Instagram story viewer> @harjonohonoris> Tagged
1.8K
followers
3624
following
✍🏻 Pebisnis Balogat'
🛍️ Bangun toko @obatmultiprima
🏞️ Bikin parfum terapeutik @samaascent.id
POSTS STORIES REELS TAGGED
Semakin dilarang-larang, maka secara emosional, Konsumen akan makin terdorong melanggar larangan tadi.
Itu tadi, rumus dari “Reverse Psychology” (cuplikan link-nya: bit.ly/Jualan-Teriak)

Secara awam, Reverse Psychology, memang terkait naluri untuk melawan. Didorong naluri memberontak terhadap tindakan pengekangan-pembatasan. Karena terkait dg insting “mempertahankan” kebebasan menentukan pilihan/pendapat sendiri (freedom of choice).

Itu sebabnya, semakin hak warga atas option di-batas2i dan choice-nya di-setting, maka Pemilih semakin bersikap resisten & sengit melawan (bit.ly/Warga-Marah).

Makanya, Reverse Pychology sangat manjur utk memprovokasi sikap antipati, terhadap pihak yg dikonotasikan “berwenang”, “mengontrol”, atau yg dianggap “musuh bersama masyarakat”:
Sehingga, semakin kekuatan yg dominan me-larang2, semakin Publik akan berani mengabaikan larangan tsb.

Kunci agar taktik Reverse Psychology bisa berdampak efektif adalah:

(1) Pahami behavior (perilaku) dan tendency (kecenderungan) sikap Audiens.
(2) Kenali desired behavior dan end-goal-nya.
(3) Bikin narasi “ajakan yg menantang”, menggunakan kata2 yg bisa men-twist sikap tidak linier.
(4) Jangan terlalu kentara ketika memanipulasi-membujuk-mempersuasi. 
Sebab, semakin Audiens sadar dirinya sedang dikecoh/telah dibohongi, mereka akan melawan balik.

Makanya, seperti disinggung sebelumnya. Agar taktik Reverse Psychology nampolnya efektif, prasyaratnya harus paham psikologi-behavior Audiens.
17
“Memaafkan” memang lebih mudah diucapkan ketimbang diterapkan. Namun dengan memahami bahwa nyatanya gaada manusia satupun yang gapernah berbuat salah, gue yakin lo bakal lebih mudah mengikhlaskan siapapun yang pernah nyakitin lo.

Seberat apapun hidup yang lo jalani, sekeras apapun perjuangan yang lo hadapi, sekejam apapun cobaan yang lo alami, jangan pernah ngebuat lo untuk berubah jadi orang jahat. 

Manusia emang gapernah luput dari dosa. Namun jangan jadikan itu alasan untuk tidak mengasihi dan berbaik hati bagi sesama.

Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin 😇🙏

@jenikaray @epo_dfenomeno @elisabethgultom @tito_yusuf @harjonohonoris 

@iceperience.id @saykoji 

#apologICE2023 #ICEperience2023 #ICEperience #BeatMaking #FreestyleChallenge
13
slide 1 : orang ke-3
slide 2 : visual line KPPZ
slide 3 : bullied
12
Joel Raphaelson, eksekutif di agensi periklanan Ogilvy & Mather pernah bilang:

Alasan konsumen membeli B dan tidak memilih A, bukan selalu krn mutu B lebih baik drpd A. 
Tp bs disebabkan krn merek B menyediakan informasi yg lbh meyakinkan. 
Atau memberi kepastian preferensial. Shg bs mnjd dasar keputusan utk membeli.
 
Maka, skdr muncul sbg pilihan/favorit, tdk cukup lagi jd kunci penentu keterpilihan produk-merek.

Apalagi dlm situasi banjir info dan kompleksitas opsi-pilihan, di kompetisi yg brutal spt skrg.
 
Mmg betul, aspek kedekatan (affinity) merek dan iming2 harga murah (masih bisa) memicu keputusan pembelian.
Tp cara2 promosi-proposisi,  bhkn taktik re-targeting & engagement, bisa bikin pembeli loyal pindah ke merek pesaing.
 
Karena, dlm proses eksplorasi-evaluasi, pilihan2 tsb tetap diperbandingkan thdp yg lain.

Tak cuma dibandingkan scr mutu. Tp jg berdasar beragam spesifikasi atau kriteria preferensi personal konsumen.
 
Itu sebabnya, (spt table yg ditampilkan sebelumnya: bit.ly/3xeCNkY) merek produk yg tak dikenal (bhkn cuma fiksi/rekaan) pun, efeknya bs men-disruption potensi keterpilihan merek2 andal yg populer mnjd pilihan masyarakat.
 
Semakin konsumen mudah terpengaruh wisdom of crowds (trmsk review-rating-recommendation dari friends-fans-followers),
semakin keputusan pembeliannya bersifat instingtif dan irrasional.
 
Apalagi diperparah sikon eksternal yg memicu perilaku cognitive-behavioral bias (ditampilkan di sini bit.ly/3rfPrw2).
 
Misalnya gara2 efek kelangkaan barang. Yg memicu reaksi panic buying.

Atau gara2 efek endorsement tokoh ber-authority dan pendapat orang banyak (social proof). Yang efeknya bs menjerumuskan konsumen, memilih yg bkn keputusannya sendiri.
 
Hikmah pembelajaran jelang era Web 3.0 (disebut juga era Creator Economy), maka Content Creator mutlak hrs belajar terus perubahan mindset dan Consumer Behavior. 

Trmsk dg bljr memahami motif-modus-alasan dari buying decision making process.
 
#AtlasBehavioralScience
#BehavioralSciencePaten
12
Istilah Big Data sedang naik daun.

Biasanya, Big Data dibahas di level korporasi. Terkait keputusan bisnis strategis. Utk prediksi trend pembelian & perubahan consumer behavior. Atau mendeteksi anomali & memitigasi risiko strategi bisnis.

Tp kini, Big Data dikaitkan dg Pemilu & masa jabatan Presiden. Shg ramai jd polemik pengamat, pejabat sampai politisi-wakil rakyat.

Sesuai namanya, Big Data identik dg data bervolume besar.

Tp tingginya dimensi, serta sifat data yg kompleks-abstrak-acak-tidak terstruktur, menyebabkan Big Data potensial jd problem.

Apalagi jika pengolahan Big Data tdk didukung teknologi memadai; dg algoritma yg tdk mumpuni & ilmuwan yg tak kompeten.

Krn kompleksitas Big Data bs menimbulkan noise. Korelasi palsu. Homogenitas semu. Yg tidak stabil. Terus ber-ubah2. Shg mempersulit penarikan kesimpulan yg benar scr real time.

Yg menarik, polemik Big Data jg berpotensi memicu distorsi. 

Misalnya, krn Big Data bkn dipakai sbg alat analisis. Melainkan jd dasar argumen pembenaran pendapat:

Krn jumlah datanya banyak, maka dianggap merepresentasi besarnya aspirasi rakyat. Dan pendapatnya dianggap pasti benar.

Pdhl idealnya, kebenaran Big Data tdk didasarkan banyaknya data. 

Sebab, skdr “Volumenya” besar, tdk menjamin datanya pasti benar. 

Apalagi, jk 9 aspek “V” lainnya, bermasalah:

Misalnya krn problem Veracity (akurasi data). Validity (kelayakannya) rendah. Variety (keragaman). Hingga Vogueness (data-scientistnya salah baca data).

Semakin data yg diolah kategorinya tdk layak. Dikumpulkan scr sembarangan. Pengelolaannya tdk transparan. Cara analisanya tdk bertanggungjawab. Apalagi data scientist-nya tidak kredibel atau bereputasi baik. Maka Big Data makin berpotensi disalahgunakan.

Misalnya, diperalat mnjd pembenaran pendapat yg keliru. Namun dipaksakan jd kebenaran.
Hanya krn sesuai selera dan kepentingan kelompok tertentu.

Krn itu sangat berbahaya, jika Big Data justru memicu Big Problem. 
Atau dijadikan pembenaran atas Bad Decision.

#AtlasBehavioralScience
#BehavioralSciencePaten
31
Web 3.0 (atau Web3), sdg ramai dibahas.

Trmsk dlm konteks Metaverse. Maupun terkait kesadaran ttg efek Mobile Internet (atau Web2) yg ada skrg.

Walau sudah hampir 30 tahun berlangsung, faktanya msh langka yg menyadari bhw praktik pengelolaan Internet selama ini, ternyata se-mena2. Manipulatif. Bahkan eksploitatif.

Awalnya, Internet generasi pertama (Web1), adalah sistem yg terbuka.

Revolusi akses informasi yg dipicu “penemuan” world-wide-web (WWW) ini, berlangsung antara periode 1995 hingga 2004.

Tp di era Web2, segelintir pengelola platform, melancarkan revolusi interaksi sosial. 

Mengubah platform mnjd social web. Yg kemudian menghegemoni segala urusan keseharian manusia.

Meroketnya popularitas smartphone, aplikasi, eCommerce dan Internet-of-Things, makin memudahkan mereka, dlm waktu singkat bs menjaring se-banyak2nya pengguna.

Sbg pengguna awam, kita sebenarnya merasakan ada yg tidak beres:

Walaupun beragam aplikasi memang membantu urusan se-hari2 jd mudah-murah-praktis, tp semua tadi hrs ditebus dg kita hrs menyerahkan data. Yg scr sepihak, kemudian dikelola & disimpan terpusat.
 
Uniknya, pengguna harus ttp bayar server, pengelolaan data, dan beaya pengamanan data tsb.

Padahal data privacy, identitas personal dan keamanan data tsb, jadi bulan2an.

Dimanipulasi dan dieksploitasi. Dibocorkan. 
Atau dijual kpd pihak ke-3 trmsk sponsor.

Tapi, walau sdh puluhan tahun kita dikerjain, kita toh tak bs berbuat apa2.

Kemudian terbit kesadaran ttg Web3. 
Yg mensyaratkan prinsip desentralisasi dan demokratisasi. Sehingga potensi dominasi oleh raksasa2 platform, bisa dicegah.

Makanya, bagi startup dan UMKM, Web3 menjadi peluang bagus.

Trmsk dlm memaksimalkan
potensi pasar ceruk (niche). Yg butuh solusi spesifik, unik.

Sayangnya, ketidakpahaman kalangan awam, spt mengalihkan perhatian publik, dari substansi persoalan.

Diskusi ttg pro-kontra Metaverse, crypto-currency atau blockchain misalnya, kalah meriah dibanding viralnya publikasi selebriti atau tokoh2 yg mendadak demam Metaverse & NFT.

Tp setidaknya kesadaran publik mulai bangun. 
Bhw ada yg tdk beres dlm urusan internet selama ini.

#AtlasBehavioralScience
#BehavioralSciencePaten
45
back to up