Instagram story viewer> @ibu2fr> Posts
430
followers
510
following
Mom of FR and FR
Book, cook, MOOC, et cætera
🇮🇩 living in 🇫🇷
POSTS STORIES REELS TAGGED
Our 14th of July 2024 💕 taken in Festival d'Art Pyrotechnique de Cannes by @ibu2fr
0
2 years ago
Download
Getting closer and closer to The Olympic Flame 🔥

#laflamme06 #parisolympics2024 #cannes taken in Cannes, France - French Riviera by @ibu2fr
1
2 years ago
Download
Dan sampailah pada penghujung 30 Days Journal of Amateur Writer Indonesia edisi 9. Ini adalah pertama kalinya saya mengikuti 30DJ.

Saya mulai mengenal AWI saat mengikuti Kelas Edit Naskah angkatan III di akhir tahun 2022. Sejak itu, saya sudah melihat adanya kegiatan 30DJ. Tapi saya tak mengikutinya. Sampai tahun ini.

Kalau tak ikut 30DJ, salah satunya karena saya rutin mengikuti tantangan setoran harian @kelasliterasiibuprofesional. Di sana minimal jumlah kata yang disetorkan adalah 300. Sulit masuk ke caption Instagram yang digunakan untuk 30DJ. Dan sekarang, kalau saya ikut 30DJ, itu juga karena KLIP.

KLIP menjadi salah satu partner AWI di 30DJ9 ini. Pas sekali, 2026 ini KLIP mengganti programnya sehingga libur di bulan Juli. Begitulah ceritanya sampai saya menantang diri mengikuti 30DJ9.

Meski tak masuk tim yang biasa menulis panjang lebar, tetap saja menulis pendek, yang cukup untuk masuk jadi caption Instagram, sangat menantang untuk saya. 30DJ mengizinkan peserta melanjutkan tulisannya di kolom komentar. Namun memang tujuan saya adalah menantang diri untuk menulis singkat, tapi tetap bisa menyampaikan keseluruhan pesan.

Dan saya berhasil. Kecuali hari ke-28, di mana tetiba ada pengumuman tema khusus “Inspirasi”. Tidak wajib sih, sebenarnya. Tapi memang dasarnya saya ingin menantang diri itu tadi. 

Asal tahu saja: hari itu saya sedang sangat padat agenda. Saya menyelesaikan tulisan di dalam kendaraan umum. Beruntung mendapat tempat duduk. Tak ada waktu menyunting, ya sudah: potong dan masuk kolom komentar saja.

Sebuah tantangan besar untuk saya yang berada di pewaktuan berbeda dengan WIB. Pas sedang ada banyak agenda, pula! Bersyukur bisa melaluinya 30 hari penuh. Sukses tanpa diamanahi kura-kura—yang sempat membuat saya roaming, meski tanpa meraih “mention” apapun.

Terima kasih untuk seluruh tim AWI, kakak-kakak admin, dan teman-teman peserta khususnya Cluster 1. Juga untuk KLIP yang mendorong saya mengikuti 30DJ9 ini.

Apakah saya akan mengikuti 30DJ10? Lihat saja nanti. Yang jelas, menulis tak boleh putus ya!

Yuk ah, semangaaat!

#30DJ #30DJ9 #30DJDAY30 #DAY30C1 by @ibu2fr
1
3 months ago
Download
Saya orang kampung. Dari kota kecil. Baik kampung halaman di tanah air ataupun kampung adopsi di tanah rantau.

Setiap ke kota-kota besar, saya suka roaming. Bagi saya, perjalanan lebih dari 30 menit itu jauh sekali. Selain berjalan kaki, tentunya ya! Berbeda dengan penduduk kota besar. Perjalanan satu jam pun sudah biasa!

Kalau di kota besar di tanah air—khususnya Bandung dan Jakarta karena saya tak berpengalaman untuk kota lain, perjalanan 30 menit itu penyiksaan. Sulit untuk meraih tujuan jauh. Lebih banyak terjebak di kemacetan.

Kalau di kota besar di tanah rantau, 30 menit bisa jauh sekali. Dengan kendaraan umum sekalipun. Berganti-ganti moda pun. Atau justru karena dengan kendaraan umum ya? Saya lihat, jalanan di kota besar di tanah rantau pun suka macet, meski tak semandeg di tanah air. 

Yang jelas, itu semua membuat saya gamang.

Karenanya, kemarin, saat saya sedang di ibukota dan punya waktu tiga jam sebelum janjian makan malam bersama Paksu sedangkan perjalanan ke hotel memakan waktu 45 menit, saya memilih transit di masjid saja. Mumpung dekat masjid besar juga. Toh kalaupun ke hotel, saya cuma bisa salat dan harus segera bersiap balik lagi dengan waktu perjalanan yang sama, 45 menit. Itupun kalau jam metronya pas sinkron!

Di masjid, saya bisa menumpang ke toilet, wudu dengan air segar, lalu salat dengan tenang. Masih ada waktu luang untuk menyelonjorkan kaki, untuk kemudian jalan-jalan santai melihat-lihat taman yang adem, sebelum beranjak menuju lokasi makan malam.

Saat melewati patio utama, ternyata sedang dikumandangkan azan Asar. Selain memanfaatkan fasilitas jama’ qashar sebagai musafir, saya memang tak memperhatikan detail jadwal salat di Paris yang ternyata cukup jauh bedanya ketimbang Cannes.

Tentu saja saya memilih berhenti, duduk mendengarkan (dan merekam), dan mengesampingkan kesempatan berkeliling taman serta menyaksikan pameran kaligrafi yang sedang diselenggarakan di masjid. Seingat saya, sejak lebih dari seperempat abad merantau, baru kali ini saya berkesempatan mendengarkan azan yang dikumandangkan sebagai panggilan salat wajib secara langsung.

Alhamdulillaah….

#30DJ #30DJ9 #30DJDAY29 #DAY29C1 taken in Grande Mosquée de Paris by @ibu2fr
0
3 months ago
Download
Saya termasuk yang gemas saat membaca feed tentang mereka yang mendaftar kuliah sebagai mahasiswa mandiri, tapi ternyata mengandalkan beasiswa. Lah? 

Saya memang tak yakin paham proses seleksi perguruan tinggi di Indonesia belakangan ini. Harap maklum, saya masuk kuliah via UMPTN. Dan istilah seleksi ini mulai berubah-ubah tepat sesudah saya merantau. 

Meski kudet, saya rasa dari definisi katanya saja “mandiri” artinya berdiri sendiri, tidak bergantung. Itu menunjukkan kemampuan membiayai secara pribadi dan kebebasan dari subsidi kan!? Sepanjang pengetahuan saya, justru tarif yang dibayarkan oleh mahasiswa mandiri ini yang nantinya menyubsidi biaya pendidikan mahasiwa yang lain. Dan saya yakin itu sudah dituliskan di bagian syarat pendaftaran untuk dibaca oleh calon mahasiswa dan orang tua mereka.

Saya jadi teringat pada periode pendaftaran perguruan tinggi anak-anak saya. Saya dan Paksu membebaskan mereka mendaftar, dengan batasan. Dan batasannya terutama finansial.

Faktor pertama tentunya biaya kuliah. Memang biaya pendidikan di Eropa relatif murah. Tapi tidak untuk semua perguruan tinggi. Negeri sekalipun! Eropa daratan, masih cukup terjangkau. Kalau sudah ke Inggris, biaya kuliah setahun setara dengan gaji Paksu setahun juga!

Faktor kedua adalah biaya hidup. Karena ya, sekolah tak hanya urusan UKT. Ada biaya tempat tinggal, makan, … juga buku dan perlengkapan kuliah, kan!? Belum lagi biaya transportasi (dan waktu) untuk mudik. Atau mengunjungi.

Meski dengan cukup patah hati, kami harus realistis. Kami sampaikan semua itu ke anak-anak. Kami tak melarang mereka mendaftar ke UK atau US. Atau Australia yang berada di belahan bumi yang berseberangan. Syaratnya satu: mereka bisa membiayai kekurangan dana finansial kami. Entah dengan beasiswa, kerja paruh waktu, atau kerja dulu sebelum kuliah ke sana.

(Lanjut di komentar)

#30DJ #30DJ9 #30DJDAY28 #DAY28C1 by @ibu2fr
4
3 months ago
Download
Jalan-jalan membuat kita banyak belajar. Tak hanya belajar budaya baru, bahasa baru, …

Jalan-jalan mengajak kita belajar membuat perencanan.

Mau jalan-jalan santai tanpa target pun, mau let it flow menikmati waktu, berniat sekedar berganti suasana pun, tetap saja lebih baik mengecek apakah ada objek wisata yang mungkin menarik untuk dikunjungi, monumen yang ingin diabadikan dalam foto atau gambar, hidangan khas yang layak untuk dicicipi, makanan atau barang produk lokal yang ingin dibawa kembali sebagai suvenir, … 

Jangan sampai menyesal melewatkan jam buka museum atau monumen, restoran dan toko bersejarah yang sebenarnya ada di jalur perjalanan kita, … Apalagi kalau perjalanan jauh dan kecil kemungkinan untuk terulang, paling tidak dalam waktu dekat. 

Kalau ada nih ya. Kalau yakin tak ada dan yakin tak akan menyesal sih ya, bebaskan saja! 

Jalan-jalan mengajarkan kita mengelola krisis.

Mau direncanakan sedetil apapun, tetap ada kemungkinan hal-hal yang tak berjalan sesuai yang diharapkan. Kota yang berbeda, pasti punya karakteristik yang berbeda dengan kampung halaman atau tempat tinggal kita. Apalagi negara yang berbeda. Apalagi kalau bahasanya tidak kita kuasai. Mencari informasi tak semudah yang biasa kita alami. Dengan bantuan aplikasi pencarian dan penerjemahan sekalipun.

Di sini kita harus bisa tak terlarut dalam kepanikan. Sedapat mungkin berpikir tenang untuk mencari solusi. Solusi yang mungkin tidak ideal. Yang mungkin ada trade off-nya. Namun yakinlah bahwa itu solusi terbaik yang bisa didapat, mengingat situasi dan keterbatasan (waktu, bahasa, dana, …) kita. Jadikan pelajaran, lalu lekas beranjak ke langkah berikutnya!

#30DJ #30DJ9 #30DJDAY27 #DAY27C1 by @ibu2fr
0
3 months ago
Download
Semalam, hujan turun di kota kami. Entah sejak kapan tak turun hujan di sini. Tak hanya saya, banyak orang menunggu hujan malam tadi.

Rintik hujan turun diawali dengan guntur yang menyambar-nyambar. Tidak, saya tak melihat kilatan petirnya. Sepertinya terlalu jauh. Saya sampai meragukan keabsahan prakiraan cuaca. Jangan-jangan hujan turun hanya di daerah pegunungan saja, seperti yang sudah biasa.

Tapi saya pikir begitu pun tak apa. Tak apa kalau hujan turun hanya di bukit-bukit sana. Kalau cukup deras, mungkin bisa menurunkan suhu di pesisir pantai sini. Atau paling tidak, memadamkan api yang membakar hutan-hutan selama beberapa minggu ini.

Berita kebakaran hutan di Prancis sudah tersebar di berbagai media dunia. Termasuk di Indonesia. Bagaimana tidak? Sampai saya menulis ini, sudah belasan ribu hektar terbakar. Puluhan ribu penduduk harus dievakuasi. Kerugian material? Jelas! Belum lagi korban jiwa.

Penyakit tahunan, kata beberapa orang. Memang. Karena kriminal. Betul ada. Namun seperti gelombang panas juga, penyakit ini, baik dipicu manusia atau bukan, kambuhnya makin parah. Makin panjang durasinya, makin ganas efeknya.

Masih bisakah kita santai menghadapinya? Masih bolehkah kita tak melakukan sesuatu untuknya?

Hujan di kota kami semalam kecil saja. Sebentar saja. Entah apakah bisa sedikit meredakan api di hutan sana. Atau paling tidak, mengurangi penyebarannya.

---

Tangkapan layar: https://firms.modaps.eosdis.nasa.gov/map/

#30DJ #30DJ9 #30DJDAY26 #DAY26C1 by @ibu2fr
1
3 months ago
Download
Kemarin saya berjanji temu dengan seorang kawan. Dia adalah teman sekelas di kursus bahasa Jepang saya 3 tahun yang lalu. Saat itu saya baru naik ke level 2. Karena level 3 kekurangan peserta, kelas digabung dengan level 2. Kalau tidak, level 3 ditiadakan dan pesertanya terlantar. 

Kawan saya ini anak baru. Tapi dia langsung masuk ke level 3. Pasalnya, dia sudah memiliki sertifikasi bahasa Jepang. B2 atau malah C1, saya lupa. Dia terlihat dia sangat jago merangkai kata. Sudah paham struktur bahasa. Sementara saya, kebanyakan melongo saja.

Di kelas, saya sering duduk sebangku dengannya. Interaksi kami cuma sebatas teman sebangku. Tak ada kontak di luar itu. 

Di tahun ajaran berikutnya, melihat jauhnya kemampuan saya dibanding peserta lain yang di level 3, saya memilih tetap di level 2. Asal tahu saja: level 3 adalah level mentok di kursus yang disediakan oleh Asosiasi Cannes Université. Ada peserta yang sudah 3-4 tahun di level 3! Memang tujuan peserta kursus rata-rata sama dengan saya: mengisi waktu dengan mengasah otak. Kursus di asosiasi ini tak bersertifikat!

Saya pikir, kawan saya itu tetap di level 3. Baru belakangan saya tahu kalau ternyata dia berhenti kursus. Kami putus kontak sampai tahun lalu saat dia tetiba mengirim email—yang biasa digunakan untuk komunikasi kelas, menanyakan informasi untuk temannya yang akan berlibur ke Indonesia.

Sesudah itu kami praktis kembali putus interaksi. Saat dia mengatakan untuk ketemuan kapan-kapan, saya pikir hanya basa-basi untuk berterima kasih. Saya tak menyangka sama sekali dia mengontak lagi seminggu yang lalu.

Sesudah kami menyepakati untuk bertemu, saya jadi terpikir: apakah saya masih bisa mengenalinya, kalau bertemu lagi?

Singkat cerita, dia yang melihat saya terlebih dulu! Ouf, hehehe. Dan kami melewatkan sore dengan berbincang seru. 

Ternyata dia akan berlibur ke Indonesia September nanti. Sayangnya, kali ini saya tak bisa banyak membantunya. Saya tak kenal baik Bali, apalagi Lombok, Komodo, atau Raja Ampat yang entah kapan bisa saya kunjungi.

#30DJ #30DJ9 #30DJDAY25 #DAY25C1 taken in Molnár's Kürtőskalács Kávézó by @ibu2fr
0
3 months ago
Download
Tentu saja, saya membaca lebih banyak dari 8 buku sepanjang semester 1 2026, tidak seperti yang dicantumkan dalam sertifikat KLIP kemarin. Yang ditampilkan dalam sertifikat KLIP hanyalah jumlah ulasan buku yang sempat saya tulis sepanjang semester 1 2026. Memang, saya masih saja perlu mengurangi jarak antara membaca dengan menulis ulasannya.

Mungkin perlu dicatat bahwa saya adalah pembaca paralel: saya suka membaca beberapa buku sekaligus dalam rentang waktu yang sama. Ritme pembacaannya bisa berbeda, tentu saja. Demikian pula waktu mulai dan menyelesaikannya.

Sampai hari ini, tercatat minimal 3 buku saya selesaikan dalam satu bulan. Paling banyak 6 buku. Ini sangat terdorong dengan berfungsinya kembali iPusnas. Bagaimanapun juga, tetap masih lebih mudah bagi saya untuk membaca buku berbahasa Indonesia ketimbang bahasa Inggris atau Prancis. Bahasa lain? Belum bisa! Hehehe.

Dari buku yang saya baca selama 6 bulan itu, hanya ada 6 buku yang milik kami pribadi. Kami. Ada buku saya, ada buku Butet. Ada 3 buku hibah dari seorang teman. Satu buku meminjam dari perpustakaan kota. Selain itu? Hasil meminjam dari perpustakaan daring, gratis dan legal, tentunya (lihat #30DJDAY06)! Termasuk yang terbanyak dari iPusnas tadi!

Di sini terlihat bahwa tak perlu keluar banyak dana untuk banyak membaca. Kalau Anda bisa membaca tulisan ini, berarti Anda juga bisa mengakses dan membaca banyak buku!

Sayangnya, belum semua orang bisa memiliki akses ke perpustakaan daring. Entah karena koneksi yang kurang, atau gawai yang belum memungkinkan. Atau bahkan tidak tersedianya gawai.

Karenanya tetap ada kebutuhan akan ketersediaan perpustakaan fisik yang memadai. Perpustakaan dengan koleksi yang cukup aktual dan beragam, yang bisa mempertinggi kemungkinan untuk menarik minat baca. 

Bagaimana mau meningkatkan minat baca kalau yang dibaca saja tidak ada, kan!?

#30DJ #30DJ9 #30DJDAY24 #DAY24C1 by @ibu2fr
0
3 months ago
Download
Saya masih suka bingung kalau ada yang nanya, “Nggak nyari kerja? Kan anak-anak sudah besar-besar. Apa nggak bosen, di rumah saja?”

Bukan apa-apa. Saya memang tidak berprofesi, tapi teman-teman dekat saya tahu betapa susahnya ketemu saya (ini jelas hiperbola!!!). Karena saya sama sekali bukan pengangguran!

Kebetulan baru akhir bulan yang lalu ibu mertua kirim Whatsapp ke saya, mengajukan pertanyaan untuk kemudian disampaikan pada pertemuan keluarga besar sekali (level eyang): apa kesibukanmu sehari-hari? Yang tentu saja saya jawab dengan “mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga” plus emoticon nyengir. Hehehe.

Tapi saya tahu itu tak cukup. Saya tambahkan kesibukan di tiga komunitas di mana saya aktif sebagai anggota. Biar kelihatan kalau saya nggak nganggur laaah. Dan memang saat itu saya sedang sibuk untuk keperluan komunitas.

Setiap Rabu, kecuali Rabu pertama, saya mengedit rekaman kajian dan mengunggahnya ke Youtube @pengajianprancis. Saat itu saya sedang menyelesaikan editan terakhir sebelum memasuki periode libur musim panas, Juli-Agustus ini. Setahun dua kali saya mengoordinir dan menyunting penyusunan ebook untuk @mamahgajahngeblog. Saat itu ebook pertama 2026 sedang dalam tahap finalisasi menjelang publikasi dan sekarang sudah bersiap untuk yang berikutnya!

Selain itu saya juga sedang menyusun ebook pribadi yang disetorkan sebagai karya tulis untuk mengejar apresiasi khusus yang melengkapi kelulusan sebagai peserta @kelasliterasiibuprofesional 2026 semester 1. Yang kelulusan ini tentunya melalui proses 4 bulan konsisten menyetorkan minimal 10 tulisan (dengan minimal 300 kata) per bulannya.

Lumayan kan, kesibukan saya? Itu belum kalau ada pertemuan online, webinar, … baik yang berkaitan langsung dengan komunitas atau tidak.

Bahkan Butet pernah protes saat saya meminta dia memaklumi deadline yang harus saya kejar. “Mama kan nggak dibayar!”

Lalu saya pun ceramah panjang lebar mengenai tanggung jawab dan pentingnya aktualisasi diri. Heu…. Meski tetap: keluarga adalah prioritas utama!

Tapi kalau ada yang mau kasih kerjaan buat saya, colek-colek ya! Yang bergaji tentunya! Hihihi.

#30DJ #30DJ9 #30DJDAY23 #DAY23C1 by @ibu2fr
0
3 months ago
Download
Beberapa waktu yang lalu, seorang teman berkirim pesan Whatsapp. Tumben, pagi-pagi. Nggak pagi-pagi amat juga sih. Sudah menjelang jam 9. Di antara pertemanan saya, ada aturan tak tertulis untuk tidak saling mengontak sebelum jam setengah 9. Jam masuk anak PG-TK dan SD. Kecuali darurat, tentunya ya! 

Teman saya itu menanyakan informasi mengenai transportasi umum untuk ke bandara.

Bukan. Bukan karena dia orang baru. Sudah bertahun-tahun dia tinggal di daerah kami. Bukan pula karena dia belum pernah ke bandara. Namun dia biasa ke mana-mana berkendaraan pribadi. Karenanya, dia tak banyak tahu soal transportasi umum.

Bukan. Dia juga bukan orang yang nggak melek internet. Memang informasi mengenai akses bandara ada di website resmi bandara. Apalagi Nice Cote d’Azur yang merupakan bandara terbesar kedua di Prancis itu memiliki website yang cukup lengkap. Namun tentu saja informasinya tak spesifik, detail sampai lokasi tempat tinggal kita kan!?

Dan pengalaman riil, jelas lebih meyakinkan ketimbang teori konten website.

Sebagai pengguna setia hasil dari salah satu pemanfaatan pajak rakyat, dengan senang hati saya menjelaskan padanya.

Ada banyak cara menuju bandara yang berjarak 25 km dari Cannes dengan menggunakan transportasi umum. Dari bus yang paling murah tapi bisa jadi lama karena melewati berbagai pusat kota di sepanjang perjalanannya, sampai bus cepat lewat jalan tol tapi mahal. Ada pula kereta api yang disambung dengan tram gratis dari stasiun.

Kalau pergi tak sendiri, bisa dipertimbangkan mengambil taksi online yang tarifnya sering kali hanya beda sedikit dari 2 tiket bus cepat. Taksi tradisional jadi pilihan terakhir karena tingginya tarifnya.

Teman saya berterima kasih atas informasi yang saya berikan. Informasi yang menurut saya sederhana, yang ternyata bisa sangat berguna bagi yang belum mengetahuinya.

Jadi, kalau perlu informasi lebih detail untuk main ke kota kami, jangan sungkan untuk colek-colek, ya!

#30DJ #30DJ9 #30DJDAY22 #DAY22C1 taken in Aéroport Nice Côte d'Azur by @ibu2fr
0
3 months ago
Download
Saya suka jalan-jalan. Saya suka berwisata ke luar kota. Melihat tempat baru, mencicipi masakan yang belum pernah saya coba sebelumnya, mendengar orang-orang berbincang menggunakan bahasa yang tak saya kenal, …

Saya suka ke museum, ke tempat-tempat bersejarah, … Saya beruntung punya suami yang suka jalan juga. Saya beruntung punya anak-anak yang juga senang bertualang. Kami akan menghabiskan berjam-jam di museum, membaca satu per satu keterangan dari objek-objek yang dipamerkan, lalu membahasnya. Kami suka ke tempat bersejarah sambil mendengarkan panduan suara, atau paling tidak brosur-brosur yang disediakan, baik secara fisik maupun secara digital, dan kemudian mendiskusikannya.

Kalau sedang jalan-jalan, kami jarang menggunakan kendaraan di dalam kota. Kami lebih memilih berjalan kaki. Sepanjang itu memungkinkan, tentunya ya! Dan kecuali kalau ada transportasi tertentu yang unik di daerah yang kami kunjungi itu. Tram antik atau funicular yang sudah ada sejak 1870, misalnya. Atau kapal sebagai alat transportasi air. Transportasi ya, bukan kapal wisata untuk menyusuri sungai!

Ini juga yang saya suka dari jalan-jalan: targetan 10 ribu langkah per hari jadi sangat mudah dicapai!

Menyenangkan pula, kan: sambil mengunjungi kota, melihat langsung keadaan sekitar dengan menyusuri jalanannya!? Namun tentu saja tidak semua perjalanan kaki ini mudah dilakukan. Beberapa kota memiliki medan bervariasi. Beberapa objek wisata berada di puncak bukit. Tanpa akses kendaraan umum. 

Kalau sudah begini, ya harus usaha. Siap mendaki puluhan anak tangga. Apalagi kalau beride melakukannya di malam hari dan ternyata jalur itu tak ada lampu jalannya!

Tapi semua akan terbayar saat mencapai tujuan, dengan melihat pemandangan indah yang terbentang. Pegal-pegal di kaki yang dirasakan kemudian pun dipikirkan sebagai konsekuensi yang harus dihadapi dengan kesabaran.

#30DJ #30DJ9 #30DJDAY21 #DAY21C1 taken in Citadel, Gellert Hill, Budapest by @ibu2fr
0
3 months ago
Download

Download All

Save the photos and videos currently loaded on this page.

0Photos
0Videos
Ready to download 0 / 0

Keep this tab open until your download is ready.

back to up