Instagram story viewer> @fachrieafif> Posts
POSTS STORIES REELS TAGGED
Download All
Kami punya prinsip yang tidak pernah kami rumuskan secara eksplisit sampai suatu hari kami menyadari bahwa kami sudah lama menjalaninya: mencintai tanda tanya. Bukan sebagai sikap yang romantis, tapi sebagai posisi yang jujur. Azma adalah misteri yang tidak akan pernah selesai saya pahami, karena ia terus menjadi dirinya sendiri, terus bergerak, terus menghasilkan makna baru dari pengalaman yang bahkan saya saksikan bersama. Pemahaman yang paling akurat tentang seseorang, dalam penghayatan kami, adalah yang terus bertanya, bukan mengakhiri dengan kesimpulan. Setiap kali saya merasa sudah tahu siapa Azma, ia memperlihatkan sesuatu yang belum pernah saya lihat. Hal tersebut menandakan bahwa saya sedang mencintai seseorang yang sungguh-sungguh hidup. Itulah kenapa, mencintai tanda tanya adalah cara paling jujur untuk hadir dalam sebuah relasi.

....
Thanks to all vendors
WO: @halopro_weddingplanner
FG & VG: @amsterdam.story & @blooma.film
MUA: @ica_ikhlas
ATTIRE: @the.alees
HENNA & NAIL: @yumna.hennaart
HIJAB DO: @tndrywuldary
MC: @mc.qilafadiaa
DECOR: @esem_decor 
VENUE: @daltonmakassar 
PHOTOBOOTH: @glowishphotostory 
ENTERTAIMENT: @rio_gambus_makassar
WCC: @wcc.bydinda taken in Hotel Dalton Makasar by @fachrieafif
1
2 months ago
Download
A little more from our sacred moments. 

•••
MUA mappacci: @royahbeautymakeup 
MUA akad: @panimakeup_brush 
Photographer: @_lightphoto 
Videographer: @imbajaya 
Photographer marola: @dailynesiaa 
Attire & Decoration: @firdaustn 
Hairdo: @ardhyham_11 
MC: @mia_jufr 
Henna: @shintahennapinrang5 
Traditional entertainment: @sanggar.sawittoart.pinrang 
WCC: @fikreativ.wcc 
Seserahan: @sygmama.project by @fachrieafif
7
2 months ago
Download
🪜✍️👁️
.
From prewedding of 
Azma & Afif
.⁠⠀ 
.
#mahemoto
.
#prewedjakarta #prewedddingshoot  #preweddingcasual #preweddingstyle taken in Indonesia by @fachrieafif
6
3 months ago
Download
Bincang Santai Episode 14!

Di episode kali ini, @darmawan_rasidi ft @fachrieafif ngajak kita ngobrolin tentang tradisi pesantren, kehidupan kampus, serta tips & trik untuk mahasiswa/i baru agar nggak cuma pintar mengejar IPK, tapi juga matang dalam ilmu, adab, dan kehidupan. Sebab, kebodohan adalah azab terpedih bagi mahasiswa. 

Lantas, bagaimana caranya menjadi mahasiswa yang benar-benar paripurna, bukan sekadar mahasiswa yang sibuk kuliah?

Simak Bincang Santai Episode 14 dan temukan jawabannya hanya di kanal YouTube Nuralwala!

#BincangSantai #Nuralwala #MahasiswaParipurna #MahasiswaBaru #Pesantren #KehidupanKampus #TradisiPesantren #TipsMahasiswa by @fachrieafif
4
2 months ago
Download
Pertanyaan paling jujur yang saya ajukan kepada diri sendiri setiap kali masuk kelas adalah: apakah saya datang untuk memberikan jawaban, atau untuk memperumit pertanyaan?

Tim Winter, dalam esainya “Education as ‘Drawing-Out’”, menggali sesuatu yang kita hampir biarkan mengendap tanpa pernah diperiksa. Kata education berasal dari e-ducere (menarik keluar dari dalam). Winter menunjukkan bahwa tradisi Islam punya cara sendiri untuk memahami ini lewat konsep ‘aql, yang dalam pengertian paling awal bukan berarti “pikiran” dalam arti sempit yang kita warisi dari Descartes, Kant, atau Hegel. ‘Aql bermakna kendali diri, menahan (‘aqala al-ba‘īr, mengikat unta agar tak lari), dan pertanggungjawaban moral. Ia menyentuh tubuh, intelek, dan ruh sekaligus. Bagi al-Ghazālī, tiga dimensi ini tidak hidup sendiri-sendiri; memotong salah satunya adalah cara paling efisien untuk menghasilkan manusia yang dangkal. Itulah kenapa, sosok yang kita sebut “terdidik” ternyata bisa jadi orang yang justru berkontribusi dalam memutus ketiga jalur itu.

Yang membuat Winter menarik bagi saya, ia menulis bahwa kementerian-kementerian pendidikan Muslim modern yang meniru model Barat secara diam-diam menghancurkan apa yang ia sebut “metabolisme ganda” (madrasa dan lodge Sufi) yang selama berabad-abad menjaga keseimbangan antara naẓar (penalaran sistematis) dan dhawq (citarasa spiritual). Keduanya bubar. Yang tersisa adalah kurikulum yang menghasilkan rasa keislaman yang emosional dan samar, tapi tidak melatih kapasitas berpikir yang serius, dan juga tidak menyediakan kedalaman spiritual yang otentik. Charles Taylor menyebutnya felt flatness (kerataan yang terasa). Itulah yang kita warisi, dan itulah yang sering saya rasakan juga di dalam ruang kelas.

Maka ketika saya meminta mahasiswa saya untuk menangguhkan jawaban, untuk tinggal sebentar di dalam pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai, saya tidak sedang melakukan eksperimen pedagogi. Saya sedang mencoba merawat sesuatu yang mudah sekali hilang, yaitu kenyamanan dengan kompleksitas, dan kepercayaan bahwa proses berpikir yang lambat itu bukan kelemahan. Ia adalah KONDISI AWAL DARI, SEKALIGUS BENTANGAN JALAN MENUJU, PENGETAHUAN YANG BENAR. taken in UIN Sunan Gunung Djati Bandung by @fachrieafif
1
3 months ago
Download
Setelah satu semester berlalu, saya merasa bahwa semua kelas yang saya bersamai itu seperti laboratorium kecil; sebuah ruang uji bagi cara kita menjalani kehidupan. Di kelas, saya mengajar dengan menghadirkan horizon Nietzschean—sebagai cara membaca ulang apa itu belajar, apa itu menjadi manusia, dan apa itu “pendidikan” ketika dunia terus mendorong kita jadi sekadar fungsional. Saya mengajak mahasiswa untuk belajar menunda vonis cepat, memutar satu isu dari banyak sisi, dan berani bertanya “dari perspektif siapa kita bicara?” atau “bahasa apa yang kita pakai untuk menamai pengalaman ini?” Tujuannya adalah untuk menajamkan pemahaman sekaligus memperkaya perspektif kita.

Pada saat yang sama, saya tidak menjual kebebasan instan. Ada disiplin yang harus ditempuh di sana: membaca pelan, menulis ulang argumen, menguji premis, dan merevisi berkali-kali sampai ide-ide itu benar-benar punya bentuk. Pada titik tersebut, self-overcoming bekerja sebagai latihan menata dorongan-dorongan kita—malas, takut salah, ingin cepat selesai—agar berubah menjadi daya (ketahanan belajar, keberanian berpikir, dan kejujuran intelektual). Di era perbandingan tanpa henti, saya juga berusaha menjaga agar ruang kelas tetap sehat dari ressentiment—kecenderungan menyamarkan rasa kalah menjadi sinisme, meremehkan yang unggul, atau mencurigai standar seolah ia adalah musuh. Kami juga belajar membedakan kritik yang jernih dari dengki yang menyamar, lalu memilih respons yang lebih membangun—bertanya, memperbaiki, dan mengakui keunggulan orang lain tanpa merasa diri dikecilkan.

Pada akhirnya, seluruh proses perkuliahan saya orientasikan kepada pencarian terhadap, dan penemuan atas, autentisitas.Saya mendorong semua mahasiswa untuk memetakan diri mereka secara jujur—kondisi nyata, batas, kemampuan, dan situasi hidup mereka—lalu menghubungkannya dengan arah yang ingin mereka pilih sebagai proyek hidup. Belajar menjadi autentik berarti memiliki pikiran sendiri: memahami posisi kita dengan jujur, mengambil tanggung jawab atas pilihan, dan tidak sekadar bergerak karena tren, ekspektasi, atau otoritas. Apabila pendidikan punya roh, maka saya mengimajinasikannya sebagai bengkel pembentuk diri. taken in UIN Sunan Gunung Djati Bandung by @fachrieafif
3
9 months ago
Download
Menanam pohon hari ini saya maknai sebagai bentuk syukur yang bergerak dari doa menuju kerja nyata. Menjelang pelantikan sebagai seratus persen PNS di bawah naungan Kementerian Agama, saya ingin menegaskan bahwa pengabdian keagamaan juga harus menyentuh tanah, air, udara, dan seluruh jejaring kehidupan. Dalam hal ini, Anna M. Gade telah mengingatkan bahwa etika lingkungan Muslim memiliki daya kritis karena menempatkan relasi multispesies, hak alam, dan keadilan lingkungan sebagai pusat praksis moral. Sejalan dengan itu, Fazlun Khalid (2010) memperdalam arah itu melalui tawḥīd, fitrah, mīzān, dan khalīfah sebagai fondasi ekologis Islam: manusia hidup dalam kesatuan ciptaan, bergerak di dalam pola asal yang baik, menjaga keseimbangan, dan memikul amanah. Pohon kecil yang pernah saya tanam kini mulai tumbuh; hari ini saya menanam lagi agar praksis keimanan memiliki jejak yang dapat dilihat, dirawat, dan diwariskan. Ekoteologi, bagi saya, adalah kesadaran bahwa mencintai Tuhan juga berarti menumbuhkan kehidupan, menahan kerakusan, memperluas rahmah, dan mengubah jabatan publik menjadi ladang tanggung jawab kosmis. Dari satu pohon, kita belajar bahwa masa depan selalu meminta akar, kesabaran, dan keberpihakan, agar bumi tetap menjadi rumah bersama yang lebih layak dihuni manusiawi.

I extend my deepest appreciation to myself, my family, my colleagues, and my friends, who have persevered, supported, and strengthened me on this meaningful journey. Likewise, thank you to the wonderful, inspiring, beautiful, and strong soul who made it possible for this video to be uploaded successfully.

#pengangkatan100% #astaprotas #kementerianagama #cpns2024 @kemenag_ri @kemenag_jabar @sdmkemenag @kemenpanrb @bkngoidofficial @nasaruddin_umar @fakultas_ushuluddin taken in UIN Sunan Gunung Djati Bandung by @fachrieafif
10
5 months ago
Download
Link pendaftaran di bio komunitas. by @fachrieafif
0
2 months ago
Download
30 Juni ke sini ya! 
#komunitasarrosikhun by @fachrieafif
0
3 months ago
Download
_Close Reading & Focus Group Discussion_
Bersama Values Institute & Majelis Muthalaah

Pada perjumpaan kali ini, kita akan mendiskusikan artikel Norman Calder yang sangat penting sekaligus berpengaruh pada perkembangan studi tafsir hingga hari ini. Artikel tersebut merupakan intervensi metodologis yang bertujuan  untuk membangun deskripsi yang memadai tentang tafsir sebagai genre sastra yang otonom, dengan struktur-struktur formal yang dapat diidentifikasi dan diteorikan secara koheren. Kalimat pertama artikel ini, _“Tafsīr is a literary genre with definable formal characteristics”_ secara langsung mengeksplisitkan klaim metodologis yang radikal dalam konteks perdebatan studi tafsir, karena Calder hendak menggeser fokus dari pertanyaan tentang asal-usul (di mana tradisi tafsir berasal, dari mana bahan-bahannya diambil) ke pertanyaan tentang bentuk (bagaimana tradisi ini beroperasi sebagai praktik literer yang punya aturan mainnya sendiri). Sebagaimana yang akan kita elaborasi lebih lanjut, pendekatan ini kemudian menawarkan cara baru untuk membaca, memahami, dan menilai pencapaian individual para mufassir. 

Dengan itu, diskusi ini akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal: Sabtu, 06 Juni 2026
Waktu : 15:30 WIB–Selesai
Lokasi : Markaz Majelis Muthalaah, Panyileukan
Reader : Fakhri Afif, M.A.
Discussant: Alif Jabal Kurdi, M.Ag.

Terbuka untuk seluruh pegiat studi tafsir, hermeneutika, dan tradisi intelektual Islam.

sampai jumpa di ruang diskusi 🙌 by @fachrieafif
0
4 months ago
Download
*Close Reading & Focus Group Discussion*
_Bersama Values Institute & Majelis Muthalaah_

Kajian ini akan mendiskusikan artikel Karen Bauer, _“Justifying the Genre: A Study of Introductions to Classical Works of Tafsir_” (2013),

Diskusi akan mengeksplorasi sejumlah pertanyaan mendasar:

1. Mengapa tafsir perlu terus ditulis?
2. Bagaimana mufasir membangun legitimasi intelektualnya?
3. Bagaimana sebuah karya menegosiasikan relasinya dengan tradisi sebelumnya?
4. Apa yang diungkap muqaddimah tentang etika, otoritas, dan imajinasi hermeneutik seorang mufasir?

Hari/Tanggal: Rabu, 20 Mei 2026

Waktu: 18.45 WIB–selesai

Lokasi: Markaz Majelis Muthalaah 

Reader: Alif Jabal Kurdi, M.Ag.
Discussant: Fakhri Afif, M.A.

Terbuka untuk seluruh pegiat studi tafsir, hermeneutika, dan tradisi intelektual Islam. by @fachrieafif
0
5 months ago
Download
Diskusi ini mengajak kita membaca Friedrich Nietzsche secara genealogis sebagai alternatif metode riset teks. Kita akan menelusuri bagaimana sejarah, kuasa, dan nilai bekerja di balik lahirnya sebuah pengetahuan, bersama:

Fakhri Afif 
(Lecturer at UIN SGD Bandung)

Salman Al Farisi 
(Pegiat Filsafat)

Pada hari Sabtu, tanggal 16 Mei 2026
19:30 WIB - selesai

Untuk akses link diskusi akan di kirimkan via grup WA komunitas existiums

Join di sini:
https://chat.whatsapp.com/EmmZbrSuegXAmGGJs0P8yi by @fachrieafif
9
5 months ago
Download
×

Download all media on this page

Photos Videos
back to up