Posted On: October 28th 2026, 06:09 am
Lilin-Lilin Kecil
Ada sesuatu yang sederhana namun bermakna dari sebuah lilin. Cahayanya mungkin temaram, tetapi mampu menghadirkan kehangatan dan harapan. Lilin tidak pernah menerangi seluruh kota. Ia cukup memberikan cahaya bagi orang-orang di sekitarnya. Ketika lilin-lilin kecil dinyalakan bersama, cahaya yang semula terbatas dapat menerangi ruang yang lebih luas.
Saya sering teringat gambaran itu setiap kali Oktober tiba. Pada 1928, anak-anak muda yang berkumpul di Batavia adalah lilin-lilin kecil. Mereka tidak punya negara, tidak punya kekuasaan, dan tidak punya jaminan apa pun. Masing-masing hanya membawa cahaya kecil. Tetapi mereka menyatukan cahaya itu, dan terangnya cukup untuk menunjukkan jalan bagi sebuah bangsa yang belum lahir. Hampir seratus tahun kemudian, kita masih hidup di dalam terangnya.
Ketika Kompas mengajak kita membayangkan Indonesia Besok, saya tidak membayangkan satu cahaya besar yang tiba-tiba menyala. Saya membayangkan jutaan lilin kecil. Seorang mahasiswa yang belajar sampai larut. Seorang atlet muda yang berlatih sebelum fajar. Seorang perempuan muda yang membuka usaha pertamanya dari dapur rumah. Seorang pemuda desa yang mengajari anak-anak tetangganya membaca. Tidak satu pun dari mereka merasa sedang mengubah sejarah. Tetapi begitulah sejarah berubah, satu kontribusi demi satu kontribusi.
Lilin punya satu keistimewaan yang selalu membuat saya optimistis. Ketika ia menyalakan lilin lain, cahayanya tidak berkurang sedikit pun. Ruangan justru menjadi semakin terang. Saya percaya bangsa ini akan tumbuh dengan cara yang sama, dan ada tiga karakter yang akan membuat cahaya generasi muda Indonesia semakin kuat: patriotik, gigih, dan berempati.
Note: Lanjut di kolom komentar…
Load More