Posted On: October 30th 2026, 09:54 am
BUNDARAN PASAR SENTRAL
Riuh Gelak Tawa dan Air yang Menyejuk, di bawah terik matahari Sulawesi Selatan yang menyengat, bundaran ini bukan sekadar titik lalu lintas. Dalam bidikan lensa Marko Philipus (1993–1994), kolam air di tengah bundaran berubah fungsi menjadi arena bermain yang meriah.
Anak-anak kecil tanpa beban menceburkan diri, tertawa lepas di tengah kepungan debu jalanan dan deru kendaraan tempo dulu. Di sisi jalan, bangunan-bangunan dengan papan nama ikonis seperti Agung berdiri kokoh, menjadi saksi bisu bagaimana kawasan perniagaan ini menjadi jantung keramaian warga kota. Tempat itu hidup, basah oleh keceriaan, dan sarat kehangatan komunal.
Kini suasana kontras menyambut mata. Kolam tempat anak-anak dulu berenang telah tiada—mengering, tertutup, dan berubah wujud menjadi undakan semen serta lanskap beton yang kaku. Bangunan-bangunan tua di sekitarnya masih setia berdiri, namun ada keheningan yang menyelimuti sudut bundaran tersebut. Kendaraan bermotor dan pete-pete terus berlalu-lalang, menggantikan riuhnya gelak tawa anak-anak di dalam kolam air.
Pasar Sentral selalu punya caranya sendiri untuk hidup. Ia adalah kuali meleburnya peluh pedagang, langkah kaki pemburu barang murah, dan memori kolektif masyarakat Makassar dari masa ke masa. Bundaran ini, dengan segala perubahannya—dari kolam keceriaan masa kecil hingga menjadi pelataran beton yang sunyi—mengajarkan kita satu hal: kota boleh berbenah dan bentuk fisik boleh berganti, tetapi cerita tentang denyut nadi manusia di dalamnya akan selalu abadi di setiap jengkal tanah Makassar [Marko Philipus, 1993–1994 &
@kamajayashagir, Oktober, 2026].
#makassar #oudmakassar #thenandnow Load More