Instagram story viewer> @dianhasrieclass> Tagged
398
followers
259
following
#improveyourselfwithdhc
• Intensive Class (Full Day)
• Private Class
• Pageant Class
• Sharing Time
Founder @dianhasrie
📱: 081349555909 (WA only)
POSTS STORIES REELS TAGGED
Public Speaking atau Wicara Publik menjadi dasar untuk kita melatih kepercayaan diri, pola pikir dan kemampuan mengolah kata kita dalam melakukan komunikasi setiap harinya. Public Speaking bukan hanya kita lakukan saat berkomunikasi secara langsung namun dalam segala jenis komunikasi, termasuk dalam komunikasi dalam dunia digital atau sosial media. Terima kasih untuk kesempatannya @hmpsfkipulm bisa berbagi dan belajar bersama tentang Public Speaking dalam acara @aruh_xvii sukses terus untuk kita semua 😊🤍

📹 by @fawwaz_kh 
.
.
.
#AruhXVIIHMPSFKIPULM
#dianhasrieclass 
#publicspeakingclass 
#yourpersonaldevelopmentclass
#mentorkalsel
12
Akuntabilitas dalam komunikasi bermakna dapat ditelusuri, dapat diverifikasi serta dapat ditepati, selaras dengan tema dihari ini “Peran Public Speaking dalam Membangun Komunikasi yang Efektif dan Akuntabel”.

Terima kasih untuk kesempatan yang bermakna ini @dinsosprovkalsel sudah mempercayakan saya bersama @dianhasrieclass untuk menutup kegiatan Bimtek SAKIP dengan berbagi seputar Public Speaking, semoga pengalaman yang sudah dibagikan bisa diterapkan dan bisa membantu dalam memaksimalkan koordinasi dan komunikasi efektif internal Dinas serta Pihak terkait kedepannya. 

#dianhasrieclass #publicspeakingclass #selfimprovement #classbanjarbaru #dhcfile2026
14
[Mamang Mangariau Naga]

Mangariau Naga secara harfiah dapat diartikan sebagai “memanggil naga.” Namun, kata “memanggil” dalam bahasa Indonesia tidak sepenuhnya merepresentasikan makna kata mangariau dalam bahasa Banjar. Mangariau memiliki makna yang lebih spesifik, yakni berkaitan dengan konsep religi magis atau hal-hal gaib. Dalam bahasa Banjar tempo dulu, mangariau berasal dari kata kariaw, yang berarti "tarikan gaib". Maka, mangariau dapat dimaknai sebagai “menarik secara gaib.” Jika seseorang kana kariaw, artinya ia terkena pengaruh gaib atau guna-guna.

Sementara itu, “naga” merujuk pada makhluk mitologis berupa ular besar, yang dikenal dalam berbagai kisah kosmologis dan juga dipercaya keberadaannya oleh sebagian masyarakat Banjar. Dalam budaya Banjar lama, istilah “naga” sering muncul dalam ucapan sehari-hari, seperti banaga-naga yang berarti “ada naganya,” atau bananagaan yang artinya “ada unsur naganya.” Misalnya, benda-benda antik seperti tajau (tempayan) dan rancak (belanga) sering disebut memiliki naga-naganya karena diyakini mengandung kekuatan gaib.

Dalam kerangka religi Banjar, Mangariau Naga adalah sebuah ritual yang melibatkan kekuatan gaib dan penggunaan mantra atau mamang dalam bahasa Banjar. Ritual ini merupakan bagian dari praktik spiritual untuk berhubungan dengan kekuatan gaib melalui proses mangariau.

Sumber: 
Akhmad Solihin, Religi Mantra dalam Puisi Bahasa Banjar "Mangariau Naga" di Indoborneonatural

Trigatra Bangun Bahasa
Utamakan bahasa Indonesia
Lestarikan bahasa daerah
Kuasai bahasa asing

Pakaian:
@tinggelone_art @tinggelone25 

@dianhasrie @dianhasrieclass 
@balaibahasakalsel @dutabahasa.kalsel
#PemilihanDutaBahasaKalsel2025
#DianHasrieClass
32
Kuntau adalah seni bela diri tradisional yang berkembang di Indonesia, terutama di daerah Kalimantan Selatan. Kuntau diyakini berasal dari seni bela diri Tiongkok, seperti kungfu, yang kemudian beradaptasi dengan budaya lokal. Seni bela diri ini berkembang sebagai bagian dari pertahanan diri masyarakat setempat, terutama dalam menghadapi penjajahan dan konflik sosial. 

Seni bela diri Kuntau tidak hanya mengedepankan aspek fisik, tetapi juga memiliki nilai-nilai filosofis yang mendalam. Para praktisi Kuntau diajarkan untuk memiliki kesabaran, rendah hati, dan mengendalikan emosi sebelum menggunakan kekuatan bela diri. Gerakan dalam Kuntau sering kali memadukan keindahan dan kekuatan, dengan teknik tangan kosong maupun penggunaan senjata tradisional. 

Hingga kini, seni Kuntau masih dilestarikan oleh berbagai perguruan bela diri di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Seni bela diri ini sering ditampilkan dalam acara budaya, seperti pernikahan dan festival daerah, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur. 

Kuntau memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan seni bela diri lain di Indonesia, seperti misalnya Pencak Silat. Selain itu yang membedakan Kuntau dengan bela diri lainnya adalah asal usulnya. Kuntau memiliki pengaruh kuat dari seni bela diri Tiongkok, terutama dalam teknik tangan kosong dan penggunaan senjata, sedangkan Pencak Silat lebih berakar pada budaya Melayu dan Nusantara, dengan variasi gaya yang berkembang di berbagai daerah. 
 
Kuntau bukan sekadar bela diri, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan kekuatan, ketahanan, dan kebijaksanaan masyarakat Nusantara. 

@dutabahasa.kalsel 
#dianhasrieclass #PemilihanDutaBahasaKalsel2025
13
back to up