Instagram story viewer> @ceritakejora> Tagged
5.5K
followers
3215
following
Capturing Moments Through Visual Storytelling | Personal Session @byceritakejora | Managed By @aamarendra | DM for Business Inqueries 😄
POSTS STORIES REELS TAGGED
PART 2 – Selain fotonya yang bercerita, yang buat gue keren banget dari @ceritakejora itu workflownya yang bener-bener satset.. nah, di sini Mas Rey spill alat tempur andalannya.
22
PART 1 - Kamera Fuji buat foto di cafe udah biasa.. Tapi gimana ya kalau dibawa motret sepedaan ultra?

Dalam beberapa hari ke depan, gue pengen share obrolan gue sama @ceritakejora – fotografer yang seringkali muncul di rute @audaxrandonesia dan hajatan ultra lainnya.

Kalo belum, jangan lupa follow dan kepoin hasil fotonya beliau yaww!
14
1st time ikutan Audax 😆

dengan pedenya aku ikut 200, ternyata aku lemachhhh 🫠

#audax #yogya #cycling

start masih seger, walaupun ada mulesnya.

“ke jalan raya masih jauh bu?”
👩‍🦰 whoaaaaaah muasiiiih jawooohhhhh mbaaaaaq~

“bole dorong ga??”

👦🏻: pake POWERRRRRRNYAAAA 👊

Nah part ini aku capek banget, berat ah gowesnya pengen tidur aja sampe besok 😾

terbawa arus pergaulan.

“aduh bentar rante aku ga enakeun”

ini kok curam banget??! tangan aku keringetan, berenti dulu di depan lah ini seraaaam.

jangan cari tau foto yg tampak depannya.
😭😭😭😭😭
42
Satu Sabtu yang begitu panas dan berangin. Dua ratus kilometer, dan tentu saja, penuh cerita.

Kali ini home game, alih-alih away game. Jalan-jalannya tak asing, beberapa bahkan sudah berkali-kali kulewati. Tapi rupanya jalan yang sama selalu punya cara memberikan rasa yang baru.

Aku menyiapkan diri sedikit lebih serius. Bukan ultra pertamaku tanpa Rudy, tapi ini jarak terpanjangku flying solo. Sebisa mungkin semua dihitung. Latihan, fisik, nutrisi, rute, pace, sampai urusan sepeda.

Dan hari itu berjalan nyaris seperti rencana.

Di antara panas dan angin laut selatan yang seolah tak habis-habis, ada keberkahan bernama teman-teman baru. Menjadi senasib sepenanggungan untuk beberapa puluh kilometer membuat angin terasa sedikit lebih ringan dan jalan… ya, lebih pendek.

Mungkin memang begitu nikmatnya perjalanan jauh. Kita berangkat membawa perhitungan masing-masing, lalu pulang membawa cerita tentang orang-orang yang sebelumnya bahkan tak kita kenal.

Persiapan memang tak pernah bisa dipungkiri perannya. Fisik bisa dilatih. Nutrisi bisa dihitung. Rute bisa dipelajari. Sepeda bisa dipahami sampai bunyi-bunyi kecilnya.

Tapi rupanya tak ada latihan yang bisa mempersiapkan kita untuk kehilangan.

Di 23 kilometer terakhir, kudengar berita itu. Kak Ria telah pergi.

Sejenak waktu seperti berhenti. Kilometer yang tersisa mendadak terasa berbeda.

Apalah kita dengan segala persiapan dan perhitungan, ketika Yang Kuasa berkehendak lain.

Dalam singkatnya kesempatan mengenal Kak Ria, yang tertinggal adalah sosok yang kehadirannya selalu membawa terang dan kebaikannya menghangatkan seisi ruangan.

Al-Fatihah untuk Kak Ria. Semoga terang pula jalan pulangnya. Semoga semua yang mencintai dan menyayanginya diberi ketegaran dan keteguhan hati. Amin.

Tatkala dua ratus kilometer berlalu, aku sampai.

Di garis finis, pelukan Rudy terasa berlipat lebih hangat. Aku kembali diingatkan pada sesuatu yang sederhana: bahwa hakikatku pergi pagi itu memang untuk pulang ke pelukan.

Terima kasih untuk semua jiwa yang mengayuh di Sabtu itu. Yang berbagi jalan, angin, cerita, atau sekadar saling menyapa.

Jalan yang sama, rasa yang baru.
Pergi, mengayuh, lalu pulang. 🤍
83
1.200 kilometer dari sisi berbeda.

Bukan hanya tentang perjalanan yang selesai,
tapi tentang banyak cerita yang ikut berjalan bersama.

Tentang kawan yang kembali untuk menebus cerita yang menggantung di garis finish

Tawa di tengah lelah, saling menunggu, saling menjaga dan orang-orang baik yang membuat perjalanan panjang terasa lebih bermakna.

Ada pula sosok yang biasanya menjadi bagian dari banyak perjalanan, kali ini harus memberi tubuhnya lebih banyak waktu untuk pulih.

Dan di antara begitu banyak cerita baik,
perjalanan kali ini juga meninggalkan satu ruang yang sunyi.
Seorang kawan menyelesaikan perjalanannya dengan cara yang berbeda.
Tidak banyak kata yang perlu dituliskan,
selain doa dan penghormatan untuk perjalanan terakhirnya.

Pada akhirnya, 1.200 kilometer kali ini
bukan lagi sekadar tentang seberapa jauh pedal dikayuh dan waktu

Ada harapan yang akhirnya terbayar,
kesehatan yang sedang diperjuangkan,
pertemuan yang patut dirayakan,
juga kehilangan yang mengingatkan arti sebuah kepulangan.

[𝗯𝗲𝗿𝘀𝘆𝘂𝗸𝘂𝗿]

Untuk perjalanan, pertemuan, kesehatan,
dan waktu yang masih diberikan.

Karena pada akhirnya,
bisa kembali pulang juga bagian dari perjalanan.

Thanks @bobariabharuna @audaxrandonesia 🙏
41
Bertutur dengan cahaya, #berbagicerita 

Hai hai..
Perjalanan 200 km @audaxrandonesia kemarin, terekam oleh rana @rbasmara dan menjadi jejak cahaya bersama @ceritakejora 

Mengayuh, memotret, menyapa jalan, menikmati jeda, dan menemukan cerita dari gradien yang menyiksa sampai hembusan angin yang menahan roda. 

Sampai jumpa dalam putaran roda selanjutnya.
10
back to up