Instagram story viewer> @nungski18> Posts
POSTS STORIES REELS TAGGED
Download All
Bulan Sabit di Ufuk Timur

 

Tiada yang indah di dunia ini selain apa yang Kau ciptakan dengan cinta-Mu. – Nungski

 

Tuhan, puisi ini kutulis lama setelah aku melihatnya, pastinya Kau lebih tahu dari pada hamba-Mu.

Tuhan, kalimat ini lebih dulu Kau ciptakan sebelum terlintas di kepalaku.

 

Pagi yang berisik dengan teriakan anak kecil anugerah-Mu. Ia menarik tanganku dan berlari ke luar rumah. “Bu, ayo jalan-jalan!” ajaknya.

Tanpa banyak kata, aku menemaninya jalan-jalan di sekitar rumah. Tak jauh, tapi cukup untuk membuatnya merasakan udara segar di pagi hari. Udara pagi itu terasa sejuk, tidak dingin, tidak pula membuat tubuh merinding.

Berada di luar rumah membuatku bisa melihatnya. Semburat oranye di ufuk timur terlihat indah dan memberikan suasana yang hangat. Bulan sabit masih tampak wujudnya, membuat pagi itu lebih indah. Langit ufuk timur memberikan kesan yang menyentuh bagian dalam hatiku.

Ingin rasanya setiap hari aku melihat dan merasakan seperti ini. Tiada terik yang membakar kulit, juga tiada gelap yang merayap setiap malam. Akan tetapi inilah ciptaan Tuhan. Inilah rencana-Nya, inilah wujud cinta-Nya.

Tuhan menciptakan waktu dan peredarannya sebagai bentuk cinta kepada ciptaan-Nya. Agar ciptaan-Nya selalu mendekatkan diri pada-Nya melalui apa yang diciptakan-Nya.

Aku mengucap hamdalah dengan hati yang penuh. Syukur kuutarakan berkali-kali di dalamnya. Aku bisa menikmati ini setidaknya beberapa kali dalam hidupku. Terima kasih, Tuhan.

#30DJ #30DJ9 #30DJ9Day25 #Day25C3 #ClusterTiGAcor by @nungski18
0
17 hours ago
Download
Bagian yang Berbeda

Berada di satu tubuh tapi memiliki perannya masing-masing. Namun begitu, salah satu bagian bertanya-tanya mengapa bagian lain diciptakan lebih tajam. Sedangkan bagian lainnya lagi diciptakan dengan keharuman, warna yang segar dan menggoda, ada pula yang memiliki peran sebagai penopang dan terkubur dalam tanah.
Bagian yang bertanya itu adalah bunga. Sang bunga melontarkan pertanyaan yang membuat seluruh bagian tubuh mawar tertawa. “Un, mengapa batang kita memiliki duri yang tajam?”
Jawaban daun membuat bunga tertegun sejenak. “Karena tidak semua yang menjagamu memiliki hati yang tulus, tidak semua yang menanammu memiliki hati yang bersih. Yang tulus dan bersih hanya yang memberimu hidup.”
Batang tertawa. “Bung, mengapa kau tidak bertanya langsung padaku? Padahal akulah pemilik duri,” sahut batang.
“Kau tak pernah memberiku jawaban yang benar dan pasti,” jawab bunga kesal.
“Aku memberimu perlindungan. Durikulah pelakunya. Aku akan menjadi tamengmu ketika mereka dengan seenaknya memetik tanpa tahu bahwa kita berhak hidup,” ucap batang.
Bunga tak berkomentar lagi. Ucapan batang membuatnya bungkam. Kalau dipikir-pikir lagi tak ada yang salah. Lalu bagaimana dengan akar yang selalu menopang dan merelakan dirinya terkubur dalam tanah? Gengsi terlalu tinggi membuat bunga hanya mencebik.
“Tapi mereka hanya memetikku, bukan kalian,” ujar bunga lirih, tetapi semua bagian tubuhnya bisa mendengar ucapan lirih itu. Mereka tak melontarkan kata sedikit pun. 
Akar hanya menghela napas sambil mendongak. Ia memandang langit-langit gelap yang membuatnya sesak. Sementara sang batang bak patung batu tak bergerak. Daun meliuk sedikit ketika tertiup angin.
“Setidaknya aku berusaha melindungimu,” ucap batang kemudian setelah diam.
“Aku tak bisa berbuat apa-apa selain fotosintesis,” sahut daun.
“Aku menopang kalian, kalau aku ikut tercabut, habislah kita semua,” ujar akar yang sedari tadi tak mengeluarkan suara sekata pun..
Hingga hari menjelang sore, pikiran bunga tak bisa diam lantaran terusik oleh kalimat-kalimat yang ia dengar dari tubuh bagian lain.

Lanjut di kolom komentar -->>

#30DJ #30DJ9 #30DJ9Day24 #Day24C3 #ClusterTiGAcor by @nungski18
1
a day ago
Download
Puisi yang Kutinggalkan

Aku pernah membuat puisi untuk seseorang. Namun bukan tanggapan yang mengesankan atau kritik dan saran yang kudapatkan. Melainkan sebuah kalimat yang berhasil menyentil hati kecilku. Penghinaan kecil secara halus bagiku dan perlahan meluruhkan antusiasku. Aku merasa gagal Cuma karena penghinaan kecil.

Biasanya aku menulis banyak kata-kata. Entah itu puisi, cerita, atau sekadar curahan hati. Setelah hari itu, semangat menulisku luntur perlahan. Tak lagi puisi, tak lagi panjang cerita atau curahan hati. Hanya beberapa kata acak yang muncul dalam otak.

Akhirnya, aku lebih memilih tenggelam dalam pekerjaan. Puisi kutinggalkan, buku dan pena kutanggalkan. Kesibukan dalam dunia kerja yang menyita penuh waktu membuatku lupa tentang coretan-coretan yang dulu mampu menjadi pelukan lelahku.

Suatu hari, entah apa yang menghantan kepalaku hingga aku sadar aku telah lama tak menulis. Bertepatan dengan hati yang seperti tertusuk duri. Dadaku sesak seolah tertindih beban berat. Aku mengambil buku dan pena yang telah berdebu. Kubuka lagi puisi-puisi yang dulu menjadi pelepas perasaanku.

Aku tersenyum. Mengingat aku yang dulu, waktu itu hatiku mudah tercubit, perasaanku mudah terbawa. Kembali kugoreskan pena di atas kertas yang mulai menguning.

Dulu, aku mudah menyerah hanya karena ucapan orang yang menyentil hatiku. Aku mudah terbawa perasaan hingga aku luruh begitu saja. Tanpa berpikir bahwa apa yang dikatakan orang adalah salah satu dorongan untuk tetap belajar dan bangkit dari kegagalan.

Kini, mulailah kembali aku mengisi lembaran yang dulu kuabaikan hanya karena penghinaan. Aku mulai belajar dan banyak membaca materi dan puisi-puisi dari penulis senior untuk kupelajari. Ketika aku mulai bisa menulis puisi dengan diksi-diksi yang indah, aku bahagia. Aku berhasil menulis puisi yang lebih hidup dengan versiku.

#30DJ #30DJ9 #30DJ9Day23 #Day23C3 #ClusterTiGAcor by @nungski18
0
2 days ago
Download
Damai

Suasana di masjid hari ini ramai sekali. Anak-anak yang biasanya mengaji di rumah Pak Ustaz kini berpindah ke masjid. Sementara satu bulan ke depan rumah Pak Ustaz direnovasi untuk memperluas ruangan mengaji anak-anak.

Namun tak berlaku bagi beberapa orang yang mengklaim bahwa Pak Ustaz memindahkan tempat mengaji anak-anak karena memperbaiki rumahnya untuk dirinya sendiri dari uang infak yang dibayar oleh anak-anak setiap minggunya. Pak Ustaz menanggapinya dengan tenang.

Pagi ini, seorang murid mengunjungi rumah Pak Ustaz. Murid yang sejak kecil mengaji di rumah Pak Ustaz, sampai dewasa pun masih ingat dan beberapa kali mengunjungi rumah Pak Ustaz ketika ada waktu luang.

“Pak Ustaz, gimana dengan tanggapan orang-orang?” tanya salah seorang muridnya.

“Biarkan. Buat apa repot-repot nanggapi omongan nggak penting?”

“Tapi kan, Pak.” Sang murid terdiam beberapa saat. “Itu bisa merugikan bapak,” lanjutnya.

“Saya nggak pernah rugi selama saya masih punya Allah. Saya rugi itu kalau saya lupa sama pencipta saya Dul.”

Respons Pak Ustaz membuat muridnya bungkam. Kebenaran itu semua orang tahu. Namun tak semua orang melakukannya dengan benar.

“Saya Cuma berharap jadi orang beruntung, setiap hari menjadi lebih baik lagi. Biar hidup saya tenang dan damai.”

“Akhir-akhir ini bapak banyak masalah.”

“Kok kamu tahu?”

“Dengar dari orang-orang.”

Pak Ustaz tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. “Kamu kok masih suka dengerin omongan orang.”

Obrolan berlanjut dengan diiringi tawa kecil mereka akan hal-hal receh yang lucu. Terkadang juga diselingi dengan pembahasan ilmu agama.

-***-

Lanjut di kolom komentar -->>

#30DJ #30DJ9 #30DJ9Day22 #Day22C3 #ClusterTiGAcor by @nungski18
1
3 days ago
Download
Ibu Pekerja

 

Menjadi seorang ibu tak semudah kelihatannya. Namun setiap wanita selalu berusaha untuk menjadi ibu yang hebat bagi anaknya. – Nungski

 

Kata-kata itulah yang tersemat pagi ini di pikiranku. Memang benar, bagiku tak semua hal bisa dilakukn dengan mudah. Apalagi dengan dobel peran yang membuatku seolah harus memecah jiwa raga. Berlebihan, ya. Namun itulah faktanya.

Di rumah, aku adalah ibu rumah tangga yang menjalankan perannya. Mengurus suami dan anak serta pekerjaan rumah. Meskipun terkadang tak semua kulakukan di waktu yang sama. Karena terkadang lelah lebih dulu mendera.

Di tempat kerja, aku adalah seorang pekerja. Karyawati yang menjalankan perannya di bidang dan bagian yang telah ditentukan. Di dalamnya diperlukan kontribusi dan loyalitas untuk perusahaan.

Di lain tempat lain dunia, aku menjadi penulis. Tanpa sadar kadang jiwa ragaku seakan terdampar dalam tulisan-tulisan yang kuciptakan. Suatu waktu pikiranku bergelut dengan kalimat-kalimat yang tersemat dalam benak.

Perihal waktu, aku membaginya. Seharian bekerja selama lima hari dalam seminggu. Sepulang kerja dan hari libur kuhabiskan waktu untuk keluarga dan pena. Terlebih lagi jika ada waktu luang untuk bersantai, kugunakan sebagian untuk membaca, sebagiannya lagi untuk bermain dan menonton film, sisanya kugunakan untuk menulis.

Sebenarnya, aku tak terlalu peduli pada karir atau pekerjaan. Akan tetapi melihat situasi dan kondisi ekonomi global di era sekarang, aku memutuskan untuk tetap bekerja demi bisa membantu suami memenuji kebutuhan hidup dan rencana tabungan masa depan.

Pagi ini, aku mengantar anak kecil yang selalu bergelayut padaku. Anak kecil yang selalu memanggilku “Ibu” kadang “Mama”, dan berteriak dengan antusias ketika menunjukkan sesuatu yang menarik. Anak kecil yang hampir setiap hari mempertanyakan hari libur padaku.

“Ma, lihat nih monyetnya ketawa.”

“Yey, aku besok sekolah.”

“Bu, besok-besok kita ke wisata hutan lagi, ya!”

“Ibu hari ini libur?”

Lanjut di kolom komentar -->>

#30DJ #30DJ9 #30DJ9Day21 #Day21C3 #ClusterTiGAcor by @nungski18
1
4 days ago
Download
Di Balik Jendela, Pukul Lima

 

Di luar sana terlihat sang surya perlahan mulai tenggelam di ufuk barat. Angin berembus pelan membawa kesejukan. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Bapak masih duduk di kamar dekat jendela dan memandang ke luar. Tak ada yang menarik selain mentari yang semakin terbenam di antara ranting-ranting bambu.

Jingga di langit barat perlahan tergantikan gelap. Ia menghela napas panjang seakan meluapkan kelelahan. Bukan karena pekerjaan, melainkan terkurasnya pikiran. Rambutnya hampir sepenuhnya memutih. Seharusnya sudah saatnya ia istirahat dari hal-hal yang membebani pikiran. Namun ada saja cobaan hidup yang merintang di perjalanan.

“Pak, sudah sore, sebentar lagi magrib.” Suara lembut seorang wanita mengalihkan atensinya. Ia menoleh. Hanya sekilas.

“Kapan dia akan pulang? Utangnya menumpuk dan kita yang menanggung semuanya.”

Wanita yang memanggilnya “Pak” mendekat dan mengelus bahunya pelan. Wanita itu merupakan istri yang telah menemaninya selama puluhan tahun.

Memiliki anak tak hanya satu membuat mereka membagi kasih sayang secara merata. Akan tetapi ada saja yang masih belum bisa menerima dan ingin memiliki segalanya. Serakah. Termasuk anak dari sepasang suami-istri yang sedang berada di kamar memandang ke luar jendela.

Anak bungsu pergi dengan alasan merantau, tapi meninggalkan utang segunung yang ditanggung orang tuanya. Keterlaluan bukan?

Jika dilihat pada kehidupan sehari-hari, ada sebagian orang yang demikian. Meskipun tidak sebagian besar. Orang tua yang seharusnya istirahat dan melepaskan beban pikiran untuk hidup tenang malah dihadapkan pada masalah-masalah yang disebabkan oleh anaknya.

Sore yang dihabiskan dengan meratapi dan merenungi nasib. Keseharian yang begitu saja. Ibu hanya mengelus dada sambil menggelengkan kepala dan mengembuskan napas panjang setelahnya.

Lanjut di kolom komentar -->>

#30DJ #30DJ9 #30DJ9Day20 #Day20C3 #ClusterTiGAcor by @nungski18
3
5 days ago
Download
Nyaris Gagal

 

Sabtu yang penuh dengan menggerutu. Setelah seharian penuh pekerjaan rumah terselesaikan. Sore harinya, ia berpikir akan membuat puding. Lebih tepatnya agar-agar.

Ia berencana membuat dua macam puding: satu puding santan pandan, satu puding susu. Dalam otaknya telah terbentuk agar-agar yang rasanya enak, manis, dan harus dari aroma pasta pandan juga santan.

Mulailah Aini menyiapkan peralatan juga bahan-bahan membuat agar-agar. Setelah semua siap, ia lebih dulu menuang gula dan santan. Dari sini jelas ia akan membuat agar-agar santan pandan lebih dulu.

Ia tuang gula dan santan instan ke dalam panci, lalu satu sendok tepung maizena dan satu sendok teh pasta pandan. Ia tuangkan 900ml air. Kemudian ia masak di aras kompor dengan api sedang. Ia aduk memutar hingga adonan agar-agar mulai panas mengeluarkan uap.

Seorang anak kecil laki-laki berusia empat tahunan mendekatinya. “Bu, biar aku yang mengaduk jelinya,” ujar anak kecil itu.

Ia pun mengangkat anak kecil dan mendudukkan di kursi sejajar dengan kompor. Ia arahkan tangan mungil yang memegang irus untuk mengaduk adonan agar-agar. Adonan akhirnya mendidih dan ia kenyiapkan cetakan untuk agar-agar pandan. Setelah semua adonan tertuang dalam cetakannya, ia menepuk dahinya kala menoleh ke kanan dan melihat tepung agar-agar masih utuh dalam kemasan.

“Ya Tuhan.”

Bagaimana bisa jadi agar-agar jika tepung agar-agar tak tercampur dalam adonan? Nyaris gagal. Ia pun menuangkan kembali adonan yang telah dicetak ke dalam panci. Adonan masih panas, dan kembali dipanaskan lagi di atas kompor. Tepung agar-agar ia masukkan dan ia aduk hingga kembali mendidih. Ia tuang lagi ke dalam cetakan. Ah, ia jadi bekerja dua kali.

Jam menunjukkan pukul empat sore, dan ia harus memandikan anak kecil yang sedari tadi menemaninya di dapur. Ia mandikan dulu anaknya, dan kembali lagi ke dapur setelah semua rangkaian mengurus anak kecil lucunya terselesaikan.

Sekarang, ia buat adonan agar-agar susu. Ia tuang lebih dulu tepung agar-agar, gula, susu kental manis, tepung maizena dan air. Ia dulukan tepung agar-agar supaya tidak lupa seperti sebelumnya.

Oh Aini.

#30DJ #30DJ9 #30DJ9Day19 #Day19C3 #ClusterTiGAcor by @nungski18
0
6 days ago
Download
Degan dan Deg-degan

 

Siang itu matahari berada tepat di atas kepala. Panasnya menyengat kulit manusia. Bahkan hewan-hewan pun memilih berteduh. Binatang laut tak ada yang berenang di permukaan. Pantai yang paginya ramai kini semakin sepi. Bagaimana mungkin mereka betah bersantai di bawah terik.

Roni duduk di salah satu warung makan di pinggir pantai. Ia memesan ikan bakar beserta nasi dan kelapa muda. Segar. Itu yang dirasakannya ketika minum air kelapa yang disajikan utuh dalam buahnya. Roni menyesap lagi air kelapanya dan menggelengkan kepala kala kenikmatan menyeruak dalam mulutnya, lalu mengalir menuju kerongkongan dan berakhir di lambung.

Sambil menunggu rekan yang belum datang, ia bermain ponsel. Hingga makanan di antar oleh pelayan warung, rekannya belum juga datang. Roni menelepon beberapa kali tapi tak satupun diangkat. Akhirnya, ia makan dalam diam.

“Boleh numpang duduk, Mas?”

Suara lembut seorang wanita menginterupsinya yang sedari tadi fokus pada ponselnya. Ia menoleh. Terkejut. Wanita cantik itu tersenyum canggung menunggu jawaban Roni. Namun Roni bergeming, mulutnya terkatup tapi matanya menatap tak berkedip pada wanita itu.

Sesaat setelahnya, ia barulah menjawab dengan penuh kegugupan. Matanya beberapa kali berkedip, tangannya gemetar saat mempersilakan sang wanita duduk di depannya.

“Oh, iya. Silakan.”

“Maaf, Mas. Kursinya penuh semua jadi saya numpang di sini.”

“Iya, nggak apa-apa kok.”

Jantungnya berdegup kencang. Baru kali ini ia berhadapan dengan seorang wanita asing, tak dikenal. Biasanya yang dekat dengannya hanya rekan kerja atau teman kuliah dulu. Ia memandang wanita di depannya. Muncul rasa ingin menyapa dan menanyakan nama, di mana tempat tinggalnya, dan kenapa dia sendirian. Akan tetapi lidahnya terasa kelu, tenggorokannya tercekat, sekadar menelan ludah pun susah.

Deg-degan. Debaran jantungnya semakin menggila ketika wanita itu tak sengaja bersitatap dengannya, lalu menganggukkan kepala sekali seraya tersenyum. Wanita itu tak bersuara sama sekali. Namun kehadirannya mampu menggetarkan hati seorang Roni.

Lanjut di kolom komentar -->>

#30DJ #30DJ9 #30DJ9Day18 #Day18C3 #ClusterTiGAcor by @nungski18
3
7 days ago
Download
Menulis apa hari ini?

Pikiranku berkecamuk antara menulis untuk lomba dengan tema khusus, atau menulis untuk event harian.
Beberapa saat lalu, aku melihat ada event lain di unggahan salah satu penerbit yang aku ikuti. Rasanya aku ingin menulis sebanyak-banyaknya. Aku ikuti semua event yang ada. Namun setelah kupikir lagi, apakah aku mampu? Mungkin jikalau aku mampu, apakah itu tidak memakan waktu?
Pertanyaan semacam itu terus berputar seperti roda di kepalaku. Juga kebimbangan apa aku benar-benar berniat ikut lomba-lomba itu, atau hanya keinginan sekejap yang nantinya akan terganti dengan rasa malas.

Menulis apa hari ini?

Inilah yang kutulis. Kejujuran dari hatiku tentang keinginan mengikuti lomba-lomba yang kulihat di unggahan sosial media – instagram. Namun aku berpikir lagi dan memantapkan hati. Agar kutahu apa yang benar-benar menjadi niatku, dan mana yang hanya keinginan sekejap mata.
Sebagai ibu rumah tangga, aku memiliki beberapa pekerjaan rumah dan aktivitas mengurus keluarga. Kugunakan sela waktu luangku untuk menulis: setelah pekerjaan rumah selesai, setelah aktivitas mengurus anak selesai.
Ada kalanya aku merasa jenuh, bosan, bahkan pernah juga merasa kepala semakin berat hanya karena memikirkan ide apa yang akan kutulis hari ini. Konyol? Mungkin. Akan tetapi itulah yang kurasakan.

Menulis apa hari ini?

Rencanaku, di siang hari jika ada waktu istirahat dari pekerjaan, aku menulis untuk kewajiban harian menulis 30 hari. Sedangkan di malam hari, aku berencana menulis untuk lomba dengan tema khusus yang ditentukan oleh panitia lomba. Itu kalau otakku bisa menampung semuanya.
Aku yakin, aku bisa. Aku bisa menyelesaikan semuanya. Hanya saja, aku butuh waktu dan tidak serta-merta semua selesai dalam hitungan menit. Aku bisa. Dan aku selalu berharap Tuhan membantuku. Aku yakin aku bisa.

#30DJ #30DJ9 #30DJ9Day17 #Day17C3 #ClusterTiGAcor by @nungski18
1
9 days ago
Download
Senja Keenam Belas

 

Hari keenam belas di bulan Juli. Saat kulihat lagi ke belakang, sudah separuh perjalanan kulalui. Akhir masih jauh dari penglihatanku. Aku menghela napas lega.

Di awal kupikir aku akan dengan melaluinya di awal dan kesulitan di tengah hingga akhir perjalanan. Di tengah engah perjalanan ini sungguh tak mudah. Namun aku mampu melewatinya juga.

Setelah kubaca beberapa kalimat yang terlontar dari sesama penulis sepertiku, aku sadar bahwa tak hanya aku yang sedang berjuang. Mereka pun sama, bahkan mereka tetap berjuang di kala mata semakin meredup.

Sebenarnya aku merasa rendah disandingkan dengan mereka yang lebih berpengalaman, atau bisa dikatakan senior. Aku merasa seperti ikan teri di antara ikan kakap. Mungkin ini berlebihan, tapi begitulah yang kurasakan.

Aku tetap menjaga pikiranku agar tak menyerah di tengah hingga akhir perjalanan. Jika aku sebagai ikan teri yang berenang di tengah lautan bersama mereka ikan kakap, maka aku harus berenang mengarungi lautan hingga ujung samudera. Meskipun aku tak menjadi pemenang, dan aku tak mengharapkan kemenangan, setidaknya aku telah berjuang.

“Seseorang tak akan mencapai titik akhir jika tak pernah berjuang dalam perjalanannya.”

Kalimat itu tak pernah kudengar dari siapapun. Aku juga merasa tak pernah membacanya dari media manapun. Kalimat itu entah muncul dengan sendirinya di pikiranku.

Di senja sore ini, senja keenam belas di bulan Juli. Indah, hangat dan sejuk di saat bersamaan. Ah, bukan. Ini bahkan sudah selesai azan magrib. Sandyakala pun terlewat jauh.  Aku memotretnya dengan segera sebelum lampu merah berubah menjadi lampu hijau. Inspirasi juga muncul tanpa aku berusaha keras menggalinya. Terima kasih, Tuhan.

#30DJ #30DJ9 #30DJ9Day16 #Day16C3 #ClusterTiGAcor by @nungski18
0
9 days ago
Download
Stres dan Uang

 

Suatu hari, aku mendapat pertanyaan yang membuatku berpikir sedikit lebih keras. Pertanyaan yang simpel, tapi mampu membuatku terus terpikirkan hingga berhari-hari. Padahal, itu adalah hal yang umum terjadi pada setiap orang. Walaupun tidak semuanya.

Stres dan uang.

Ah, dua hal yang sensitif.

“Bagaimana jika stres yang terjadi pada diri kita bersumber dari keuangan atau ekonomi?”

Sekali lagi, pertanyaannya simpel. Namun jawabannya? Aku berpikir sejenak. Tak lama setelahnya, aku menemukan jawaban versiku.

“Masalah keuangan dan ekonomi, kita lihat dulu dari sisi bagaimana kita mengatur dan mengelola keuangan.”

Pengaturan keuangan sangatlah penting bagi setiap orang baik yang masih lajang maupun sudah berkeluarga. Dalam hal pengaturan, utamakan kebutuhan primer dan pembayaran utang jika ada.

Catat setiap apapun yang menjadi kebutuhan mendasar dan juga pemenuhan utang. Sisihkan sebagian untuk tabungan dan dana darurat.

“Kita boleh membeli apapun sebagai bentuk self reward, tapi dengan catatan cukup, tidak berlebihan.”

Dengan pengaturan dan kelola keuangan yang baik dan teratur, pikiran tidak akan terlalu stres hanya karena kekurangan uang, tidak cukup, atau merasa ekonomi sulit.

Setelah jawaban versiku kuberikan pada sang pemberi pertanyaan, aku berpikir lagi. Pikiranku berkecamuk, hatiku terasa campur aduk.

“Apa jawabanku benar?”

“Apa diriku sendiri seperti yang kukatakan?”

“Bagaimana jika aku salah? Bagaimana jika aku sendiri tak melakukan apa yang tadi menjadi jawabanku?”

Aku termenung. Benar menurutku belum tentu benar menurut orang lain. Namun setidaknya aku telah memberikan jawaban versi diriku. Aku tak memaksakan orang lain harus sama, melakukan apa yang kulakukan.

 

#30DJ #30DJ9 #30DJ9Day15 #Day15C3 #ClusterTiGAcor by @nungski18
0
10 days ago
Download
Pemberhentian

 

Di tempat pemberhentian pertama, ia melihat seorang wanita paruh baya menggendong anak kecil berusia dua tahun. Wanita itu terlihat kelelahan, keringat mengucur di pelipis hingga dagunya. Keningnya berkerut karena terik menerpa tanpa ampun. Bajunya sedikit lusuh, pun dengan yang dipakai oleh anak kecil yang dalam dekapannya.

Tempat pemberhentian itu – bukan stasiun bukan pula terminal – banyak orang bertransaksi. Tak ada penjual yang menetap di sana walaupun tempatnya luas di pinggir jalan. Di seberangnya terdapat taman bermain anak-anak. Kendati demikian, baik taman bermain maupun tempat pemberhentian itu tetap saja sepi kecuali orang-orang yang sedang bertransaksi.

Tempat COD, mereka menyebutnya. Entah bertemu untuk transaksi makanan, barang, atau hanya sekadar pinjam meminjam uang. Pinjam meminjam uang? Beberapa orang memang melakukannya di sana terutama di bagian yang lebih sepi.

Ia berhenti di sana dan turun dari motornya. Ia menghampiri wanita paruh baya itu di sebuah kursi kayu yang sudah lapuk.

“Hari ini panas banget,” ujarnya berbasa basi.

“Iya, Nak. Ibu sudah tidak kuat makanya duduk di sini.”

“Ibu sudah makan?” tanyanya. Dalam hatinya timbul rasa ingin memberi. Meskipun yang ia punya hanya sebungkus roti.

Wanita itu hanya menggeleng sambil tersenyum lemah. Ia kemudian memberikan sebungkus roti yang berukuran agak besar.

“Saya Cuma punya ini, setidaknya biar perut ibu dan cucu ibu sedikit terisi.”

“Terima kasih, Nak.” Wanita itu dengan cepat menerimanya. Bulir bening menumpuk di pelupuk mata. Tak kuasa ia tahan, ia membuka bungkusan roti dengan air mata yang mengalir di pipinya. Wanita itu menyuapkan ke mulut cucunya dan dia sendiri.

Meskipun ia sendiri membutuhkan roti itu, tapi melihat orang yang lebih membutuhkan bisa makan, hatinya terasa penuh.

 

#30DJ #30DJ9 #30DJ9Day14 #Day14C3 #ClusterTiGAcor by @nungski18
0
11 days ago
Download
×

Download all media on this page

Photos Videos
back to up