Instagram story viewer> @rokateater> Tagged
1.4K
followers
258
following
a Yogyakarta-based contemporary performing arts ensemble
POSTS STORIES REELS TAGGED
Tepat sebulan lalu, “Curriculum Vitae, 2000” dipentaskan di @d_teaterplatform. Mungkin saya memang hangover sampai memerlukan satu bulan, bahkan satu tahun sejak pentas tahun lalu di @psbk_jogja, untuk bikin unggahan CV2000. Ini kayaknya jenis hangover yang, kata tokoh antah-berantah bernama Hengky, tak dapat dijinakkan dengan air kelapa muda. Agak alay sih, tapi akhirnya saya menyutradarai lagi di bawah nama @rokateater, setelah terakhir pada 2019, lima tahun silam.

Pentas di Jogja dan Jakarta adalah dua versi yang “agak” berbeda. Ada banyak revisi dan penambahan yang kami lakukan. Meski begitu, keduanya tak bergeser jauh, masih bicara tentang monster bengis nan buas yang kita kira telah mampus. Rupanya ia cuma berganti baju kebesaran dan horornya, mulai memangsa kita.

Nasib memang musykil ditebak. Tapi ini jenis nasib yang sebenarnya bisa kita cegah. Dasar orang kita tidak percaya nubuat sejarah. Kini celakalah kita meratapi hidup yang keparat. Dan boleh jadi, kamu akan dimangsanya sewaktu-waktu.

Begitu kalian keluar dari gedung pertunjukan, menatap kenyataan sekitar yang jahanam, lalu menyadari teater semacam alegori Gua Plato. Dan begitulah adanya, teater membuat mekanisme kerja si monster itu, untuk sesaat, kelihatan.

Saya ingin sekali menulis catatan penyutradaraan, tentang bagaimana saya mengelaborasi spektrum presentasi dan representasi, akting dan kewajaran, tari dan gerak, fakta dan fiksi, sejarah dan spekulasi, dan seterusnya; tentang bagaimana mengoplos banyak indeks, bentuk, pendekatan, dan seterusnya. Tapi itu terlalu serius. Itu nanti saja. Setidaknya, saya mulai dengan takarir singkat ini.

Saya meyakini, berkumpul dengan banyak orang bisa menjadi obat mujarab bagi banyak jenis krisis, setidaknya bisa saling menguatkan. Termasuk teater, musykil dibikin sendirian, mesti berkumpul dengan orang lain. Karena itulah, ada banyak orang dan pihak yang turut menyokong CV2000. Saya mesti menyebut banyak nama, tapi hampir pasti ada nama yang terlewat, sementara medsos ini tak cukup lapang menampung segala. Mereka pastilah paham bahwa manusia sebaiknya menjauhi sifat riya. Jadi, Terima Kasih tak terhingga.

📷 @andimagesartchive (arsip ditp)
23
tahun ini rasanya sulit untuk berkata baik-baik saja. kondisi ekonomi tidak ramah, kelakuan pengurus negara sering kali membuat frustrasi, dan berita buruk datang bertubi-tubi. 

di tengah itu, aku tetap ingin bersyukur karena masih bisa meniti silang antara seni dan sekeliling: menulis, memproduseri, mengurasi, memprogram, hingga kerja-kerja administratif yang kerap tak terlihat tapi menentukan. justru tahun ini, wilayah administratif—laporan, nota—menjadi yang menebal karena repetisi, dibading tahun sebelumnya. new skill unlocked!

meniti silang satu: mempertemukan bidang character building dengan seni pertunjukan dalam logika ala training center—jujur saja, tidak gampang. tapi tidak mustahil. lalu, tahun ini pula aku berkesempatan mengurasi arsip film garin nugroho menjadi sebuah pameran. karya-karya awal beliau, dari debut hingga akhir 90-an, “galak” dan tidak jawa-sentris.

di biennale jogja 18 kerja bersama warga boro, bangunjiwo, dan panggungharjo mengajarkanku bahwa kolaborasi seni dan desa bukan soal membawa program, melainkan soal negosiasi, dan kesediaan untuk tidak menjadi pusat. di situlah batas-batas praktik seni diuji.

pertemuan dengan fren-fren madura bermula dari rokateater. shohifur—melihat temannya ini sedang nganggur—mengajakku memproduseri karya terakhirnya tahun ini. dari situ bertemu banyak teman baru yang OG bin lucu. pertemuan ini berlanjut saat mengunjungi babad lembana 5. keduanya membuka kesadaran lain: tentang keberanian bekerja di luar pusat, tentang praktik yang berjalan dengan sumber daya minim tapi daya tahan tinggi—dan tentang fakta bahwa kerja seni hari ini lebih banyak ditopang oleh solidaritas.

persilangan lain hadir dari satu jawilan kak latief s. nugaha: lahirlah tulisan pertemuan latar kajianku, sastra arab, dengan pengalaman kerja seni yang—ya—masih segini juga. terima kasih, kak.

tahun ini newbie pekerja lepas. banyak gelisahnya. namun rezeki berlimpah: ketemu banyak pekerja balik layar yang muda dan berbakat, karya dan seniman yang tajam, diskusi bergizi, serta teman-teman baru dari pamekasan, jember, gresik, surabaya, cirebon, bandung sampai lampung. wah senang!

making sense, together 🌱
29
back to up