post
a year ago
-Sebuah Puisi-

Salatiga Sebelum Reda

Sejak kapan laki-laki
menyerah pada deras?
Bukankah langkah paling tabah
lahir dari tanah yang menahan basah?

Di setiap hujan,
ada wajah yang menua bersama,
ada jemuran yang tak sempat diangkat,
ada doa yang terus menetes dari atap rumah.

Di kedai kopi tepi kota,
bau kopi bercampur kenangan,
suara sendok menegur gelas,
seakan hidup hanyalah denting kecil,
pecahan sunyi yang berjuang tegar
di tengah hiruk kehidupan.

Kopi hitam di hadapan,
hangatnya adalah jeda
bagi lengang yang tak sempat dipeluk.
Asapnya naik perlahan,
seperti waktu yang tak ingin beranjak.
Aroma getir dan hangatnya menenangkan nadiku.

Ada sisa kopi di bibir gelas,
dingin, pahit,
seperti ingatan yang menolak reda.

Aku pernah berjanji tak akan rapuh,
tapi siapa sangka,
sunyi bisa memukul lebih keras dari petir,
bunyi tanpa rupa.
Aku mencoba menegakkan kepala,
namun langit terlalu berat malam ini.

Di jalan basah itu,
kulihat bayanganku sendiri,
pecah oleh genangan,
seolah aku dan diriku sedang berpisah
tanpa sempat berpamitan.

Salatiga tenang.
Namun di dalam dada,
riuh itu mengaduk lumut.
Hujan turun lebih deras,
dan aku biarkan saja,
biarlah ia menghapus yang tak perlu.

Mungkin ini cara langit berbisik pelan,
bahwa setiap luka punya musimnya sendiri.
Bahwa kekuatan tak selalu berarti melawan,
kadang ia tumbuh dari rela yang didiamkan.

Aku tersenyum kecil,
entah pada siapa.
Rupanya, yang aku cari bukan jawaban,
tapi ketenangan yang tak lagi perlu dijawab.

Hujan masih turun.
Aku membiarkan yang perlahan reda.

______

@hariankompas
@kompasmuda
#PuisiKompas
#KatayangMenguatkan
#FestivalKataKompas2025
5
Posted On: October 13th 2025, 03:29 pm
-Sebuah Puisi-

Salatiga Sebelum Reda

Sejak kapan laki-laki
menyerah pada deras?
Bukankah langkah paling tabah
lahir dari tanah yang menahan basah?

Di setiap hujan,
ada wajah yang menua bersama,
ada jemuran yang tak sempat diangkat,
ada doa yang terus menetes dari atap rumah.

Di kedai kopi tepi kota,
bau kopi bercampur kenangan,
suara sendok menegur gelas,
seakan hidup hanyalah denting kecil,
pecahan sunyi yang berjuang tegar
di tengah hiruk kehidupan.

Kopi hitam di hadapan,
hangatnya adalah jeda
bagi lengang yang tak sempat dipeluk.
Asapnya naik perlahan,
seperti waktu yang tak ingin beranjak.
Aroma getir dan hangatnya menenangkan nadiku.

Ada sisa kopi di bibir gelas,
dingin, pahit,
seperti ingatan yang menolak reda.

Aku pernah berjanji tak akan rapuh,
tapi siapa sangka,
sunyi bisa memukul lebih keras dari petir,
bunyi tanpa rupa.
Aku mencoba menegakkan kepala,
namun langit terlalu berat malam ini.

Di jalan basah itu,
kulihat bayanganku sendiri,
pecah oleh genangan,
seolah aku dan diriku sedang berpisah
tanpa sempat berpamitan.

Salatiga tenang.
Namun di dalam dada,
riuh itu mengaduk lumut.
Hujan turun lebih deras,
dan aku biarkan saja,
biarlah ia menghapus yang tak perlu.

Mungkin ini cara langit berbisik pelan,
bahwa setiap luka punya musimnya sendiri.
Bahwa kekuatan tak selalu berarti melawan,
kadang ia tumbuh dari rela yang didiamkan.

Aku tersenyum kecil,
entah pada siapa.
Rupanya, yang aku cari bukan jawaban,
tapi ketenangan yang tak lagi perlu dijawab.

Hujan masih turun.
Aku membiarkan yang perlahan reda.

______

@hariankompas
@kompasmuda
#PuisiKompas
#KatayangMenguatkan
#FestivalKataKompas2025
Comments (5)
deadyrizky a year ago

deadyrizky

Makasih, mas. Sudah mengingatkan bahwa walau namanya pu-easy bikinnya tetep gak gampang gitu lho

umarpani a year ago

umarpani

Kurusan

derryoktami a year ago

derryoktami

Bravo🔥

More posts

back to up