Instagram story viewer> @beyondwallscollective> Tagged
3.2K
followers
1088
following
✨🌱🐚Amplifying (diaspora)communities and resisting colonial erasures through research, storytelling and art.
POSTS STORIES REELS TAGGED
Arsip tidak pernah netral. Ia dibentuk oleh keputusan tentang siapa yang dicatat, dari sudut pandang siapa, dan untuk kepentingan apa. Membaca arsip berarti membaca kuasa: apa yang dicatat, apa yang dibungkam, dan siapa yang berhak bercerita.

Suzanne Rastovac, peneliti, kurator, dan salah satu pendiri Beyond Walls. Louie Buana, penulis dan peneliti asal Makassar di Universitas Leiden. Keduanya membawa pengalaman bekerja dengan arsip kolonial, koleksi museum, naskah, dan warisan budaya.

Bersama moderator Theoresia Rumthe, mereka mengajak kita membayangkan arsip bukan hanya sebagai situs kuasa, tetapi juga sebagai ruang berbagi pengetahuan, membangun solidaritas, dan merayakan kreativitas.

Kawan Jazirah, mari bergabung dengan mendaftar melalui tautan berikut atau yang ada di bio kami.

—

Archives are never neutral. They are shaped by decisions about who gets recorded, from whose perspective, and in whose interest. Reading archives means reading power: what is recorded, what is silenced, and who gets to tell the story.

Suzanne Rastovac is a researcher, curator, and co-founder of Beyond Walls. Louie Buana is a writer and researcher from Makassar at Leiden University. Together, they bring their experience working with colonial archives, museum collections, manuscripts, and cultural heritage.

Together with moderator Theoresia Rumthe, they invite us to imagine archives not merely as sites of power, but as spaces for sharing knowledge, building solidarity, and celebrating creativity.

Kawan Jazirah, join the discussion by registering through the link below or the one in our bio!

🔗 linktr.ee/JazirahTimur

#JazirahTimurLabuhanKata #HariRayaLiterasiKotaAmbon #TahitNiWear #JazirahDiskusi
17
di hari terakhir saya berada di amsterdam, saya berjalan tanpa alas kaki. di atas tanah yang dingin itu, hampir saja saya berbisik: saya ingin tinggal di sini. tetapi kalimat itu saya tahan kembali, sebab saya tahu dukun kecil di dalam diri saya sering kali mengabulkan permintaan-permintaan yang diucapkan dengan sungguh. jadi permintaan itu saya tunda dulu.

amsterdam selalu terasa seperti rumah. saya punya keluarga di jalan bali, kawan-kawan beyondwalls collective. dua hari sebelum pulang, saya singgah dan kembali bertemu keluarga wanua: suzanne, jeremy, glenda, armando, usi jermaine, ghilaine, tabitha, djerimo. kami duduk membentuk lingkaran, mengobrol tentang banyak hal yang menyenangkan, lalu menonton bersama draf video residensi wanua. ketika waktu pulang tiba, rasanya semua ingin berpelukan lebih lama.

di malam terakhir, saya makan malam di rumah monica dan niels, sambil mendengarkan sepotong lagu yang sedang mereka kerjakan. dan sekarang, saya juga sudah memiliki keluarga baru di read my world.

semua kesempatan dan kebaikan ini datang begitu saja kepada saya, mengalir tanpa banyak usaha. saya merasa beruntung dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki nilai yang sama. di mana saya dapat meletakkan hati tanpa banyak kuatir. saya juga merasa beruntung karena memilih hidup yang saya jalani sekarang dengan sungguh-sungguh. mungkin lebih dari itu, saya beruntung karena selalu percaya pada hidup tanpa ragu sedikit pun.

terima kasih sekali lagi, amsterdam, dan kota-kota kecil lain yang telah menerima saya singgah.

untuk sekarang, saya masih ingin merawat rumah bapak di ambon, mungkin satu atau dua tahun lagi, sambil membiarkan hati saya tetap terbuka pada kemungkinan-kemungkinan di masa depan. toh kini saya tahu, saya bisa tinggal di mana saja, dan kapan saja.
13
back to up