Instagram story viewer> @meng.ulas> Posts
35
followers
121
following
I don’t review, I cur-col.
Don’t waste your film recommendations on shitty people who don’t deserve it.
POSTS STORIES REELS TAGGED
Mengawali tahun 2024 dengan menonton LAGI film yang muncul (re: debat-yang salah Tom atau Summer?) tiap bulan di base moviefess ini lumayan bikin nyes karena flashback dulu selalu nonton sama ex bf :)
Actually, i don’t really-really put attention tiap menfess “kamu tim siapa?” muncul di TL Twitterku, lama-lama aku jadi pengen ikutan juga hehe,
So here’s what i thought:
I. WON’T. PICK. SIDE.

500 Days of Summer isn’t love story. It’s story about love. About Tom grew up and learn about love. Love isn’t his whole world, love won’t magically makes his life....magical OR love doesn’t instantly make dreams come true like Daryl Hall & John Oates said. Not having his one true love doesn’t mean his life is less complete. Not saying Tom is a redflag, he is not. He just hopelessly romantic (LIKE ME :/) We also never really know why things end between Tom and Summer cuz we all see it in the perspective of Tom who saw everything in rose-colored glass. Summer did say they always argue tho...
And I WON’T PICK SIDE.

I did understand Tom’s feeling. How she played his feeling. Giving him false hope (or you named it). A weird relationship. BUT Tom never love summer, he just love “the idea of her”. He thought Summer is HIS manic pixie dream girl when she is just human being. And this dude is basically creating scenarios on his head about who Summer is. Joe-Levitt even says, “It’s mostly Tom’s fault. He’s projecting. He’s selfish.”
NOT saying Summer isn’t guilty either, (SHE LET THIS HAPPEN, PROB SHE JUST LOVES BEING ADORED BY TOM) I can say she did contribute in building Tom’s expectation and she took advantage of it but the whole 500 Days of Summer is literally about Tom “coming of age” (eventho Tom in 30s) realizing that love isn’t like some sappy lyrics in britpop songs. That his life can be complete and fulfilling even w/o “the one”.
But still I WON’T PICK SIDE.

Summer: “We’ve been like Sid and Nancy for months now”
Tom : “Summer, Sid stabbed Nancy, seven times with a kitchen knife, i mean we have some disagreement but i hardly think i’m Sid Vicious.
Summer: “No, i’m Sid”
Tom : “Oh, so i’m Nancy”

The smith?!? FUCK NOO!! by @meng.ulas
2
3 years ago
Download
“Dammit, son of bitch, shit!”
Ben menjadi peternak bernama Phil Burbank yang gampang marah. A revelation. Aku bakal babbling soal karakternya karena selama ini aku mengenal Ben yang memerankan karakter tenang, dingin tanpa emosi yang jelas tapi di film ini aku bisa melihat Ben yang meledak-ledak. I still amaze Ben mampu memudarkan british accentnya yang medok dan ada samar-samar redneck accent (yang orangnya dikenal kasar) suit well dengan penampilan Phil yang sentimen. 
The cinematography, scoring and location were some of my favorite aspects. Dari opening aku terpesona dengan cara pengambilan gambar yang smooth, apalagi view New Zealand yang memanjakan mata. Definitely some people will have trouble with the pacing karena tidak semua orang enjoy slow pace drama. Tapi bagusnya adalah bagaimana direktor membuat alur ceritanya tidak membosankan. Bagaimana film ini membawa keintiman yang as it goes on. 

Film ini: tender and queer.
Drama 2 jam yang menyayat hati, kisah tragis bagi Phil. Ben himself said it’s a tragic character. So true! Phil sebenarnya adalah korban adanya toxic masculinity, korban ‘budaya’ bahwa laki-laki harus macho apalagi di jaman per-koboy-an, ini yang membuat Phil menyembunyikan jati dirinya. Menurutku ini juga alasan dia memproyeksikan ketoksikannya dengan mengolok Peter kemayu (Miss Nancy) karena sebenarnya dia sedang denial bahwa dia gay. Phil juga korban keadaan. Kebencian Phil terhadap Rose adalah bentuk reaksi cemburu. Phil always be the hurting one.

It is my ‘call me by your name’ but better. Memorable scene adalah Peter menyodorkan rokok kepada Phil yang sedang mengepang kulit sapi, romantis sekali dua lelaki ini. Homoerotically charged cigarette sharing. Character development Peter dari nerd sissy menjadi manly karena Phil lumayan maksa dan kurang mulus tapi tetap aku suka momen kebersamaan mereka ketika Phil mengajari ‘kelelakian’ dan ketika mereka adu tatap omg it’s literally EYE SEX. so extremely sensual padahal ini lowkey gay movie.

”I stink and i like it”

and long live the power of the dick of Benedic(k)!!!!!! by @meng.ulas
2
3 years ago
Download
Ruby is me. Or almost close. I mean i’m not a CODA but the Ruby’s story, i can relate to it. 
( BTW In music, the word “coda” usually means a finale or a conclusion. In the deaf community, however, CODA stands for “Child Of Deaf Adult”)

Alur film mengikuti kisah seorang anak perempuan bernama Ruby Rossi yang merupakan satu-satunya orang yang bisa mendengar di keluarganya, ketika memasuki masa kuliah ia dihadapkan pada dua pilihan berat yaitu mengejar cita-citanya untuk sekolah musik atau menetap di rumah dan membantu bisnis keluarganya.

Saat mama papaku memutuskan buat pisah, umurku bahkan belum 17 tahun. Belum bisa bikin KTP, kalaupun bisa aku bakalan milih bikin KK sendiri. Tapi nyatanya aku “dicoret” dari KK dan ikut KK kakak pertamaku. Otomatis harus pindah domisili juga. Iya, aku “diasingkan” sama mama ke Jawa dengan alasan takut salah pergaulan kalo menetap di Jakarta tanpa pengawasan mama papa WKWKWK. Dilema meninggalkan keluarga untuk sekolah dan melanjutkan hidup yang Ruby alami dirasa-rasa agak mirip sama aku. Gak heran waktu scene ngobrol di ruang tamu bahas college, aku nangis sesenggukan karena I FEEL HER.
Meskipun ada beberapa part yang bikin nangis bombay, tapi menonton CODA seperti mendapat pelukan hangat. After-tastenya heart warming banget. Lewat CODA aku belajar soal cinta, penerimaan, dan keberanian dalam mengambil keputusan, apalagi keputusan krusial mengenai sekolah dan melanjutkan hidup tanpa pendamping. Alur ceritanya ringan dan simple dengan gaya penceritaan yang tidak berlebihan juga menjadi keistimewaan CODA, film ini emang pantas menyabet Best Picture Oscar 2022. 
Lewat film ini aku melihat penampilan Ferdia Walsh-Peelo lagi setelah di Sing Street (2016). Suara yang menawan dengan wajah rupawan masih sama persis dari 5 tahun yang lalu. “You’re All I Need To Get By” yang dinyanyikan duet bersama Emilia Jones menjadi lagu paling romantis menurutku. Bahkan 3 minggu setelah menonton CODA, setiap bangun tidur aku akan otomatis nyetel lagu ini. 
Satu aspek yang aku suka, ketika POV beralih ke ortu dan kakaknya yang tuli, sound dan semua suara dimute, jadi kita ikut menjadi tuli. Soo fresh!!! by @meng.ulas
1
3 years ago
Download
Film yang akan selalu mendapatkan tempat spesial di hatiku. Entahlah karena apa? Mungkin karena aku paham gimana perasaan Xiaoxiao. Mencintai tapi tidak bisa memiliki. Melepaskan tapi begitu menyakitkan.
I believe that many people living in the big cities relate to this movie—The initial bitterlove was sweet. Financial struggling. Two people who genuinely love and care for each other. Sharing the aim of pursuing better future. Then reality hits so it doesn’t last long. 
The boy is still the boy meanwhile girl just need sincerity. As a girl im fully agree with Xiaoxiao, we just don’t need a house but also home. AKH aku inget. Sebenernya story-line film ini mirip sama konsep yang diusung MV 2112. HAHAHA iya lagu favorite gue dari band lokal Indonesia, Reality Club. Dua sejoli, tinggal bareng, saling mencintai, dikejar usia, pihak perempuan meminta keseriusan sedangkan pihak lelaki masih idealis dengan mimpi-mimpinya, dan ya ketebak endingnya, must say FAREWELL.

Selain itu, aspek yang aku suka dari film ini karena konsepnya yang sedikit unik, dengan alur waktu campuran, maju-mundur. Rene Liu menggambarkan masa kini (masa depan) dengan menggunakan warna hitam putih, sedangkan alur utama yaitu masa lalu dengan berwarna. Entahlah maknanya apa, aku hanyalah penikmat, bukan penganalisis.
This might be my favorite part, during the end credits, dozens of people are shown with written messages for their loved ones. After that, there’s a scene where Jianqing reads a letter he wrote for his father. THE UGLY CRYING WAS REAL. THE FEELING OF EMPTINESS RIGHT AFTER IS REAL TOO. 
Meskipun romance tapi film ini gak memanipulasi sentimental kita dengan adegan-adegan sweet yang overdosis dan bikin jenuh kok. Alunan musik indah dari Chien-Chi Chen suitwell sama keheningan yang kadang datang ketika mereka bersama. 

Potongan closing dimana Xiaoxiao mengatakan kata perpisahan akan jadi memorable scene buat aku, karena percakapan mereka kugunakan sebagai final (REALLY FINAL) goodbye ke mantanku, Idan. (masih bolehkah kupanggil begini?) Idan, ketahuilah, sebenarnya ini alasan kenapa waktu itu aku anggurin pesanmu, aku mikir apa aku harus kirim screenshot film ini atau tidak, maaf ya. by @meng.ulas
1
3 years ago
Download
Beberapa waktu lalu, aku nulis tentang NPD atau Narcissistic Personality Disorder di IG story. Nah, ini film adalah penggambaran nyata dari seorang narsisis. Kapan lagi coba ngeliat Emma Stone meranin tokoh arogan tanpa cela. (Baroness juga narsisis sih)

Kamu suka Joker? tonton ini!
Kamu suka The Devil Wears Prada? tonton ini!
Kamu suka Ocean’s Eight?
please tonton ini!

Hal yang paling membekas adalah build character Emma Stone dari Estella menjadi Cruella de Vil. Melihat perubahan Emma dari anak baik dan penurut menjadi pribadi jahat nan arogan cukup seru. Mengingatkan aku sama Emma Stone di Easy A (2010) yang awalnya cewe biasa aja jadi cewe hits binal.
Meskipun begitu, menurutku si Cruella ini nanggung karakternya. Cruella tapi nggak cruel-cruel amat, padahal tagline-nya “Hello Cruel World”. Jahatnya nanggung karena cuma lupa asas keluarga kedua sahabat kecilnya. Sayangnya lagi, Cruella berlatar dunia saat revolusi punk rock tahun 70-an di Inggris, tapi justru penggambarannya kurang.

I fucking love the soundtrack, apalagi they play one of my fav song from The Clash, “Should I Stay or Should I Go” ketika pamer rancangan bajunya di depan Baroness. “Come together”-nya The Beatles juga sesuai sama suasana savage si Cruella ketika mulai menjalankan misi balas dendamnya ke Baroness.
Akting Emma Thompson sebagai Baroness juga ngena sampe aku pengen banget nonjok mukanya pake manekin. Dia bisa masuk nominasi best supporting actress di Oscar kayanya. 
Semua costume designnya solid banget sama karakternya bahkan setiap scene aku nungguin, “Cruella pake baju kaya apa lagi ya?” 

Kalo bukan Emma fuckin’ Stone dengan outfit bedebahnya (baju truk sampah yang keren abis) kayanya ini film bakalan corny. Ujug-ujug ada twot pwistnya lagi, iya ini film Disney yang ada twistnya (bersenanglah para pemuja plot twist) dan bisa dibuat judul sinetron. “Bossku adalah pembunuh ibuku yang ternyata adalah ibu kandungku” HAHAHA

“IM BORN BRILIANT, IM BAD, AND LITTLE BIT MAD! 🖤♥️ by @meng.ulas
0
3 years ago
Download
Sebenernya film-filmnya WKW emang sarat kesepian dan kesendirian dari para tokohnya, tapi kenapa yang disoroti itu mulu? Padahal film WKW juga punya sisi “lucu” nya kok. Lewat film ini bikin aku sadar bahwa dunia ini jadi lucu kalau jatuh cinta (terutama buat yang ngerasa relate)
Lucu ketika diputusin tapi dianggap april fools.
Lucu ketika cinta dikaitkan dengan nanas dalam kaleng.
Lucu ketika patah hati terus jogging, katanya menghabiskan stok air di tubuh supaya gak nangis lagi.
Dan merubah kegiatan stalking yang seharusnya creepy malah jadi lucu. Lucu ketika jatuh cinta dan diem-diem masuk rumah gebetan buat beberes. Ckckck~~~
Kriminal tak pernah terasa selucu dalam film ini LOL
Sebagai film yang diidentikkan sebagai tontonan mahasiswa film tahun kedua wkwk, Chungking Express punya banyak adegan yang iconic dan banyak kalimat quotable.
Scene Faye Wong ngelayanin pelanggan sambil joget dengerin California Dreamin’.
Adegan Tony Leung ngajak Faye Wong kencan.
Scene Tony Leung sadar bahwa ada “penyusup” di rumahnya.
Dan dialog andalan: “If memories could be canned, would they also have expire dates? If so, I hope they last for centuries” said Polisi 223.

Polisi 663 diperankan Tony Leung (aktor langganan filmnya Om Karwei) yang ganteng tapi masih gantengan Takeshi Kaneshiro as Polisi 223 hehehe. Mungkin kalau pacarku kaya polisi 223 aku berhak dan HARUS insecure (bukan kaya yang sebelumnya) Lah gimana? udah ganteng (obviously), kind-hearted, well-mannered, educated, punya duit dan jabatan, gak nyakitin hati dan perasaan, dan yang penting gak egois dan manipulatif. SAYANGNYA, DOI HANYALAH KARAKTER FIKTIF.
Abis nonton ini aku terus nanya ke temen-temenku “aku kalau patah hati, gak sepatah itu kan?” 🙁 terus aku kepikiran “apa iya obat patah hati adalah jatuh cinta lagi”. Ya masa putus cinta diobatin cinta lagi. Seolah-olah dunia isinya cinta doang dan kayak gak bisa hidup tanpa cinta aja.
Dasar!!!! Makan tuh cinta.

*nyetel California Dreamin’
on such a winter’s day~~ by @meng.ulas
0
3 years ago
Download
/If anyone ever clicks their tongue around me again im calling the police/
The movie is said to be horror. Bc, it messes up with the audience’s mind dan juga dikategorikan psychology thrilling, karena beneran bikin depresi dan linglung. Alur ceritanya santai, slow emang tipenya mas Ari Aster gini, satu jam pertama kita cuma akan dikasi teka-teki sambil nerka apa? Kenapa? Ari Aster ini ingin menancapkan racun secara perlahan namun mematikan, bikin kemeng kepala. Horror beritme lambat tapi justru suasananya mencekamnya dapat banget.
There is no jump scares or any typical story about a ghost haunting - nope, instead we get a slow-burn nightmare about a family quietly going insane together. Tapi hati-hati banyak adegan disturbing dan kegiatan ‘tidak umum’ di film ini.

Scoring yang ditampilkannya berhasil ngasih efek psikologi penonton. Suara hening, bisikan, dan nada-nada yang disuguhkan bikin perasaan ga karuan. Adegan ‘tusuk menusuk’ ibunya Peter. Adegan jedot-jedotin kepala ke tembok itu bikin suara keparat yang terngiang terus ARGHHH. Dan adegan waktu manggil Charlie entah kenapa malah keinget permainan pemanggil arwah, Charlie Charlie are you here?
Big applause untuk Tony Collete sebagai Annie atau si ibu, dia sukses membawakan peran seorang ibu yang depresif, aku bisa ngerasain sih pressure yang dialami, udah kaya mau sinting tapi dituntut untuk biasa aja. Ada juga Milly Saphiro yang sukses mengemban peran seorang Charlie dengan ‘gangguan’. Dia berhasil menciptakan seorang Charlie yang terlihat innocent tetapi memiliki tatapan tajam dan karakter yang ‘unik’.

Overall, very very good film. I recommend it even to those who do not fancy the horror genre. Overall 10. Oh, how could Ari Aster improve or go on from here? Watch Midsommar.
OH MY GOD this such a “sick” movie but ill recommend to you who want to see things you can never un-see and feel pain you can never un-feel, here’s the good one.

HAIL PAIMON!!! by @meng.ulas
1
3 years ago
Download
Mungkin kalo ada award untuk karakter utama paling menderita bakalan jatuh ke Adam. Diputusin pacar, finansial lagi seret, kerjaan gak ada yang bener, belum selese kejatuhan tangga, ia masih harus kejatuhan palu dan sepaku-pakunya hahaha, didiagnosa tumor (yang lumayan ganas). Pernah kebayang jadi Adam gak? 
The story is grounded and intimate as it’s based on the film’s own screenwriter, Will Reiser’s personal experience battling with cancer.

Menurutku film ini bukan cuma menyoroti kisah tragis Adam sebagai MC sih, 50/50 is motivational movie if i say so. 
Scene paling memorable yaitu di mana Adam baru pulang dari rumah sakit setelah didiagnosa tumor Schwannoma dengan diiringi High and Dry-nya Radiohead, ditambah wajah sendu tertekuk ala Tom 500 Days of Summer, Joseph Gordon-Levitt sukses mengeksekusi peran seseorang yang desperate, ditambah Adam mengetahui bahwa kemungkinan hidupnya 50:50 dengan melakukan operasi pengangkatan tumor.

Is this drama-comedy? Menurutku, komedi di dalam film ini hanya sebagai pemanis saja. Akting Joseph Gordon-Levitt sebagai penderita kanker—didukung dengan make up dan gaya plontosnya—yang depresi dan mengalami tekanan batin terlalu kuat tidak bisa disejajarkan dengan komedi yang dilemparkan lawan mainnya (Seth Rogen agak annoying) Tapi karena pada dasarnya The likable Mr. Gordon-Levitt has a thousand ways to look unhappy, dejected, depressed, freaked out, wrung out and sick to his stomach, but there’s something so recessive about Adam, or rather underconceived, that the character never grabs you as hard as you expect and really need. So, he’s pretty good.

Joseph Gordon-Levitt & Seth are perfect together as friends coping. Anna Kendrick as adorable as ever. Joseph Gordon-Levitt, Anna Kendrick dan contoh mendekati akurat persahabatan dua pria dewasa. Jenis film yang garingnya termaafkan, karena lucu. Walau garing. Nyakitinnya ada, “kok hidup gak adil”-nya juga ada. 

50/50 is funny when it needs to be and serious when it needs to be. This film does tackle a difficult subject but is definitely worth a watch!

Mungkin bisa jadi ide buat gundulin rambut!!!! by @meng.ulas
0
3 years ago
Download
“The world they live in- it’s hell”

Cerita remaja yang hidup dalam dunia kekerasan dan perundungan di dunia pendidikan, ditambah kesulitan ekonomi yang melilit menjadikan film ini kisah yang terlalu kelam kalau dibayangkan. Untungnya, ada sedikit bumbu romansa yang bikin aku merasa gooey dan senyum sendiri ketika mereka lagi bucin satu sama lain. Ini adalah salah satu film yang after-tastenya bikin aku merasa kosong dan kosong. It’s just tearjerking and kinda triggering for me. 
And i don’t think will be rewatching this soon, kayanya aku gak bakalan sanggup dan aku bahkan pake trigger warning. Terlalu traumatizing and hugely pity.

Better Days, seperti judulnya menggambarkan pengharapan dimana Chen Nian dan Xiao Bei akan bertemu kembali di hari yang lebih baik, ketika suasana lebih baik dan cuaca yang sedang baik.
Scene paling memorable, 
Hi Xiaode: “Mereka merundungku selama ini, kenapa kalian semua tinggal diam?”
DEG.
Miris dan memang betul. Seringkali kita tau bahwa ada sebuah perundungan tapi kita diam, entahlah karena merasa “ah itu bukan urusanku, aku tidak perlu ikut campur” atau takut ia bakal jadi sasaran perundung yang baru.
Itu salah. 
Sebenernya orang-orang yang hanya menonton di sekitarnya juga ikut berperan dalam hal itu, korban merasa lebih terintimidasi ketika kita hanya melihatnya, korban merasa malu dan makin merasa terpojok. Aku berharap kalian semua tau bahwa sebuah perhatian kecil bisa menjadi bantuan besar dan harapan bagi korban.

Bullying itu jelas tindakan yang kriminal dan kekerasan. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan perundungan. Kita gak tau apa dampak yang akan terjadi pada korban, banyak pembulian yang kemudian berujung fatal.

Better Days has a strong message about bullying.
Please just watch this fuckin’ film, supaya kamu gak jadi bibit buli, apalagi manusia nggak punya hati!!!! by @meng.ulas
0
3 years ago
Download
Menonton ini karena penasaran soalnya menang Best Original Screenplay di Oscar 2021 mengalahkan jagoanku Minari. Intinya, ini film perjuangan perempuan untuk balas dendam dengan cara menjebak predator seksual. Kedengaran keren. Aku jadi inget quote-nya William Golding,

“Whatever you give a woman, she will make greater. If you give her sperm, she’ll give you a baby. If you give her a house, she’ll give you a home. If you give her a smile, she’ll give you her heart. She multiplies and enlarges what is given to her. So, if you give her any crap, be ready to receive a ton of shit!”
Dan film ini seolah-olah membenarkan “makanya jangan macem-macem sama cewek”

Idenya bagus, menyangkut isu pelecehan seksual dengan sedikit bumbu feminisme, tapi sayang karakternya kurang ngena. Cassie si tokoh utama kaya krisis identitas, penokohan Cassie nih sebenarnya gimana?
Mau jadi cewek badass ya biasa aja. Cewek depresi karena ditinggal orang tercinta ya enggak sedih-sedih amat. Sebagai orang yang ditinggal mati sahabat, tindak tanduknya Cassie malah lebay. Bukannya simpati aku malah apatis. Cassie balas dendam ke lelaki kerdus bukan for the sake of Nina atau membalaskan rasa sakit Nina, tapi cuma menuhin ego ceweknya, seolah-olah mau nunjukin bahwa “cewek juga bisa kaya gini”
Sebagai audience yang kerjanya menilai perfomance aktornya (asik snob) Mbak Carrey oke di beberapa adegan, tapi ketika mau bales dendam gitu kesannya mleyot, mungkin karena aku udah nonton film bertema girl revenge yang lebih all out, moment balas dendam di film ini jadi biasa aja.
Aku mau Cassie jadi cewek savage kaya Grace di Ready or Not.
Aku pengen Cassie jadi cewek badass sadis kaya Riley North di Peppermint.
Atau cewek dingin Geum-Ja di Lady Vengeance.

Terlepas dari itu semua, aku mengapresiasi upaya Fennel yang cukup berani mengutarakan pendapat tentang rape culture dalam film girl power kaya gini. (Tonton kalo kalian butuh ide untuk balas dendam ke mantan brengsek wkwk)

Mungkin ini film pembalasan dendam dengan jalur manusiawi kepada manusia-manusia tak berperikemanusiaan. Intinya tetap satu: 
FUCK SEXUAL PREDATORS, FUCK COWOK MOKONDO SANGEAN.

“You wanna fuck me still?”
“No, thank you ma’am” 
LOL by @meng.ulas
0
3 years ago
Download
The well-known “coming of age” kinda movie that i most likely, seperti taglinenya “We Are Infinite”, menggambarkan keresahan serta rasa depresi yang terus menghantui seorang anak baru gede dengan tetek bengeknya, merasa kesulitan menemukan teman yang pas untuknya, susah bersosialisasi dengan sekitar dan singkatnya betapa beratnya menjadi remaja. INTROVERT. CANGGUNG. KIKUK. Namun, ternyata dibalik itu semua it’s okey to be introvert, tak apa menjadi pendiam atau seperti itu, tak apa menjadi yang tak terlihat toh kita bisa jadi pahlawan dalam cerita kita sendiri, seperti yang dibilang David Bowie di lagu Heroes, 
“We can be heroes just for one day”.

“Wallflower” sendiri sebutan untuk seorang pemalu yang tak populer karena kurang bersosialisasi, padahal biasanya memiliki otak yang encer serta berbakat hanya saja mereka tak bisa mengekspresikannya secara terbuka. Iya gapapa, wajar kok merasa seperti itu, memang not everyone cup of tea, tidak bisa kita paksakan mereka untuk berbaur dan speak up, let them be.

Enjoy the movie a lot, karena ya aku relate. Charlie itu aku. Introvert dan wounded. Gimana ya, semua aspek dan sikap yang ada di Charlie aku bisa paham. Karakter-karakter yang ditampilkan berhasil membangun jembatan emosional dengan para penonton. Dan pastinya semua orang bakalan relate dengan satu aspek di film ini. Logan berhasil menjadi Charlie-nya banyak remaja. Remaja yang sedang meraba-raba kehidupan lewat kesedihan, kehilangan, trauma, dan kebebasan. 
The Perks of Being a Wallflower adalah film sederhana dengan plot yang simple tapi justru mampu bikin naik turun emosi. Momen lucu dan menyenangkan banyak mengiringi sepanjang cerita. 

How about the soundtrack?
Asleep-nya The Smith sampai Teenage Riot milik Sonic Youth memberikan gambaran yang sangat baik akan kehidupan remaja yang kikuk dan bebas.

-You are alive and you stand up and see the lights on the buildings and everything that makes you wonder. And you’re listening to that song, and that drive with the people who you love most in this world. And in this moment, I swear, WE ARE INFINITE.
*Playing Heroes-David Bowie by @meng.ulas
0
3 years ago
Download
 by @meng.ulas
0
3 years ago
Download

Download All

Save the photos and videos currently loaded on this page.

0Photos
0Videos
Ready to download 0 / 0

Keep this tab open until your download is ready.

back to up