Basket, gymnastik, taekwondo, tenis, renang. Semua sudah Kilian coba sebelum akhirnya fokus ke sepak bola.
Dan jujur, keputusan buat fokus itu sempat bikin gw ragu.
Takut kecepetan.
Takut dia kehilangan kesempatan nemuin sport yang mungkin lebih cocok.
Apalagi setelah baca risetnya, idealnya baru fokus di usia remaja.
Tapi yang jarang dibahas: keputusan ini bukan cuma soal anak.
Ini juga soal jadwal kerja, jarak antar tempat latihan, biaya, dan energi satu keluarga.
Yang akhirnya bantu gw mutusin, tiga pertanyaan ini:
1. Anaknya sendiri paling semangat di sport yang mana?
Bukan yang paling jago, tapi yang paling dia tunggu-tunggu.
2. Keluarga kita sanggup jalanin berapa jadwal, tanpa semua orang jadi capek?
3. Apa yang sudah dia dapat dari sport-sport sebelumnya?
Buat gw, tahun-tahun mencoba itu ga sia-sia. Keseimbangan dari gymnastik, kuda-kuda dan tendangan dari taekwondo, footwork dari tenis, baca ruang dari basket. Semuanya kebawa ke lapangan bola.
Dan satu yang ga kami lepas: renang.
Sampai sekarang masih rutin, bukan buat kompetisi, tapi biar badannya tetap aktif dengan cara yang berbeda.
Jadi buat gw, fokus satu sport itu bukan berarti berhenti gerak yang lain.
Yang dikurangi kompetisinya, bukan pengalamannya.
Sekarang gw penasaran.
Daddy & Mommy pilih yang mana: fokus satu dari awal, atau multi-sport dulu?
Ceritain di kolom komentar ya, apa yang bikin kalian yakin sama pilihan itu 👇
Simpan postingan ini buat yang lagi galau mutusin hal yang sama.
#SoccerDadExplains #SepakBolaUsiaDini #ParentingSepakBola #soccerdadid