Instagram story viewer> @babasiumed> Posts
2.1K
followers
1225
following
AMEKYRANO || biasaluarbiasa || IDEA&KAWA
POSTS STORIES REELS TAGGED
Download All
Sebetulnya posting tentang koleksi ini pernah saya posting di akun lama yang menghilang. Agak males juga posting lagi karena mesti nulis caption dan tentunya nyari album koleksi yang terlupakan nyimpennya. Dan terutama anggapan 'nanaonan sih maneh?' akan muncul lagi. Tapi karena liat postingan paman @juliuzickboy , saya merasa ada teman senasib. 

Gak ada alasan melangit sih, dulu pertama ngumpulin. Lebih karena mahasiswa kere yang iri sama temennya yang punya koleksi komik, tiket konser, pasir pantai dari berbagai pantai yang pernah ia kunjungi, uang logam seratus berat, uang kuno, batu akik, sepatu, topi, jam tangan atau sebut aja koleksi apa lagi yang ada. 

Semua hobi koleksi tadi melibatkan keuangan yang cukup lumayan. kalo label makanan ringan kan bisa sambil jajan atau nemu. Atau minta ke orang.

Meski di kemudian hari jika ditanya akan muncul alasan yang dijiga-jiga. Membayangkan semua merk itu berkumpul untuk meruntuhkan kapitalis, misalnya. Meski akhirnya menjadi kapitalis baru. Sok-sokan peduli desain, lah, alasan lainnya. Atau kalo males balik ke jawaban paling sederhana; iseng. 

Tapi si iseng ini teh sempet jadi candu. Iya, sempet. Karena sekarang udah gak begitu intens nyari. Apalagi karena nomaden nebeng kost sama temen, satu tumpukan hilang.  Kebuang. Candu itu ketika liat gaya desain (nah, kan, so paham desain) mereka tuh balodor. Nama yang mindblowing, teknik pake tulisan tangan, media dari kertas bekas, penulisan halal yang paduli teuing, atau ijin usaha gak kalah bajred. 

Hal tersebut bikin ngakak. Asli candu. Percaya atau tidak, sambil nulis ini muncul telah nyari lagi, lah. 

Sial!

*Demi meramaikan khazanah giniginian, ijin tag juga yang di-tag @juliuzickboy taken in Darul Arqam Muhammadiyah Garut by @babasiumed
31
3 years ago
Download
Akan kuhadapi 2024 ini meski kadang déngdék.
Atau sesekali gohgoy taken in Ma'had Darul Arqam Garut by @babasiumed
31
3 years ago
Download
Ini saya memakai akun kedua. Akun bekas dadagangan dulu. 
Maaf yang belum difollow. Berkabar yaw...! by @babasiumed
7
4 years ago
Download
Belakangan, ingatanku tentang kematian lebih sering menghinggapi.

Di usia yang mulai akrab dengan vitamin dan makanan sehat. Di lini masa ketika banyak suudzan dengan angin yang agak kencang lalu bersandar dengan baju hangat. Di waktu ketika fraktal-fraktal masa tangguh menjadi memori indah. Lalu Zoom out.

Paling sederhana, imajinasi saya seperti ditarik ke momen ujian lisan untuk pelajaran yang sangat misterius. Lalu peserta ujian dipanggil satu persatu dengan absensi random; atas-bawah-tengah. Sesekali nama unik karena memang nama yang tak biasa atau paling pendek atau malah sangat panjang. Atau tiba-tiba nama berikutnya bisa berdasarkan tanggal, bahkan jumlah jendela. Tak menduga siapa berikutnya.

Uniknya, peserta yang sudah beres, ia hanya memberikan kisi-kisi standar. Mereka bisa atau tidak menghadapinya ekspresinya sama aja; beres. Sudah.

Kali ini makin kuat. Cecep Abdurrahman, teman seangkatan meninggal ketika di perjalanan setelah menjemput kakaknya yang sakit ia menepikan mobilnya dan sesaat kemudian melemah dan wafat. Agustus lalu jantungnya sempat dipasang ring dan membaik. Hari ini pun sehat saja. Maut memang tidak mensyaratkan sakit atau sehat.

Selain teman seangkatan selama 6 tahun, cecep juga yang meyakinkan bahwa saya bisa bercerita melalui tulisan. Ia begitu takjub band kebanyakan bumbu tapi standar bahan baku yang ia jadi vokalisnya, bisa saya bikin tulisannya sebagai jembatan. Menjadi pemanis bahan baku. Saat itu juga ia menawari saya bikin story telling beberapa band untuk promo di radio. Salah satunya ST12 di kelahirannya di blantika musik. Dan Andre Taulany pertama solo.

Tentu ingatan di atas adalah sekelumit kecil. Sangat.

Wilujeng miang ka alam kalanggengan, Cep.
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. by @babasiumed
8
25 days ago
Download
MENGIMANI LIRIK SANTRI ABAD DUA HIJI.

Berasa pisan dulu nganter @idea.kanaka mau mondok. Dengan segala pertahanan emosional, mencoba menanyakan keteguhan hatinya memilih mondok. Alhamdulillah, ia tegar dan tanpa drama, saya juga kuat dan tenang.
Wejanga tentang  dia harus beradaptasi dengan dunia baru. Sekarang mah dunianya justru mulai lebih besar dari pengawasan kita. Selera musik yang asing. Cara komunikasi antar mereka yang tak jarang pusing.

Temannya makin beragam. Pikiran makin keras kepala. Pertanyaan makin banyak. Dan jawaban orang tua tak selalu menjadi jawaban terakhir.

“Nya da geus waktuna”. Kata saya pada bumminya.

Baba-bummi tidak lagi selalu mengatur, tapi mulai berdiskusi. Bukan selalu menjaga, tapi belajar percaya. Bukan selalu menjadi kompas, tapi menjadi rumah. Sebab anak tidak selamanya perlu berada dalam jangkauan mata.
Bahkan di ikrar akil baligh, sebagaimana disampaikan mudir @irfanamalee bahwa ortu gak lagi wajib memberi uang selain shadaqah. Artinya, biaya yang dikeluarkan di luar keperluan sekolah, itu murni sedekah saja. Teteh kanaka sudah harus mulai cari pemasukan alternatif.

Harapan baba-bummi mah sederhana: ketika suatu hari ia berjalan jauh tanpa bababummi, nilai-nilai yang pernah kita tanam masih ikut berjalan bersamanya. Ngagedat dina hate jeung kalakuan.

Sudah baba sampaikan kalo SMA bukan cuma naik kelas. Tapi ini latihan pertama menuju satu hal yang lebih besar: belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Dan kami? Kami selalu meyakini akhir lirik lagu santri abad dua hiji. Masih belajar juga. Belajar melepaskan, tanpa pernah benar-benar pergi. taken in Ma'had Darul Arqam Garut by @babasiumed
17
a month ago
Download
Punten abi teu gaul.
Muhun abi telat.

Kalo gak difollow @ajiekartanata, saya gak akan tau ada band @sayentisofficial ini. Kurang ajar ieu band. Bikin aduh-alah-ieung hanya 1 menit pertama.

Siapa yang tak guling gasah elekesekeng geblag geblug ketika di menit-menit awal muncul suasana sakola agama, talaran surat pendek, disuapin angeun kacang sambil sepedahan, dan rasa exited susah tidur malam minggu yang bukan buat pacaran tapi menunggu serunya nonton film kartun di tv dari pagi. Belum lagi perasaan senang karena mixtape lagu pilihan beli dari radio sudah bisa diambil.

Vibes 90-an, njirr, ah!

Buat yang akrab placebo, garbage, hole, smashing pumpkin, suede, blur, rancid, bahkan portishead serta deretan MTV alternative nation lainnya, saya menangkap spirit itu di sayentis. Tidak mungkin juga para personel hanya membuat lagu yang sekadar kena enak, kan. Pasti punya referensi keren dan kuat sebagai musisi mah.

Ah, penasaran materi lainnya euy. Sing manjang jeung konsisten, gais. Tong cape riset dan mencoba.

Hampura ji, di, ruq. Abi teu gaul. taken in Ma'had Darul Arqam Garut by @babasiumed
13
2 months ago
Download
Belakangan saya makin yakin kalau urusan sepatu, saya lebih memilih bekas tapi original daripada baru tapi palsu. Bukan sekadar soal merek, tapi soal kualitas, daya tahan, dan menghargai barang yang memang dibuat dengan baik.

Kemarin saya belanja di @jhonthrift__ . Di balik akun itu ada Reza, orang yang saya tahu punya selera tinggi soal sepatu. Dia bukan cuma memilih yang tampilannya bagus, tapi juga memastikan barang yang dijual benar-benar original.

Yang bikin saya makin senang, ternyata ada program yang menurut saya sederhana tapi menyentuh: beli satu, gratis satu untuk diberikan kepada siapa pun yang membutuhkan. Saya ikut program itu. Sepatu yang saya beli sesuai ekspektasi, sementara sepatu bonusnya saya berikan untuk anak saya sendiri yang memang selama ini hanya punya satu pasang sepatu.

Saya baru tahu kalau gerakan ini terinspirasi dari film Children of Heaven. Sebuah pengingat bahwa sepasang sepatu bisa punya makna lebih besar daripada sekadar alas kaki. Kadang ia menjadi bentuk perhatian, berbagi, bahkan menjaga harga diri seseorang.

Kalau memang sedang mencari sepatu, saya rasa ini salah satu cara belanja yang sama-sama menguntungkan. Kita mendapatkan sepatu original berkualitas, sekaligus ikut menjadi bagian dari sebuah kebaikan.

Karena pada akhirnya, bukan cuma soal apa yang kita pakai, tetapi juga tentang jejak baik yang ikut kita tinggalkan. taken in Ma'had Darul Arqam Garut by @babasiumed
6
3 months ago
Download
Tahu banget sama band ini. 
Tahu banget bagaimana mereka membangun dan mencoba bertahan di arus musik yang saat itu didominasi metal dan emo.

Komeng adalah anomali. Referensi musik sekaligus visi tentang bagaimana musik akan melaju dan bertumbuh ia perhitungkan secara cermat. 

Dan under the big yellow sun adalah sekawanan orang yang membangun itu tahap demi tahap, sedikit demi sedikit, berkelindan perih dan letih yang mewarnai. Karena saya tahu banget personel yang punya alat musik pun mungkin hanya satu orang. Sisanya patungan untuk sewa tempat latihan ke tempat latihan. Sisanya adalah muka tebal meminjam alat demi alat kepunyaan teman yang lain.

Itu cerita 20 tahun yang lalu. Dan di 20 tahun kemudian, under the big yellow sun, mengukuhkan diri sebagai band post rock yang punya ceruk kecil tapi cukup loyal.

PostRock adalah musik yang tanpa lirik. Jadi interpretasi dikembalikan kepada yang mendengarkan. Uniknya di under the big bright yellow sun, postrock tidak melulu kesedihan dan patah hati. Iya bisa beringas dan mampu bikin kerumunan moshing

Saat ini Komeng dan teman teman sedang di negeri Cina. Mungkin sedang mengamalkan pepatah lama; “Carilah gigs sampai ke negeri Cina”.

HAJAR TERUS JALANAN, BRAD! taken in Darul Arqam Muhammadiyah Garut by @babasiumed
21
4 months ago
Download
VIVA LA HFC!

Di kumpulan angkatan:
Orang-orang berbicara kebanggaan. Keseruan. Pencapaian. Sedikit pamer.
Ating nyeletuk: “bungah, teu?”

Tentu ke sananya tergantung jawaban. Mun bungah, ya alhamdulillah ikut senang. Kalo tidak, coba pikirkan dan cari lagi pekerjaan yang dibarengi bungah.

Kyai ating emang unik. Celetukannya sepersekian detik mampu menyentil alam bawah sadar untuk mengunjungi kembali lembar hakikat. Ngingetin kalo (biasanya) sering tertawa, justru paling lama menangis diam-diam.

Seringkali hal tersebut memberi pesan ke teman yang lain. Enya oge keliatan kuat, loba heureuy, dan selalu jawab ‘woles’. Bisa jadi malam sebelumnya menjumlah total hutang menggunung yang mencekik. Menahan pertengkaran keluarga. Juga bingung esok Rek kumaha? Nyatanya dunia terlalu sering melihat wajah, bukan luka. Dan lagi-lagi kyai ating punya seloroh antik terkait wajah: “da beungeut mah etalase-na hate”. Tentu pembuktiannya bukan hanya melihat sepintas di media. Tapi di dalam obrolan forum. Atau obrolan mendalam.

……….

Sejak kecil banyak orang diajari untuk tahan banting. Jangan cengeng. Jangan mengeluh. Akhirnya kita tumbuh menjadi manusia yang pandai menyembunyikan rasa hancur.

Geblegnya jaman Media sosial ayeuna membuat semuanya tampak baik-baik saja. Foto terlihat bahagia. Tawa terdengar lepas.
Padahal setelah kamera ditutup, banyak yang kembali bertarung dengan pikirannya sendiri. Ngahuleng tarik deui.
Rek ngomong sieun batur teu paham. Cicing weh, teuleum weh nyorangan.

Kalau hari ini hidup terasa buntu, saya percaya ilustrasi ini:
“Mun ngarasa keur tengah peuting pisan, poek, pareum listrik.. Wayahna, sing sabar bari tuluy usaha. Sabatae bakal manggih pucunghul srangenge!”

Jadi kalau kamu melihat seseorang terlihat baik-baik saja, jangan iri terlalu cepat. Dan kalau kamu sendiri sedang pura-pura kuat, tak apa sesekali mengaku lelah.

Karena tidak semua senyum datang dari bahagia. Nu pasti mah kudu ‘bungah’ nya ting? by @babasiumed
4
5 months ago
Download
Jaman asa ku arantik. Baheula nyieun karya teh meh didenge. Ayeuna nyieun piomongeun wae diitung. Nu lempeng disebut bosen. Nu reflektif eleh ku nu reaktif. Nu mundel daging tilem ku nu gogorowok.

Konten alus masih aya. Konten inspiratif juga tidak hilang. Tapi ruangnya beuki sempit da algoritma mah teu boga moral. Teu peduli sebuah video teh mencerahkan atau memalukan. Yang dihitung hanyalah: berapa lama orang berhenti scroll, berapa banyak orang terpancing komentar, berapa ramai orang saling lempar emosi.

Di titik ieu, ceuk ceng Debord nu urang Prancis mah urang teh sedang dalam ‘masyarakat tontonan’. Kabeh nilai kumaha nu ka tonton. Lain urusan makna deui. Matakna jadi bias oge paguneman saya dengan KH. @shaftean. Apakah kita sedang memuji sebuah konten atau kita sedang moyok. Ironis, yes? Bias itu teh jadi komoditas. Moyok, geuleuh, hujatan, dan stigma negatif lain jadinya sebanding jeung kritik yang niatna ngabangun.

Kita merasa sedang menghukum kreator dengan komentar sinis. Padahal manehna justru sedang memberi oksigen tambahan pada algoritma. Semakin dibenci, semakin naik. Semakin dicemooh, semakin direkomendasikan. Cuan, cenah. Dina imeutan kuring, ieu tragedi. Keur populer teu butuh penghormatan. Cukup perhatian siga tadi.

Keur di madrasah baheula pernah ngadenge kyai Baudrillad ngagunemkeun hiperrealitas jeung sabalad. Manehna ngomongkeun dunia simulasi. Tulus jeung settingan beuki teu jelas. Nu seuri lain lantaran lucu, tapi pedah usum. Nu ngacacang lain karena peduli, tapi nya hayang eksis weh dina riributan. Apal meureun siga nu kumaha?
Kita klik ‘like’ teh mangrupakeun dukungan? Sindiran? Atawa nyirian; “aing nyaho riributan jeu.

Poe ieu, loba kreator tidak lagi takut dicap buruk. Karena yang lebih menakutkan dari citra jelek adalah: sepi. Kdieunan ku tiiseun mah, gus.
Antukna lahirlah perlomban paling absurd dalam sejarah medsos saha nu paling aneh, paling vulgar, paling melampaui batas, dialah yang paling mungkin menang pasar. Dan kapitalisme digital menyukainya. Selama engagement naik, semuanya bisa dinegosiasikan. Marah dihitung. Benci dihitung. Cemooh dihitung. Bahkan kehancuran martabat pun bisa dimonetisasi.
(Tuluykeun di komenan, ah) taken in Klinik Darul Arqam by @babasiumed
10
5 months ago
Download
Kangen nulis.
Cukup lama juga saya gak nulis. Bahkan antiknya; jaman sekarang nulis jadi makin mudah. Tinggal minta, pengen apa, terus jadi.
Gancang. Tereh. Rapi dan terstruktur. Bisa jadi ‘aing banget’ dibanding tulisan aing sorangan.

Ngeri pisan aslina. Lain sabab teknologina (terngiang “TEKNOLOZIA!”), tapi si diri yang jadi punya cara baru untuk teu jujur. Teu saujratna. Takut dikomentari yang tak dalam koridor kuasa jawab.

“Hei, tulisan. Kamu kangen saya, teu?”
Gitu kali kalo bahasa cerpen mah. Bahkan nulis #UNSENTLETTER yang bukan untuk dipublikasikan pun saya lupa. Surat untuk mamah yang bisa nulis tentang apa saja. Seolah mamah bakal nanya “ini pake bantuan AI teu, a?”

Hei, tulisan.
Sekarang kamu punya saingan. Dia gak pernah lelah dan jauh dari kata buntu. Sementara saya, malah sering nunda dan dihantui ketakutan dianggap seperti si saingan.

Dulu, saya datang dan menemui tulisan bukan untuk terlihat cerdas. Gak ada unsur songong pengetahuan bahkan flexing. Tapi demi untuk mengerti pikiran dan oerasaan sendri.
…
Tappi Bisa jadi itu masalahnya. Make AI nu cepat jadi itu tulisan, yang makin merosot kawani keur nulis jeung kawani ngahiap komentarnya.
So, dengan tulisan ini, saya mencoba lagi menulis. Pilihannya cuma dua: pilih cepat tanpa rasa atau hilang. Jika terus memilih yang instan bukan tulisan saya yang hilang.
TAPI SAYA.

Bismillah, ah! taken in Klinik Darul Arqam by @babasiumed
5
5 months ago
Download
Tipis-tipis setelah Lebaran. taken in Lapang Golf Ngamplang by @babasiumed
2
6 months ago
Download
×

Download all media on this page

Photos Videos
back to up