Perjalanan kemarin seperti belum benar-benar selesai bagiku. Rasanya masih banyak yang tertinggal di sana. Beberapa bagian hatiku, misalnya. Memori itu jelas.
Tentang langit yang biru kini beralas tanah yang penuh lumpur dan debu.
Tentang bangunan yang sebelumnya gagah kini lebur, runtuh tanpa sisa.
Tentang jalan-jalan yang dulu mungkin riuh oleh langkah manusia kini riuh dengan puing dan kesunyian.
Tentang cerita demi cerita yang kudengar, yang sering kali jauh berbeda dengan “kenyataan” yang disampaikan oleh para penguasa.
Aku belajar banyak.
Bagaimana harapan sekecil apa pun dapat menjadi alasan untuk tetap bertahan.
Bagaimana senyum masih bisa hadir di tengah porak-porandanya bangunan,
di tengah rumah yang hilang,
di tengah kehidupan yang tiba-tiba harus berubah haluan.
Aku disadarkan bahwa bencana tidak selalu lahir dari alam. Ia juga bisa lahir dari keserakahan, kelalaian, dan kekuasaan yang tidak pernah benar-benar berpihak pada yang paling membutuhkan.
Terima kasih kepada
@bemui_official dan
@relawan.nusantara yang telah memberiku kesempatan untuk berkontribusi pada perjalanan penuh cerita ini. Perjalanan ini mungkin sudah selesai dalam ruang dan waktu. Namun, sisa tanya, harapan, dan amarah masih terus berjalan di benakku.
Unggahan sederhana ini bukan untuk sekadar menyimpan memori, melainkan untuk membuka mata dan memastikan bahwa cerita mereka tak akan ikut terkubur bersama lumpur, puing, dan debu.
(Aceh Tamiang, Februari 2026)