Instagram story viewer> @ane.jarot> Posts
1K
followers
1036
following
TIDAK ADA KOMPROMI, INI SAATNYA REVOLUSI
vini,Vidi,Vici
• legal collectiva movement
• since 1947
POSTS STORIES REELS TAGGED
Tindak kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, dan penindasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian telah menodai prinsip-prinsip keadilan yang seharusnya menjadi landasan dari negara ini. Polisi bukanlah alat pelindung rakyat, melainkan alat kekuasaan yang melanggengkan ketidakadilan.

Sebagai rakyat yang tertindas, kita harus mengingat kembali pandangan-pandangan kritis yang telah diajukan oleh para pemikir revolusioner, seperti Tan Malaka, dalam bukunya Masa Aksi. Tan Malaka dengan tegas mengkritik bagaimana struktur kekuasaan, termasuk aparat kepolisian, seringkali berfungsi untuk menjaga dan melindungi sistem yang menindas rakyat. Bukan hanya dalam konteks kolonialisme, tetapi juga dalam sistem sosial-politik yang ada setelah kemerdekaan.

Kita harus mengingat bahwa revolusi untuk keadilan sosial tidak dapat dicapai tanpa adanya perlawanan terhadap struktur kekuasaan yang menindas, Tidak ada tempat bagi kekerasan dalam demokrasi. Kita akan terus berjuang hingga setiap dosa polisi dihentikan, dan keadilan benar-benar terwujud! by @ane.jarot
4
2 years ago
Download
The man of sosial rekayasa

https://www.sidikmedia.com/pendidikan/68813923287/the-man-of-rekayasa by @ane.jarot
0
2 years ago
Download
"RESOLUSI KADER HMI DALAM MOMENTUM KEMERDEKAAN" 

Kemerdekaan Indonesia pada hakikatnya bukan hanya sekadar terbebas dari penjajahan fisik, tetapi juga perjuangan untuk mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.

 Sebagai organisasi kader umat dan bangsa, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki tanggung jawab moral, intelektual, dan sosial dalam mengisi serta mempertahankan kemerdekaan.

 Kemerdekaan Indonesia harus ditanggapi oleh kader HMI dengan sikap bersyukur, kritis, progresif, dan solutif. Bukan hanya menjadi penonton sejarah, tetapi kader HMI harus terus menjadi bagian dari pelaku sejarah dalam mengisi kemerdekaan dengan kontribusi nyata di berbagai bidang kehidupan bangsa. by @ane.jarot
2
a year ago
Download
"Berlindung di Balik ayat ayat Tuhan dan kata idealis, lalu berkompromi dengan Setan setan Kapitalis"

Transformasi struktural tidak pernah lahir dari ruang hampa historis atau kompromi reformis borjuis, melainkan dari kontradiksi material yang melahirkan benturan kelas. Dalam kerangka materialisme historis, kelas penguasa tidak akan pernah secara sukarela menyerahkan hegemoni ekonominya.

Oleh karena itu, gerakan revolusioner menuntut agensi politik yang radikal, sebuah kesadaran kelas yang mampu mendekonstruksi struktur akumulasi kapital global dan aliansi oligarki negara. Dalam pembacaan sosiologi kritis yang disandingkan dengan Teologi Pembebasan Islam, tauhid bukan sekadar teologi transendental yang steril, melainkan sebuah manifesto pembebasan sosial.

Kalimat tauhid secara epistemologis adalah penolakan radikal terhadap segala bentuk legitimasi tuhan-tuhan palsu modern, pemilik modal, negara opresif, dan imperialisme. Al-Qur'an secara konsisten menempatkan posisi kaum tertindas (mustadh'afin) sebagai subjek sejarah utama yang harus diabstraksikan kesadarannya untuk melawan kaum borjuis dan kapitalis birokrat (mustakbirin).

Perubahan sosial (taghayyur ijtima'i) menolak fatalisme historis dan mensyaratkan intervensi politik revolusioner di mana struktur eksploitatif harus dirombak secara total, bukan sekadar ditambal dengan amal filantropis yang melanggengkan penundukan kelas. Refleksi atas gagasan besar ini menemukan momentum getirnya ketika ditarik ke dalam cermin besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) secara nasional hari ini.

HMI, yang di atas kertas dihidupi oleh api Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai pisau bedah profetik, kini tampak berjalan pincang di tengah badai kapitalisme global dan oligarki. Alih-alih menjadi garda depan intelektual yang memimpin kesadaran massa tertindas, tubuh organisasi ini sering kali terjebak dalam sterilnya birokrasi kampus dan pragmatisme politik praktis. 

Mesin pengkaderan merosot sekadar menjadi pabrik administratif yang memproduksi teknokrat-teknokrat borjuis dan pencari rente kekuasaan, alih-alih kader revolusioner yang turun ke basis-basis buruh, tani, dan kaum miskin urban. by @ane.jarot
22
10 days ago
Download
Dalam perspektif dialektika kekuasaan, eksistensi kaum mustakbirin merepresentasikan manifestasi hegemoni struktural yang beroperasi melalui reproduksi relasi dominasi, subordinasi, dan marginalisasi terhadap entitas sosial yang lebih lemah.

Konfigurasi semacam ini tidak hanya menciptakan asimetri distribusi sumber daya, tetapi juga melahirkan normalisasi ketimpangan melalui instrumen-instrumen ideologis yang bekerja secara sistemik. Oleh karena itu, konsolidasi kesadaran kolektif rakyat merupakan prasyarat historis bagi terbentuknya kontra-hegemoni yang mampu mendekonstruksi legitimasi kekuasaan yang eksploitatif. 

Dalam kerangka tersebut, persatuan rakyat bukan sekadar artikulasi solidaritas sosial, melainkan sebuah praksis emansipatoris yang berfungsi mentransformasikan kesadaran individual menjadi kekuatan politik yang berorientasi pada pembebasan. 

Sejarah menunjukkan bahwa setiap rezim dominasi yang bertumpu pada watak istikbar pada akhirnya akan berhadapan dengan kontradiksi internalnya sendiri, sementara rakyat yang berhasil mengorganisasikan kesadaran kritisnya akan menjadi aktor utama dalam proses delegitimasi dan dekonstruksi tatanan yang represif menuju formasi sosial yang lebih berkeadilan. taken in Kantor Pertamina Pusat by @ane.jarot
31
4 months ago
Download
Fenomena pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang tak kunjung terselesaikan, bahkan cenderung mengalami eskalasi kuantitatif maupun kualitatif, merefleksikan adanya problem struktural yang inheren dalam sistem hukum dan tata kelola negara. Dalam perspektif normatif, negara sesungguhnya telah memiliki perangkat hukum yang relatif komprehensif baik melalui konstitusi, undang undang, maupun ratifikasi instrumen internasional. Namun, dalam praktiknya, terjadi gap yang signifikan antara das sollen (apa yang seharusnya) dan das sein (apa yang terjadi).
Salah satu akar persoalan terletak pada lemahnya political will dalam penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM, khususnya yang bersifat berat.

Negara kerap terjebak dalam ambiguitas sikap, di satu sisi mengakui pentingnya penegakan HAM, namun di sisi lain enggan menuntaskan kasus yang berpotensi membuka keterlibatan aktor aktor kuat, baik dari unsur negara maupun non negara. Akibatnya, impunitas menjadi pola yang berulang, menciptakan preseden buruk bahwa pelanggaran HAM dapat terjadi tanpa konsekuensi hukum yang tegas.

Selain itu, problem kelembagaan juga menjadi faktor krusial. Institusi penegak hukum sering kali tidak memiliki independensi yang memadai, baik karena tekanan politik, keterbatasan kewenangan, maupun konflik kepentingan. Hal ini diperparah dengan lemahnya koordinasi antar lembaga, sehingga proses penanganan kasus HAM cenderung stagnan dan berlarut larut. Dalam banyak kasus, mekanisme penyelidikan dan penyidikan tidak berjalan secara efektif, bahkan berhenti pada tahap administratif tanpa tindak lanjut substantif.

Secara sosiologis, kondisi ini menciptakan krisis kepercayaan publik terhadap hukum dan negara. Ketika korban tidak mendapatkan keadilan, sementara pelaku tidak tersentuh, maka legitimasi hukum mengalami delegitimasi. Masyarakat kemudian melihat hukum bukan sebagai instrumen keadilan, melainkan sebagai alat kekuasaan yang selektif. Dalam jangka panjang, situasi ini berpotensi melahirkan siklus kekerasan baru, karena ketidakadilan yang dibiarkan akan memproduksi resistensi sosial. by @ane.jarot
5
7 months ago
Download
Setia pada gerakan berarti siap tidak disukai kekuasaan.

"Pramudya Ananta toer" by @ane.jarot
18
8 months ago
Download
“Sebuah revolusi sosial tidak berlangsung atas perintah seorang tokoh dengan teori yang sudah jadi, atau sabda seorang nabi. Revolusi organik yang sesungguhnya adalah buah dari kehidupan universal, dan meskipun revolusi ini punya para pewarta dan pelakunya sendiri, ia bukanlah kerja dari satu orang saja.”
— Pierre-Joseph Proudhon Photo by A.C.A.B on January 17, 2026. Mungkin gambar keramaian dan teks. by @ane.jarot
8
9 months ago
Download
"Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai institusi kaderisasi intelektual-religius
 menempati posisi strategis dalam konfigurasi dinamika sosial-kultural kontemporer"

Secara historis, HMI merepresentasikan sintesis antara epistemologi Islam normatif dengan praksis sosial transformatif, membentuk suatu paradigma kaderisasi yang tidak semata-mata bersifat reproduktif, melainkan juga kreatif-responsif terhadap arus perubahan struktural maupun kultural.

 Dalam konteks globalisasi dan disrupsi teknologi, HMI menjalankan proses dialektis mengintegrasikan nilai-nilai teologis-ideologis ke dalam kerangka adaptasi progresif terhadap zeitgeist sehingga melahirkan subjek historis yang memiliki kompetensi kritis, kesadaran reflektif, dan kapasitas intervensi strategis dalam ranah publik. 

Dengan demikian, keberadaan HMI tidak sekadar berperan sebagai agen konservasi nilai, tetapi juga sebagai katalisator transformasi peradaban yang berorientasi pada keadilan sosial, kemaslahatan publik, dan kemajuan umat manusia.

#yakusa 
#hmi Photo shared by A.C.A.B on August 10, 2025 tagging @hmikaderumat, @hmi_tarbiyahstai, @bplhmicabpwk.id, @hmi_syarda, and @officialhmicabangpurwakarta. Mungkin gambar 1 orang, turban, barong dan teks. by @ane.jarot
50
a year ago
Download
Mengutip dari buku Tan Malaka: yang bertajug tentang perjalanan revolusionernya sebagai masyarakat yang di asingkan oleh pemerintah Republik Indonesia (2017) karya Masykur Arif Rahman. Tan Malaka telah menjelaskan dengan gamblang terkait revolusi sosial. 

"Satu kelas atas satu bangsa yang tidak mampu melemparkan peraturan-peraturan kolot serta perbudakan dengan perantaraan revolusi, niscaya musnah atau ditakdirkan menjadi budak buat selama-lamanya." 

Tan Malaka menyoroti bahwa kelas atas dalam suatu masyarakat yang tidak bersedia mengubah struktur yang menindas melalui revolusi, akan berakhir hancur atau terus menderita. 

Hal ini menekankan pentingnya perubahan sosial dan politik yang radikal dalam memperjuangkan keadilan sosial. by @ane.jarot
15
2 years ago
Download
Api perlawanan yang digelorakan oleh para "maestro agent of change" ini terus menjadi momok rezim pada kala itu dan kini.

 Semakin ditekan semakin melawan, semakin dibakar semakin berkobar. Maka benarlah apa yang di ucapkan oleh Mao Tze Dong pada saat itu, "Bakarlah rumput dari yang paling kering."

 Maka rumput rumput kering itu kemudian adalah gerakan mahasiswa, dan kesalahan rezim kala itu hingga kini adalah membakarnya hingga kemudian rumput kering itu melahirkan sebuah api api perlawanan by @ane.jarot
4
2 years ago
Download
Memobilisasi masa dalam sebuah kemuakan yang ada, hari ini apalagi yang bisa kita harapkan kepada tikus tikus itu. 

Panjang umur pergerakan by @ane.jarot
2
2 years ago
Download

Download All

Save the photos and videos currently loaded on this page.

0Photos
0Videos
Ready to download 0 / 0

Keep this tab open until your download is ready.

back to up