Detik-detik Manusia terbaik dipanggil Sang Ilahi.
Inilah momen paling berat yang pernah disaksikan para sahabat, saat Madinah kehilangan sang Cahaya.
Sunyinya shalat terakhir beliau, berdiri terdiam sang Muadzin Bilal, lalu Umar bin Khattab yang menolak percaya, dan ditenangkan Abu Bakar As-Siddiq dengan kalimat: “Dan Muhammad hanyalah seorang rasul...” (QS. Ali Imran: 144).
Rindu yang tak bertepi pada beliau. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepadamu, Ya #Rasulullah. 🤍
kami rindu ya rasulullah 🥹🙏🏻
Pertanyaan seperti ini mungkin juga pernah terlintas di hati kita.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang Muslim tidak meninggalkan shalat hanya karena merasa belum bisa khusyuk dengan sempurna. Khusyuk adalah sesuatu yang terus diusahakan, bukan syarat yang harus sempurna sejak awal.
Selama seseorang melaksanakan shalat dengan memenuhi syarat dan rukunnya serta dilakukan dengan ikhlas karena Allah, maka shalatnya tetap sah. Adapun tingkat kekhusyukan akan memengaruhi besarnya pahala yang diperoleh. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ada orang yang selesai shalat namun hanya mendapatkan sebagian dari pahala shalatnya sesuai kadar kekhusyukannya.
Artinya, jangan jadikan kurangnya khusyuk sebagai alasan untuk menyerah atau meninggalkan shalat. Justru teruslah menjaga shalat, karena melalui shalat yang istiqamah, hati akan semakin dekat kepada Allah dan kekhusyukan pun akan terus bertumbuh.
Semoga Allah menerima setiap sujud kita, mengampuni kekurangan kita, dan menghadiahkan hati yang semakin khusyuk dalam beribadah. Aamiin. 🤲
💙 Yuk, bagikan video ini agar semakin banyak yang memahami bahwa kita tidak boleh putus asa dalam beribadah.
#GrahaYatimDhuafa #Shalat #Khusyuk #DakwahIslam #Islam
Ternyata, tidak semua orang yang sempat bergabung dengan imam otomatis dianggap mendapatkan shalat Jumat.
Ada batas yang disebutkan dalam hadis: mendapatkan satu rakaat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mendapatkan satu rakaat dari shalat Jumat, maka ia telah mendapatkan shalat tersebut.”
📚 HR. An-Nasa’i no. 1425. Terdapat pula riwayat sahih: “Barang siapa mendapatkan satu rakaat dari Jumat atau shalat lainnya, maka sempurnalah shalatnya.” HR. An-Nasa’i no. 557; dinilai sahih oleh Al-Albani.
Artinya, kalau seseorang datang ketika imam masih dalam rakaat kedua dan ia sempat mendapatkan rukuk bersama imam, ia mendapatkan satu rakaat Jumat.
Setelah imam salam, ia tinggal berdiri dan menambahkan satu rakaat lagi.
Tetapi kalau ia datang setelah rukuk rakaat kedua selesai, menurut pendapat mayoritas ulama ia tidak mendapatkan Jumat dan menyempurnakannya sebagai shalat Zuhur empat rakaat.
Jadi ukurannya bukan:
“Yang penting sempat ikut imam.”
Tetapi apakah kita masih mendapatkan satu rakaat bersama imam.
Detail kecil seperti ini mengingatkan kita bahwa ibadah bukan hanya tentang melakukannya…
tetapi juga mengetahui bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkannya.
Kalo jumpa Baginda Rasulullah ﷺ, mau ngomong apa? 😭
⠀
Yok perbanyak shalawat dan teladani sunnahnya, semoga bisa sesurga dengan Baginda Nabi ﷺ 🥹🤲🏻
⠀
Coming soon, new project of @aisyah_hafizind on @NgajilahTV YouTube Channel
Mungkin refleks kita adalah:
“Aku sudah shalat. Duduk saja.”
Tetapi pernah terjadi sesuatu yang menarik pada masa Rasulullah ﷺ.
Beliau melihat dua orang yang tidak ikut shalat bersama jamaah.
Beliau bertanya:
“Apa yang menghalangi kalian untuk shalat bersama kami?”
Mereka menjawab:
“Kami sudah shalat di tempat kami.”
Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:
“Jangan lakukan demikian. Apabila kalian telah shalat di tempat kalian, kemudian datang ke masjid yang sedang melaksanakan jamaah, maka shalatlah bersama mereka, karena shalat itu menjadi nafilah bagi kalian.”
📚 HR. Abu Dawud no. 575 dan At-Tirmidzi no. 219; At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.
Artinya, shalat pertama tetap menjadi kewajiban yang telah ditunaikan.
Sedangkan shalat kedua bersama jamaah menjadi shalat sunnah baginya.
Menarik, kan?
Kita mungkin berpikir:
“Ngapain shalat dua kali?”
Tetapi Rasulullah ﷺ justru mengajarkan agar dalam kondisi tersebut seseorang tidak memisahkan diri dari jamaah.
Kadang sunnah tidak selalu mengikuti apa yang menurut logika kita “paling efisien.”
Karena dalam Islam…
berjamaah juga memiliki nilai yang tidak selalu terlihat hanya dari hitungan rakaat.
Dalam video ini terlihat momen ketika Syekh Bandar Balilah memimpin shalat sebagai imam. Di saat yang sama, Syekh Maher Al Muaiqly tampak menarik Syekh Yasser Ad-Dossary yang berada di sampingnya agar shaf menjadi lebih rapat.
Tindakan sederhana tersebut merupakan bentuk penerapan sunnah Rasulullah ﷺ, yaitu merapatkan dan meluruskan shaf sebelum shalat dimulai.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
«سَوُّوا صُفُوفَكُمْ، فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ»
“Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf merupakan bagian dari kesempurnaan shalat.”
(HR. Bukhari No. 723 dan Muslim No. 433)
Semoga momen singkat ini menjadi pengingat bagi kita untuk selalu memperhatikan kerapian dan kelurusan shaf, karena hal tersebut termasuk sunnah yang sangat dianjurkan dalam shalat. 🤲
#massamakmortravel #explore #imammasjidilharam
Ada yang uda tau aturannya saat ziyarah ke makam Rasulullah ﷺ?
#slowumroh
🌙 ”Allah’tan başka ilah yoktur. O tektir, ortağı yoktur. Mülk O’nundur, hamd O’na mahsustur. O’nun gücü her şeye yeter. (Asıl güç ve kuvvet ancak Allah’ın yardımıyladır).”
✨Peygamber Efendimiz şöyle buyurmuştur: “Kim gece uyanır da bu duayı okursa günahları deniz köpüğü kadar da olsa affedilir. Eğer üzerine bir de dua ederse duası kabul olunur, kalkıp abdest alır ve namaz kılarsa namazı kabul edilir.” (Buhârî)
✨Yatmadan önce bu zikri tekrarlamak, insanı gece boyunca şeytanın kötülüklerinden ve kötü rüyalardan korur.
✨Peygamber Efendimiz yatağa uzandığında sağ tarafına döner, sağ elini yanağının altına koyar ve şunları da yapardı:
* 33 defa Sübhanallah
* 33 defa Elhamdülillah
* 34 defa Allahu Ekber derdi.
* İhlas, Felak ve Nas surelerini okuyup avucuna üfler ve bütün vücuduna sürerdi.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju salat dengan tenang dan penuh wibawa. Jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapati (bersama imam), maka salatlah. Dan apa yang tertinggal, maka sempurnakanlah.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 636 dan Sahih Muslim no. 602)
Para ulama menjelaskan bahwa maksud larangan ini adalah tidak berlari atau terburu-buru hingga menghilangkan ketenangan. Tetap dianjurkan untuk segera menuju masjid, tetapi dengan berjalan tenang. Bahkan jika khawatir tertinggal rakaat, Nabi ﷺ tetap memerintahkan agar menjaga sakinah (ketenangan) dan waqar (wibawa), bukan berlari.
Jazaakumullahu khairan atas bantuannya dalam produksi konten ini bang @fitraharis.batupahat @bapak.abim dan team 🤝😎
Malu kepada Rasulullah
#mbahnun
Banyak yang melihat jamaah laki-laki saat tawaf membuka bahu kanan (idhthiba’) dan mungkin bertanya-tanya:
"kenapa harus begitu?"
Ternyata ada cerita menarik di balik sunnah ini.
Umroh yang Tertunda
setahun setelah perjanjian hudaibiyah, Rasulullah ﷺ bersama sekitar 2.000 sahabat akhirnya kembali ke Makkah untuk melakukan umroh yang sempat tertunda
Munculnya Fitnah
Tapi waktu itu...Abu Sufyan yang saat itu belum masuk islam, menyebar kabar bohong, ia mengatakan "kamu lemah, terkena penyakit kuning". Ia mefitnah kaum muslimin agar kaum Quraisy menjauh dari kaum muslimin.
Perintah Rasulullah ﷺ
Supaya fitnah itu ngga makin menyebar, Rasulullah Saw. memerintahkan para sahabat membuka bahu kanan saat tawaf, dan berjalan cepat di tiga putaran pertama. Hal ini dilakukan untuk menjawab fitnah itu, membuktikan bahwa umat islam masih kuat dan penuh semangat.
Dari peristiwa itulah lahir sunnah membuka bahu kanan saat tawaf bagi laki-laki. bukan cuma kain yang dibuka, tapi juga makna & sejarah yang terus dikenang.
Oh yaa buat yang akan berangkat umrah di tahun ini, langsung aja pake Planner Umrah yang udah aku buat agar persiapannya terencana dan ibadah nantinya juga maksimal. Komen “umroh” yaa biar aku dm in linknya.