Posted On: December 10th 2022, 04:15 pm
Mungkin seperti wanita-wanita Palestina. Bukan berarti mereka tak punya cinta pertama, tak punya harapan menjadi sepasang kekasih yang amat dicintainya di dunia hingga surga. Tidak. Tentu mereka pun sama sepertiku. Pasti ada satu pria saja yang benar-benar dia inginkan menjadi suaminya di surga kelak. Tapi, yang berbeda antara mereka dan aku adalah kedalaman cinta pada Sang Maha Cinta. Mungkin, karena menyenangkan Rabbnya adalah lebih mereka cintai ketimbang harapannya menjadi istri sehidup sesurga pria terkasihnya. Sehingga mereka mampu menikah dengan tujuan untuk melahirkan generasi pembebas Al-Aqsa. Begitu suami tercintanya syahid, mereka menikah lagi dengan lelaki yang satu visi dan misi dengannya: melahirkan generasi pembebas Al-Aqsa sebanyak mungkin. Andai saja wanita-wanita Palestina itu memiliki hati selemah hatiku, mungkin Palestina akan kehilangan jundi-jundi ksatria pembela tanah airnya.
Disini, seolah aku ditanya, "Dengan atau tanpa dia, akankah aku tetap salihah? Akankah aku tetap inginkan surga? Akankah aku tetap mencari ridha-Nya? Apa yang sebenarnya aku mau? Aku cari?"
Ah, aku... betapa kerdil. Dengan begini, apakah surga juga keridhaan-Nya menjadi sedemikian tidak berarti dibanding sehidup sesurga dengan suamiku kini? Sudahkah aku berarti lebih mencintai suamiku itu dibanding cinta pada Penciptanya? Astaghfirullah...
Dengan siapa aku akan berjodoh di surga sana? Ialah salah satu ketetapan-Nya yang harus aku terima. Lagi pula, mengapa aku berpikir jauh kesana? Solah surga sudah nampak di pelupuk mata, padahal, ah, ia masih amat jauh di sana.
Bukan soal dengan siapa. Tapi... Memang sudah pantaskah aku memijakan kaki di sana?
#pernikahan #dzikrulmaut