Instagram story viewer> @parakletos___> Posts
40
followers
13
following
Psikologi β€’ Filsafat β€’ Relasi
Membaca manusia tanpa topeng.
Melihat lebih dalam dari yang tampak.
POSTS STORIES REELS TAGGED
Ada sesuatu yang memprihatinkan dari cara manusia memperlakukan orang lain ketika keberadaannya dianggap mengganggu kenyamanan.

Seorang pria tidur beralaskan kardus di depan toko. Pakaiannya lusuh, tubuhnya kelelahan, dan trotoar menjadi satu-satunya tempat untuk beristirahat malam itu.

Orang-orang mulai mengeluh. Kehadirannya dianggap merusak pemandangan, mengganggu pembeli, dan membuat lingkungan terlihat kumuh.

Pembicaraan pun berpusat pada satu hal: bagaimana membuat pria itu segera pergi.

Tidak ada yang menanyakan ke mana dia akan pergi setelah diusir.

Dalam psikologi, Nick Haslam membahas konsep Dehumanization, yaitu proses ketika seseorang atau kelompok dipandang dengan mengabaikan aspek-aspek kemanusiaannya.

Dalam kehidupan sosial, hal ini dapat terlihat ketika manusia hanya diperlakukan sebagai masalah, angka, atau gangguan, sementara kebutuhan dan martabatnya tidak lagi mendapat perhatian.

Tentu, trotoar memiliki fungsi publik. Pejalan kaki berhak mendapatkan akses yang aman, dan pemilik usaha juga memiliki kepentingan yang perlu dihormati.

Namun menjaga ketertiban tidak harus berarti mengabaikan kemanusiaan.

Ada perbedaan besar antara menyelesaikan masalah penggunaan ruang publik dan sekadar memindahkan orang yang dianggap mengganggu.

Sebab setelah seseorang diusir, persoalan yang membuatnya tidur di jalan belum tentu berubah.

Dia tetap membutuhkan tempat berlindung. Tetap menghadapi kesulitan. Tetap manusia yang memiliki martabat.

Yang perlu dikritik bukan keinginan menjaga lingkungan tetap tertib, melainkan sikap yang berhenti peduli begitu penderitaan orang lain tidak lagi terlihat.

Kadang yang disebut masalah selesai hanyalah ketidaknyamanan kita yang berhasil disingkirkan.

Dan sebelum menilai keberadaan seseorang sebagai gangguan, ada pertanyaan yang layak direnungkan:

Apakah kita benar-benar ingin menyelesaikan persoalannya, atau hanya tidak ingin melihat orang yang sedang mengalaminya?

Karena menyingkirkan seseorang dari pandangan tidak membuat penderitaannya ikut menghilang.

~π›‘π›‚π›’π›‚Μπ›‹π›Œπ›ˆπ›•π›π›“

#parakletos #psikologi #selfawareness by @parakletos___
0
a few seconds ago
Download
Ada orang tua yang telah menghabiskan hidupnya membesarkan anak-anak, tetapi ketika sakit, kebutuhan pengobatannya justru menjadi perdebatan.

Obat ibu sudah habis sejak pagi. Anak-anaknya mengetahui hal itu, tetapi percakapan di grup keluarga hanya berputar pada siapa yang harus mengeluarkan uang.

Satu merasa sudah terlalu sering membantu. Yang lain merasa saudaranya lebih mampu. Perdebatan terus berlangsung, sementara obat yang dibutuhkan belum juga dibeli.

Ironisnya, semua memiliki alasan untuk tidak membayar, tetapi tidak ada yang mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah.

Dalam psikologi sosial, fenomena ini dapat dikaitkan dengan Diffusion of Responsibility, yaitu ketika tanggung jawab pribadi terasa berkurang karena seseorang menganggap ada orang lain yang juga dapat bertindak.

Namun, konsep ini tidak berarti setiap konflik keluarga disebabkan oleh mekanisme tersebut.

Kesulitan keuangan adalah persoalan nyata. Tidak semua anak memiliki kemampuan ekonomi yang sama, dan tanggung jawab merawat orang tua juga perlu dibagi secara adil.

Yang menjadi persoalan moral bukan ketidakmampuan membayar, melainkan ketika perdebatan tentang tanggung jawab membuat kebutuhan mendesak seseorang terus diabaikan.

Ada perbedaan antara mencari cara untuk membantu dan terus mencari alasan agar tidak perlu membantu.

Sebab ketika semua orang sibuk menghitung siapa yang paling banyak berkorban, orang yang sedang sakit justru menanggung akibat dari pertengkaran itu.

Tanggung jawab keluarga tidak selesai dengan menentukan siapa yang seharusnya peduli. Kepedulian harus terlihat dari tindakan.

Dan sebelum memperdebatkan siapa yang paling berjasa, ada pertanyaan yang lebih penting:

Apakah kebutuhan orang yang sedang sakit sudah benar-benar ditangani?

~π›‘π›‚π›’π›‚Μπ›‹π›Œπ›ˆπ›•π›π›“

#parakletos #psikologi #relasi #selfawareness by @parakletos___
1
5 hours ago
Download
Tidak semua kebohongan dilakukan dengan menciptakan cerita palsu. Ada yang cukup dengan menghilangkan bagian tertentu dari kebenaran.

Setelah bertengkar dengan seseorang, cerita mulai disampaikan kepada teman, keluarga, atau orang-orang terdekat.

Kesalahan pihak lain dijelaskan secara rinci. Perkataannya diingat. Sikap buruknya diceritakan.

Namun, bagian ketika dirinya lebih dulu menghina, memancing pertengkaran, atau memperburuk keadaan sengaja tidak disampaikan.

Hasilnya bukan cerita yang sepenuhnya palsu, melainkan kebenaran yang disusun agar hanya satu pihak terlihat bersalah.

Dalam psikologi, perilaku seperti ini dapat dikaitkan dengan Impression Management, yaitu upaya seseorang mengatur kesan yang terbentuk tentang dirinya di hadapan orang lain.

Albert Bandura juga menjelaskan Moral Disengagement, mekanisme ketika seseorang membenarkan perilaku yang merugikan orang lain sehingga tanggung jawab moralnya terasa berkurang.

Kedua konsep tersebut membantu memahami bagaimana citra diri dan pembenaran tindakan dapat memengaruhi cara seseorang menyampaikan konflik.

Namun, tidak setiap cerita yang tidak lengkap merupakan manipulasi. Ingatan dan sudut pandang manusia memang terbatas.

Persoalan moralnya muncul ketika fakta penting sengaja disembunyikan agar penilaian orang lain menguntungkan dirinya sendiri.

Yang lebih berbahaya, cerita semacam ini dapat membuat orang-orang yang tidak mengetahui kejadian sebenarnya ikut menyalahkan, menjauhi, bahkan membenci pihak yang telah kehilangan kesempatan untuk menjelaskan.

Sementara orang yang menyusun ceritanya mendapatkan simpati tanpa harus menghadapi kesalahannya sendiri.

Di sinilah kritiknya:

Seseorang tidak perlu memalsukan seluruh kejadian untuk menyesatkan orang lain. Cukup menyampaikan bagian yang membuat dirinya terlihat benar.

Dan sebelum mempercayai cerita tentang keburukan seseorang, ada satu pertanyaan yang layak dipertimbangkan:

Bagian mana dari kejadian itu yang belum kita dengar?

Sebab kebenaran yang dipotong demi menyelamatkan citra tetap dapat menghasilkan penilaian yang tidak adil.

~π›‘π›‚π›’π›‚Μπ›‹π›Œπ›ˆπ›•π›π›“

#parakletos #psikologi #relasi #selfawareness by @parakletos___
0
a day ago
Download
Pernah melihat seseorang dipermalukan di grup, lalu orang-orang ikut menertawakan dan menyebarkannya?

Satu foto dijadikan bahan ejekan. Seseorang mulai membagikannya, lalu yang lain ikut menyebarkan.

Ketika ditegur, jawabannya sederhana:

β€œBukan cuma aku. Semua orang juga melakukannya.”

Seolah tindakan yang salah berubah menjadi wajar hanya karena dilakukan bersama-sama.

Dalam psikologi sosial, Albert Bandura menjelaskan konsep Moral Disengagement, yaitu bagaimana manusia membenarkan perilaku yang merugikan orang lain agar tidak terlalu merasa bersalah.

Salah satu mekanismenya adalah Diffusion of Responsibility, ketika tanggung jawab pribadi terasa berkurang karena banyak orang terlibat dalam tindakan yang sama.

Dalam situasi seperti ini, seseorang merasa dirinya hanya ikut-ikutan.

Bukan orang pertama yang menyebarkan.

Bukan orang yang membuat ejekan.

Dan bukan satu-satunya yang tertawa.

Namun menjadi bagian dari keramaian tidak menghapus tanggung jawab atas pilihan sendiri.

Yang membuat perilaku ini berbahaya adalah ketika jumlah orang yang terlibat mulai dijadikan ukuran benar dan salah.

Semakin banyak yang tertawa, semakin normal penghinaan terlihat.

Semakin banyak yang membagikan, semakin kecil rasa bersalah yang dirasakan.

Sementara orang yang dipermalukan harus menanggung akibat dari tindakan banyak orang yang masing-masing merasa tidak terlalu bertanggung jawab.

Tentu, tidak semua orang yang ikut menyebarkan sesuatu memiliki niat menyakiti. Tetapi ketika konten tersebut jelas merendahkan seseorang, alasan ikut-ikutan tidak menghapus dampaknya.

Ada sisi gelap manusia yang muncul bukan karena keberanian melakukan kejahatan sendirian, melainkan karena merasa aman melakukannya bersama orang banyak.

Dan pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan hanya siapa yang pertama kali mempermalukan seseorang.

Tetapi juga:

Berapa banyak dari kita yang pernah ikut menyakiti orang lain, hanya karena semua orang di sekitar melakukan hal yang sama?

Sebab penghinaan tetaplah penghinaan.

Sekalipun seluruh ruangan ikut tertawa.

~π›‘π›‚π›’π›‚Μπ›‹π›Œπ›ˆπ›•π›π›“

#parakletos #psikologi #relasi #selfawareness by @parakletos___
2
a day ago
Download
Tidak semua tindakan yang disebut mendidik benar-benar mengajarkan sesuatu yang baik.

Seorang anak melakukan kesalahan. Di depan tamu, orang tuanya memarahi, mempermalukan, bahkan menjadikannya bahan perbandingan.

Ketika anak itu merasa terluka, jawabannya sederhana:

β€œIbu dan Ayah melakukan ini demi kebaikanmu.”

Seolah-olah niat baik bisa membenarkan cara apa pun yang digunakan.

Dalam psikologi, Albert Bandura menjelaskan konsep Moral Disengagement, yaitu mekanisme ketika seseorang membenarkan perilaku yang merugikan orang lain sehingga tindakannya terasa lebih dapat diterima secara moral.

Salah satu bentuknya adalah moral justification: tindakan yang menyakitkan dibingkai sebagai sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang dianggap baik.

Dalam konteks pengasuhan, penghinaan dapat diberi nama disiplin. Bentakan disebut ketegasan. Dan rasa takut anak dianggap sebagai tanda bahwa pendidikan berhasil.

Padahal, anak yang takut melakukan kesalahan belum tentu memahami mengapa tindakannya salah.

Ia justru dapat belajar menyembunyikan masalah, menahan pendapat, atau menghindari kejujuran karena takut kembali dipermalukan.

Tentu, orang tua perlu menetapkan aturan, menegur kesalahan, dan mengajarkan tanggung jawab.

Namun mendidik anak berbeda dengan merendahkan harga dirinya.

Kesalahan anak perlu diperbaiki. Martabatnya tidak perlu dihancurkan.

Dan bagian paling menyedihkan adalah ketika seorang anak tumbuh dengan keyakinan bahwa orang yang mencintainya berhak mempermalukannya.

Sebab luka tidak otomatis menjadi pelajaran hanya karena diberikan oleh seseorang yang mengaku menyayangi.

Jika sebuah tindakan benar-benar dilakukan demi kebaikan anak, mengapa harga dirinya harus menjadi sesuatu yang dikorbankan?

~π›‘π›‚π›’π›‚Μπ›‹π›Œπ›ˆπ›•π›π›“

#parakletos #psikologi #relasi #selfawareness by @parakletos___
0
2 days ago
Download
Pernah melakukan satu kesalahan, lalu merasa semua hal baik tentang dirimu seolah nggak ada artinya?

Satu pekerjaan gagal. Satu keputusan keliru. Satu ucapan yang disesali.

Lalu muncul pikiran, β€œAku memang nggak berguna.”

Padahal sebelumnya kamu sudah berusaha, sudah belajar, dan sudah melakukan banyak hal dengan baik.

Namun satu kegagalan terasa cukup untuk menghapus semuanya.

Di sinilah manusia bisa menjadi hakim paling kejam bagi dirinya sendiri.

Dalam psikologi, June Price Tangney dan rekan-rekannya membedakan dua pengalaman emosional yang berkaitan dengan kesalahan: guilt (rasa bersalah) dan shame (rasa malu).

Rasa bersalah berfokus pada tindakan: β€œAku melakukan sesuatu yang salah.”

Sementara rasa malu dapat membuat penilaian itu meluas pada diri sendiri: β€œAda yang salah dengan diriku.”

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya penting.

Ketika fokusnya pada tindakan, seseorang masih memiliki ruang untuk memperbaiki kesalahan.

Namun ketika kesalahan berubah menjadi penilaian atas seluruh dirinya, yang muncul bukan lagi sekadar keinginan untuk memperbaiki keadaan, melainkan perasaan tidak berharga.

Satu kegagalan berubah menjadi vonis seumur hidup yang dijatuhkan oleh pikirannya sendiri.

Bukan berarti kita harus mengabaikan kesalahan atau mencari alasan untuk membenarkannya.

Tanggung jawab tetap diperlukan. Konsekuensi tetap harus dihadapi.

Tetapi mengakui kesalahan berbeda dengan menghancurkan harga diri.

Kamu bisa gagal tanpa menjadi manusia gagal.

Kamu bisa mengambil keputusan buruk tanpa berarti seluruh dirimu buruk.

Dan kamu bisa menyesali masa lalu tanpa harus terus menghukum diri atasnya.

Sebab kesalahan adalah sesuatu yang perlu dipertanggungjawabkan, bukan identitas yang harus dibawa seumur hidup.

Pertanyaannya, selama ini kamu benar-benar sedang belajar dari kesalahan, atau justru menggunakan kesalahan itu sebagai alasan untuk terus membenci diri sendiri?

~π›‘π›‚π›’π›‚Μπ›‹π›Œπ›ˆπ›•π›π›“

#parakletos #psikologi #selfawareness by @parakletos___
2
2 days ago
Download
Tidak semua permintaan maaf lahir dari kesediaan untuk bertanggung jawab.

Ada seseorang yang mengakui kesalahannya, tetapi justru marah ketika orang yang disakitinya belum mampu memaafkan.

Ia berkata sudah menyesal. Sudah meminta maaf. Sudah berusaha memperbaiki keadaan.

Lalu mulai mempertanyakan mengapa orang lain masih terluka.

Seolah-olah permintaan maaf adalah kewajiban yang harus segera dibayar dengan pengampunan.

Di sinilah kontradiksinya terlihat.

Ia mengaku peduli terhadap perasaan orang yang disakitinya, tetapi tidak bersedia menerima bahwa perasaan itu berada di luar kendalinya.

Ia ingin kesalahannya dilupakan, bukan karena luka tersebut telah pulih, melainkan karena konsekuensinya mulai mengganggu kenyamanan dirinya.

Dalam psikologi, June Tangney dan rekan-rekannya membedakan guilt (rasa bersalah atas tindakan) dan shame (rasa malu yang menyentuh penilaian terhadap diri sendiri).

Rasa bersalah dapat mendorong seseorang mengakui kesalahan dan memperbaiki kerugian. Sebaliknya, ketika perhatian terpusat pada citra diri yang terluka, seseorang dapat menjadi defensif dan lebih sibuk melindungi dirinya daripada memahami dampak tindakannya.

Namun, satu permintaan maaf yang buruk tidak cukup untuk memastikan motif atau kondisi psikologis seseorang.

Yang patut dikritik adalah ketika permintaan maaf berubah menjadi alat untuk menekan orang yang sudah terluka.

Permintaan maaf bukan penghapus ingatan.

Penyesalan bukan bukti bahwa kepercayaan telah pulih.

Dan memaafkan bukan kewajiban yang memiliki batas waktu.

Seseorang berhak meminta maaf. Tetapi orang yang disakitinya tetap memiliki hak untuk membutuhkan waktu, menetapkan batas, atau tidak melanjutkan hubungan.

Sebab tanggung jawab yang sesungguhnya bukan hanya berani mengakui kesalahan, tetapi juga bersedia menerima konsekuensinya tanpa memaksa orang lain segera merasa baik-baik saja.

Ada keegoisan yang paling sulit dikenali:

Ketika seseorang telah menyakiti, lalu merasa dirinya kembali menjadi korban hanya karena belum dimaafkan.

Ia meminta pengampunan, tetapi masih ingin mengendalikan perasaan orang yang telah dilukainya.

~π›‘π›‚π›’π›‚Μπ›‹π›Œπ›ˆπ›•π›π›“

#parakletos #psikologi by @parakletos___
7
3 days ago
Download
Tidak semua hubungan yang terlihat tenang benar-benar memberi rasa aman.

Ada hubungan yang hampir tidak pernah diwarnai pertengkaran. Tidak ada suara meninggi, tidak ada perdebatan panjang, dan semuanya terlihat baik-baik saja.

Namun di balik ketenangan itu, seseorang terus menyembunyikan hal-hal yang sebenarnya menyakitinya.

Ia menahan keberatan, mengabaikan perasaannya sendiri, dan memilih meminta maaf meskipun bukan dirinya yang melakukan kesalahan.

Bukan karena ia tidak memiliki pendapat.

Ia hanya takut kejujurannya membuat dirinya kehilangan cinta.

Perlahan, diam menjadi kebiasaan. Mengalah menjadi kewajiban yang tidak pernah diucapkan. Dan mempertahankan hubungan terasa lebih penting daripada mempertahankan dirinya sendiri.

Dalam Relational-Cultural Theory, yang dikembangkan melalui pemikiran Jean Baker Miller serta tokoh seperti Janet Surrey dan Irene Stiver, hubungan yang mendukung pertumbuhan manusia menekankan pentingnya empati, hubungan timbal balik, dan kesempatan untuk hadir sebagai diri sendiri.

Kedekatan yang bermakna bukan hanya tentang tetap bersama, tetapi juga tentang adanya ruang untuk memperlihatkan pikiran, kebutuhan, dan perasaan yang sebenarnya.

Sebab hubungan yang hanya menerima seseorang ketika ia selalu setuju, belum tentu benar-benar mengenal siapa dirinya.

Tentu, memilih diam untuk menenangkan emosi berbeda dengan terus membungkam diri karena takut kehilangan kasih sayang.

Persoalannya muncul ketika seseorang berulang kali mengorbankan kejujurannya agar hubungan tetap terlihat damai.

Pasangannya melihat ketenangan.

Sementara ia menyimpan kekecewaan yang tidak pernah mendapat tempat.

Dan semakin lama keadaan itu berlangsung, semakin sulit baginya membedakan antara mencintai seseorang dan mengabaikan dirinya sendiri.

Bagian paling menyakitkan dari hubungan semacam ini bukan selalu ketika seseorang ditinggalkan.

Melainkan ketika ia tetap dicintai, tetapi merasa hanya boleh menunjukkan bagian dirinya yang menyenangkan orang lain.

Karena hubungan yang tidak memberi ruang bagi kejujuran akhirnya hanya mengenal sosok yang terus berusaha diterima.

Bukan manusia seutuhnya.
Ia tidak kehilangan pasangan. Ia kehilangan dirinya. by @parakletos___
0
4 days ago
Download
Satu kesalahan terjadi sekali. Namun penghinaan terhadapnya dapat berlangsung berkali-kali.

Seseorang salah bicara. Rekamannya disimpan, diputar ulang, lalu disebarkan untuk mengundang tawa.

Kesalahannya telah berlalu, tetapi rasa malunya sengaja dibuat terus hidup.

Di sinilah sisi gelap manusia terlihat: ketika penderitaan orang lain berubah menjadi hiburan.

Dalam psikologi, Erin Buckels dan rekan-rekannya meneliti konsep Everyday Sadism, yaitu kecenderungan memperoleh kesenangan dari tindakan menyakiti atau penderitaan orang lain.

Kekejaman tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Ia juga dapat terlihat ketika seseorang sengaja memperpanjang penghinaan demi kesenangan.

Tentu, tidak setiap orang yang tertawa atas kesalahan orang lain memiliki kecenderungan sadistik. Yang perlu diperhatikan adalah pilihan untuk terus mempermalukan seseorang, terutama setelah mengetahui dampaknya.

Humor dijadikan pembenaran. Keramaian menjadi perlindungan. Dan karena semua orang ikut tertawa, penghinaan terasa wajar.

Padahal kesalahan seseorang tidak memberi hak kepada siapa pun untuk terus merendahkan martabatnya.

Ada perbedaan antara menertawakan kejadian lucu dan menjadikan rasa malu manusia sebagai tontonan.

Yang pertama dapat selesai bersama peristiwanya.

Yang kedua sengaja dipelihara.

Dan pertanyaan paling mengganggu bukan hanya mengapa seseorang tega mempermalukan orang lain.

Melainkan mengapa begitu banyak orang menikmati saat manusia lain kehilangan harga dirinya.

Sebab tidak semua kekejaman membutuhkan kekerasan.

Sebagian cukup dilakukan dengan menekan tombol putar, lalu tertawa bersama.

~π›‘π›‚π›’π›‚Μπ›‹π›Œπ›ˆπ›•π›π›“

#parakletos #psikologi #selfawareness by @parakletos___
1
5 days ago
Download
Menunda tidak selalu berarti tidak peduli. Kadang tugasnya belum jelas, kita takut salah, atau energi memang sedang tipis. Memecahnya menjadi langkah yang terlihat bisa membantu. Kalau tetap sulit, itu juga petunjuk untuk memeriksa kondisi diri, bukan alasan untuk menghakimi diri. by @parakletos___
0
6 days ago
Download
Tidak semua orang yang meminta waktu sendiri sedang kehilangan rasa cinta.

Ada yang hanya ingin beristirahat, menikmati kesunyian, melakukan hal yang disukai, atau sekadar memiliki waktu tanpa harus selalu menjadi bagian dari kehidupan orang lain.

Namun dalam sebagian hubungan, kebutuhan sederhana itu justru dianggap sebagai ancaman.

Ketika seseorang ingin sendiri, ia dituduh mulai menjauh. Ketika ingin melakukan sesuatu tanpa pasangan, ia dianggap tidak lagi memprioritaskan hubungan.

Perlahan, muncul rasa bersalah setiap kali ia memilih dirinya sendiri.

Ia mulai membatalkan rencana, mengabaikan kebutuhan pribadi, dan terus meyakinkan pasangan bahwa cintanya tidak berubah.

Inilah salah satu bentuk kehilangan diri yang paling sunyi dalam hubungan.

Tidak ada perpisahan. Tidak ada pertengkaran besar. Dari luar, hubungan bahkan terlihat baik-baik saja.

Namun salah satu pihak perlahan kehilangan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.

Dalam teori Relational Dialectics yang dikembangkan oleh Leslie Baxter dan Barbara Montgomery, hubungan manusia memiliki ketegangan yang terus berlangsung antara kebutuhan untuk terhubung dan kebutuhan mempertahankan kemandirian.

Kedekatan dan kebebasan bukan dua hal yang harus saling menghancurkan.

Seseorang dapat mencintai pasangannya sekaligus membutuhkan ruang pribadi. Ia dapat menikmati kebersamaan tanpa harus menghabiskan seluruh waktunya bersama orang yang dicintai.

Yang menjadi persoalan bukan kebutuhan akan perhatian atau kebersamaan, melainkan ketika kebutuhan satu pihak terus dipenuhi dengan mengorbankan ruang hidup pihak lainnya.

Cinta seharusnya memberi tempat bagi dua manusia untuk bertumbuh, bukan memaksa salah satunya mengecil agar hubungan tetap utuh.

Sebab kehilangan seseorang memang menyakitkan.

Namun ada kehilangan yang lebih sulit disadari: tetap memiliki pasangan, tetapi perlahan kehilangan hubungan dengan diri sendiri.

Dan ketika seseorang harus terus membuktikan cintanya dengan mengorbankan kebebasannya, pertanyaan yang patut direnungkan adalah:

Apakah ia sedang mempertahankan hubungan, atau sedang menghilangkan dirinya sendiri agar tidak ditinggalkan?

~π›‘π›‚π›’π›‚Μπ›‹π›Œπ›ˆπ›•π›οΏ½ by @parakletos___
0
6 days ago
Download
Pada awalnya, semuanya terlihat seperti perhatian.

Diminta memberi kabar ketika bepergian. Ditanya sedang bersama siapa. Diingatkan untuk tidak pulang terlalu malam.

Hal-hal kecil yang terdengar seperti bentuk kepedulian.

Namun perlahan, perhatian itu berubah menjadi tuntutan.

Memberi kabar menjadi kewajiban. Bertemu teman harus mendapat izin. Setiap keputusan yang tidak disetujui berujung pada pertengkaran, ancaman, atau ketakutan akan ditinggalkan.

Hingga seseorang mulai mengatur hidupnya sendiri berdasarkan apa yang akan membuat pasangannya marah.

Di sinilah perhatian kehilangan maknanya dan berubah menjadi pengendalian.

Sosiolog Evan Stark membahas fenomena ini melalui konsep Coercive Control, yaitu pola pengendalian dalam hubungan yang secara bertahap membatasi kebebasan, kemandirian, dan kemampuan seseorang menentukan kehidupannya sendiri.

Pengendalian tidak selalu hadir melalui kekerasan fisik.

Ia dapat berlangsung melalui pengawasan, pembatasan pergaulan, ancaman, dan tekanan yang membuat seseorang takut mengambil keputusan tanpa persetujuan pasangannya.

Tentu, saling memberi kabar bukanlah bentuk pengendalian dengan sendirinya. Perbedaannya terletak pada pola, kebebasan untuk menolak, dan konsekuensi yang diterima ketika seseorang tidak patuh.

Bagian paling gelap dari hubungan semacam ini terjadi ketika seseorang tidak lagi menyadari bahwa kebebasannya sedang dirampas.

Ia mulai menganggap meminta izin sebagai bentuk menghargai pasangan.

Menghindari teman sebagai bentuk menjaga hubungan.

Dan mengorbankan keinginannya sendiri sebagai bukti kesetiaan.

Padahal cinta tidak seharusnya menuntut seseorang menyerahkan hak atas kehidupannya.

Sebab ketika seseorang harus kehilangan kebebasannya agar tetap dicintai, pertanyaan yang tersisa bukan lagi seberapa besar cinta yang diberikan.

Melainkan seberapa banyak dirinya yang harus dihilangkan agar hubungan itu tetap bertahan.

~π›‘π›‚π›’π›‚Μπ›‹π›Œπ›ˆπ›•π›π›“

#parakletos #psikologi #relasi #selfawareness by @parakletos___
1
7 days ago
Download

Download All

Save the photos and videos currently loaded on this page.

0Photos
0Videos
Ready to download 0 / 0

Keep this tab open until your download is ready.

back to up