Instagram story viewer> @batang_rupama> Tagged
POSTS STORIES REELS TAGGED
Sedang mengarsipkan kegiatan komunitas di semester pertama 2024 (tahun lalu, sangat latepost banget). Saya sadar dalam beberapa postingan saya, ada beberapa pertemuan-pertemuan singkat, di waktu-waktu ringkas, di mana saya kurang mengapresiasi ruang-ruang tersebut. Namun bisa jadi, dari ihwal singkat itulah hal besar dan lebih berdampak tertanam benihnya. Saya lalu kembali membuka Galeri dan menemukan banyak sekali pertemuan sederhana di sela waktu yang tak terduga. Silakan digeser ke samping, siapa tahu ada wajahmu nyempil di celah-celah itu.

Anyway, saya selalu bersyukur betapa kota ini punya circle kalcer seperti ini. Meskipun kadang negara dan kota ini tidak berhenti menghantam kita dengan kabar buruk dan kejadian ‘gila tak masuk logika’, ada orang-orang di komunitas yang asyiknya juga sama, GTML. 

Saya selalu terkenang pernyataan Kak Dandy dan Kak Jimpe di MIWF 2023 silam, bahwa di era sebelum dan awal reformasi, geliat komunitas masih melihat ‘bendera’ siapa yang naik jika ada kegiatan. Hal ini menjadi cermin bagaimana gerakan komunitas masih parsial dan cenderung dikotak-kotakkan. Kini, komunitas tidak lagi melihat itu. Kolaboresyen adalah koentji. Tidak ada lagi bendera siapa yang naik, semuanya sepakat menaikkan bendera Jolly Roger. Sori, maksudnya semuanya lebur, semuanya saling mengajak siapa dan apa yang relevan dengan program tertentu. Hal ini sulit dibayangkan 20 tahun lalu. 

Terima kasih para pendahulu yang menyiapkan lahan subur bagi benih-benih baru yang disemai dan siap tumbuh.
11
Batang-Batang Rupama adalah pertunjukan bersama lintas media yang dilakukan tahun lalu dan dampak dari prosesnya masih saya rasakan. Batang-Batang Rupama dalam Bahasa Bugis beratı Jalan-Jalan Cerita. Saya bersama beberapa kawan dari Antropos diminta untuk menjadi penukis dan pengamat. 

Pertunjukan ini dimulai dengan riset, berkali-kali duduk bersama, juga  workshop yang dimulai sjeik MIWF tahun 2024. Lalu kami berkumpul kayak Avengers! Seniman performans, peneliti, aktivis, DJ, fotografer, sound engineer, dan warga duduk bersama menguarkan keresahan. Secara pribadi, saya tidak sempat menghadiri pertunjukan akhirnya karena sedang di luar Makassar. Tapi menonton beberapa kali latihannya membuat saya takjub. 

Inilah pertunjukan yang tak hanya ingin ditonton, tapi dirasakan. Ruang di mana personal dan politis berkelindan, di mana seni lahir dari kerja kolektif yang egaliter. Rachmat Hidayat Mustamin adalah salah satu orang di balik layar pertunjukan bersama ini meskipun dia selalu bilang jika ini adalah kerja-kerja bersama. Naskahnya sendiri dirampungkan oleh Rachmat dan Aziziah Dyah Aprilia dengan bantuan semua yang terlibat. Batang-Batang Rupama adalah ajakan untuk membaca kota lewat tubuh, dan merawat ingatan melalui seni.

Dan, terima kasih kepada semua yang terlibat! Penulis, peneliti, performer, media, tim teknis, sound engineer, dll. 

Silakan dilihat di @batang_rupama atau @studiopatodongi
16
Batang-Batang Rupama//Cerita tentang Jalan

Program ini sudah lama ingin saya unggah tapi karena terlampau malas dan banyak banget yang harus di-cover, akhirnya baru di-posting hari ini, sudah lalu beberapa bulan sejak diluncurkan (nanti bakal dibincangkan lagi, insya Allah).

Anyway, Antropos terlibat sebagai tim peneliti dan penulis modul pertunjukan bersama yang bukunya gratis diunduh, gaesss. Pertunjukan bersama ini memang dilakukan bersama-sama sejak awal banget. Dari konsep awal, proses riset, proses menulis, latihan-latihan, sampai buku digitalnya hadir untuk disebarluaskan. Selamat yessss!
Terima kasih untuk semua kawan yang terlibat. Enaknya ini dunia perkomunitasan di Makassar!

Saya sangat merekomendasikan agar buku ini dimiliki oleh mereka yang bergelut di dunia komunitas, kolektif, peneliti, akademisi, pegiat dan penggiat budaya, atau bahkan siswa/mahasiswa yang ingin mencoba gaya baru dalam penciptaan karya. Tidak hanya itu, buku ini pun sebetulnya asik dibaca oleh umum karena mengandung informasi menarik tentang sejarah dan kelindan kota, serta ditulis dengan gaya bahasa yang ringan ala-ala jurnalisme sastrawi. So, kalian bisa unduh bukunya lewat tautan berikut:

https://drive.google.com/file/d/1GDGTdmOyhZ9d6d35d9_lQ3tNM5FoOeKl/view?usp=drivesdk 

Stay tuned untuk buku digital lainnya hohoho spoiler alert! 👀

#batangbatangrupama #pertunjukanbersama #batrum #performance #fiatluxlettherebelight #viral
33
Kemarin dapat kesempatan bikin ilustrasi dan beberapa aset visual untuk @batang_rupama ✨️

Jadi, sedikit pengantar untuk ilustrasinya wkwk.
Sebenarnya konsep gambar diangkat dari ungkapan "It (Makassar) grows on you", yang maksudnya makin lama makin terbiasa (dengan Makassar), makin lama makin tau, makin lama makin suka. Bisa juga dimaknai secara literal, "Makassar tumbuh pada dirimu", mungkin Makassar adalah sesuatu yang hidup dan dia tumbuh dari bawah kaki penghuni-penghuninya, di manapun mereka menginjakkan kaki. Klise dikit wkwk 

Untuk saya pribadi, ini lumayan personal karena dulu pas kecil, menurutku Makassar adalah kota yang jelek, titik. Selalu saja mau keluar dari Makassar. "That's the dream!" pikirku, merantau dan Carpe Diem! Tapi keinginan untuk merantau jauh dari Makassar adalah pengalaman yang universal dirasakan sama semua orang yang tumbuh besar di kota ini. 

Di sini banyak kurangnya. Kalau bosan cuman bisa ke mall atau cafe, sulit hemat. Cuacanya terlalu panas, trotoar dikit, jalan kakinya ribet. Pantainya tidak seperti pantai, justru seperti got yang besar, kotor. Banyak yang bikin resah dan bikin benci di sini. 

Tapi sekarang, rasa bencinya semakin memudar, mungkin karna capek dan terbiasa. Apresiasi juga bertumbuh, mungkin karna ketemu banyak orang-orang keren yang bikin Makassar terasa lebih hidup. Yang dulunya Makassar terasa sempit dan membosankan, sekarang sempit dan membosankan seru juga!
.
Big thanks to kak @rchmtmstmn for inviting me into this project and injecting ideas I could use to visualize Makassar as icons. ✨️
18
back to up