Instagram story viewer> @guhapiyandeling> Posts
545
followers
3
following
Bamboo Craftsmen Sanctuary
OMAH @omahlibrary (DM here)
Link below to visit (everyday)
POSTS STORIES REELS TAGGED
Di bangunan ini berukuran diameter 9 m, terbuat dari material bambu dan plastik poly carbonat. Pemetaan masalah-masalah arsitektur penting untuk memberikan analisa apa saja yang perlu dilakukan untuk mempermudah pekerjaan di lapangan sekaligus menambah nilai positif budaya. Dalam kasus ini apa yang kami lakukan di Bandung, khususnya di dalam bangunan 3 lantai yang terbuat dari bambu ini membantu menyelesaikan permasalahan angin sehingga bentuk yang tercipta yaitu silinder adalah hasil kompromi termudah, tersederhana sesuai dengan namanya saderhana.

Poly carbonat dengan frame bambu ditujukan untuk memberikan lapisan pelindung pertama, sekaligus plastik dengan ketahanannya akan baik untuk mempreservasi bambu dengan maksimal. Seluruh engsel menggunakan bambu. Gridnya 3.00 m, dengan akses tangga ada diantara lapisan pertama dan kedua. Bangunan ini dijangkar dengan kamar mandi di belakang menyerupai bentuk konde. Bangunan ini tidak mahal tetapi juga eksperimental, dengan tujuan membuktikan bahwa arsitektur bambu bisa didekati dalam intensi yang analitik juga intuitif yang terlihat dari komposisi detailing di sekujur ruang-ruang, pintu, jendela, langit-langit. Dari luar ia platonis dari dalam ia penuh pola matra dari berbagai sudut pandang dan wastra keberagaman pola nusantara yang begitu banyak dan kaya dalam sebuah komposisi

Detailing by 
#dotworkshop
.
#realricharchitectureworkshop by @guhapiyandeling
3
2 years ago
Download
Piyandeling is shortlisted in the Dezeen Awards 2022 in rural house category ^^ Piyandeling  Is a craftsman organic laboratory. It’s a building based on the transformation of experimentation of multiple materials such as bamboo, stone, and plastic.

Thank you for Dezeen, and we are together with 
Lake Flato Architects,MAPA Architects, PMA Madhuhala,TRU Architects. They are great architects that we admire and learn from (their framework, design approach, detail, and many more).

After this, it’s a public vote ^^. Hopefully the process of transformation in Guha will always bring in-depth learning for us that can be shared to other people.

RAW Architecture implements a sustainable design approach in an effort to contribute to human and environmental sustainability by reducing carbon footprints. Departing from the context of the tropical climate in Indonesia with high rainfall and sunlight intensity, the space is designed to be responsive to the climate.

This is manifested in the layout of mass and space-oriented to the path of the sun, while the skin plays a role in reducing sunlight, protecting bamboo, as well as air circulation. It is also supported by details through craftsmanship-making processes.

This project has been shortlisted in the business building category of Dezeen Awards 2022.

My team and I are really pleased to get the news :) hoping the architecture in Indonesia can spread to the world. Congrats to @guhatheguild @realricharchitectureworkshop @omahlibrary and all of the team, clients, including craftsmen, and friends. #formingbricolage #RAWarchitectureaward

Vote for this project! www.dezeen.com/awards/vote
Voting closes on 11 October. Check the link in our bio
.
#Piyandeling #Piyandelingartisanhouse #Ruralhouse #Dezeen #Dezeenaward #dezeenawards2022 #shortlisteddezeenawards2022
#realrichsjarief #realricharchitectureworkshop #arsitekturindonesia taken in RAW Architecture - Realrich Architecture Workshop by @guhapiyandeling
0
4 years ago
Download
Dalam hiruk pikuk kota besar, relasi manusia dengan alam menjadi sebuah titik refleksi yang dicari-cari dalam keseharian. Bambu, material daur ulang, pola-pola ketukangan yang berkelanjutan menjadi salah satu refleksi kami. 

Sejak tahun 2020, tempat ini yang bernama PIyandeling yang ada di Bandung, menjadi salah satu sanctuary tukang-tukang bambu yang dahulu berkarya bersama kami di Alfa Omega dan Guha the Guild di Jakarta. Enam tahun kemudian Piyandeling hadir membuka pintu sebagai ruang baca dan ruang refleksi, dua hari dalam satu minggu. 

Dengan inisiasi ini kami berharap Piyandeling menjadi satu tempat untuk merawat energi baik—bahwa bambu, refleksi, dan ketukangan, pada akhirnya, adalah tentang berbagi, belajar, dan hidup bersama.

Kunjungan akan dibuka dimulai pada hari Sabtu, 21 Februari 2026 dan Minggu, 22 Februari 2026.

Dengan pilihan sesi berikut:
Sesi 1: 10:15 – 12:15 WIB
Sesi 2: 13:30 – 15:30 WIB
Sesi 3: 16:00 – 18:00 WIB
Sesi Setengah Hari / Double Pass: 13:30 – 18:00 WIB
Sesi Satu Hari / One Day Pass: 10:15 – 18:00 WIB

Open Guided Home Tour Experiencing Guha Piyandeling, Pukul 16:00 – 18:00 WIB

Untuk reservasi bisa klik link di Bio kami, atau mengisi form berikut bit.ly/Visit_OMAHBookstore

Photo by: 
1-5, 10-11: @luil_mn
4, 6-7, 13: @bacteria.archphotography
7, 13: @farhannash

#omahlibrary #bandung #piyandeling #mekarwangi #indonesia by @guhapiyandeling
25
8 months ago
Download
Jika ditanya untuk siapa perpustakaan ini didirikan, jawabannya tertera lembut pada punggung buku-buku kami: “untuk mahasiswa”. Dua kata itu tersemat sebagai pengakuan atas sebuah ironi, di mana pengetahuan arsitektur kerap kali terkunci di balik harga yang tak terjangkau oleh mereka yang paling membutuhkannya. Ruang ini hadir untuk siapa saja yang pernah terpaksa meletakkan kembali buku yang diyakini akan mengubah cara berpikirnya, sekadar karena isi dompet memiliki rencana lain.

Kami percaya bahwa uang tak seharusnya menjadi penjaga pintu bagi mereka yang berniat untuk belajar. Karenanya, perpustakaan ini bernapas melalui donasi, dan bagi yang tengah kesulitan, sebuah surat sudah cukup untuk membuka pintu kami. Keputusan ini tidak lahir dari kemurahan hati, melainkan dari ingatan. Kami sekadar mengulurkan tangan ke masa lalu kami sendiri, kepada mahasiswa yang terlanjur mencintai ilmu sebelum mampu membayar harganya. Mereka mungkin datang tanpa materi, namun membayar lunas lewat ketekunan dan kehadiran yang setia. Selama masih ada mahasiswa yang berdiri lama di depan rak buku sambil berhitung, janji pada punggung buku kami belumlah purna. 

Apa yang terjadi di balik sampul-sampul buku itu, dan bagaimana kami perlahan menerjemahkan ingatan masa lalu menjadi tempat yang kini bisa disinggahi siapa saja, adalah cerita panjang yang tak cukup diringkas dalam satu tarikan napas. Kami menyusun jejak perjalanannya pada halaman-halaman setelah ini, menanti untuk dibaca oleh siapa pun yang mungkin pernah merasakan hal yang sama.

Kalau ada yang bertanya untuk siapa sebenarnya perpustakaan ini ada, jawabannya tidak perlu kami karang panjang-panjang. Ia sudah tercetak di punggung buku-buku yang kami terbitkan sendiri. Lihatlah judul-judulnya: Filsafat Arsitektur untuk Mahasiswa. Teori Arsitektur untuk Mahasiswa. Cara Menulis Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa. Buku demi buku, dua kata yang sama terus kembali di ujung judulnya, seperti sebuah pengakuan yang tidak bisa kami sembunyikan: untuk mahasiswa.

Kami menuliskan dua kata itu dengan sadar, karena kami tahu satu kenyataan yang jarang diucapkan terang-terangan di dunia arsitektur. Buku arsitektur itu mahal. Sebagian be by @guhapiyandeling
1
2 months ago
Download
Ada satu hal yang membuat perpustakaan kami tidak seperti yang biasa dibayangkan orang, ia tidak diam. Sejak awal, yang kami rawat bukan kesunyian, melainkan percakapan. Buku memang inti kami, tetapi bukan benda mati. Mereka menjadi bahan bakar untuk membaca, berdebat, bertanya, dan menajamkan cara berpikir tentang arsitektur.

Lebih dari satu dekade lalu, kami lahir bukan dari koleksi buku, melainkan dari sekelompok orang yang ingin duduk bersama membicarakan arsitektur di luar ruang kerja dan kedai kopi. Buku-buku kemudian berkumpul di sekeliling percakapan itu. Sampai hari ini, kami membuka ruang bagi praktisi, mahasiswa, akademisi, dan siapa saja untuk belajar melalui diskusi, kelas, dan dialog.

Ruang pertama kami hanya selebar 2,4 meter dan panjang 5 meter. Semua duduk di lantai tanpa panggung, pembicara berada di antara mereka. Pernah 45 orang datang hingga sebagian meluap keluar, berdiri di atas meja agar bisa melihat. Yang kami ingat bukan ramainya, melainkan pelajaran bahwa kehausan akan percakapan bisa jauh lebih besar daripada ruang yang kami sediakan.

Maka percakapan itu kami rekam dan bagikan agar menjangkau mereka yang tak pernah kami temui. Salah satunya seorang mahasiswa yang meragukan jalan yang dipilihnya. Ia menemukan rekaman diskusi tentang pahit dan manis menekuni desain. Yang menolongnya bukan janji bahwa arsitektur akan mudah, melainkan kejujuran tentang beratnya, keraguan, dan alasan untuk bertahan. Ia kemudian datang ke seminar kami dan bercerita bahwa ia menyelesaikan studi, mulai berpraktik, dan tetap menekuni jalan itu, bukan karena menjadi mudah, tetapi karena ia tahu tidak harus menjalaninya sendirian.

Kami tidak menganggap diri sebagai penyembuh keraguan. Kami hanya menjaga ruang agar orang dapat jujur tentang arsitektur, tentang berat dan manisnya, keraguan dan harapan. Kami percaya percakapan seperti itu akan meluap, menemukan orang-orang yang membutuhkannya, bahkan jauh di luar jangkauan kami.

Barangkali itulah mengapa perpustakaan ini tidak diam. Yang kami simpan bukan hanya buku, melainkan percakapan yang terus bergerak, meluap, lalu kembali membawa cerita baru ke tempat ia bermula.

Ada satu hal yang membuat perpustakaan by @guhapiyandeling
1
2 months ago
Download
breath <3 @ Guha Piyandeling taken in Mekarwangi by @guhapiyandeling
22
2 months ago
Download
Kebanyakan perpustakaan dimulai sebagai gedung. Perpustakaan kami justru dimulai dari sebuah paviliun kecil di garasi rumah, tempat beberapa orang berkumpul untuk membicarakan arsitektur. Buku-buku datang belakangan, mengikuti percakapan itu.

Ketika kemudian kami membangun rumah baru, perpustakaan tidak dititipkan di sisa ruang, melainkan rumah itulah yang dirancang untuk memberinya tempat. Hingga hari ini, setiap orang yang datang sesungguhnya sedang bertamu ke sebuah rumah.

Cerita lengkap tentang bagaimana sebuah kebiasaan yang bermula di garasi perlahan menjadi sebuah perpustakaan kami bagi di slide-slide berikutnya >>>

Photograph by Mario Wibowo @mariowibowo_

Kebanyakan perpustakaan dimulai sebagai gedung: dirancang, dibangun, diresmikan, lalu diisi buku. Perpustakaan kami dimulai dengan urutan yang terbalik. Ia bermula sebagai sebuah paviliun kecil di garasi sebuah rumah, tempat beberapa orang berkumpul di akhir pekan untuk membicarakan arsitektur, dan buku-buku datang belakangan, satu demi satu, mengikuti percakapan itu seperti anak-anak yang mengikuti suara ramai.

Nama kami sendiri sudah mengakuinya. Omah, dalam bahasa Jawa, berarti rumah. Dan memang di dalam rumahlah perpustakaan ini lahir: dari koleksi pribadi, dari buku-buku yang terkumpul dari lingkaran kawan dan kolega, di sela-sela sebuah rumah tinggal yang juga menampung sebuah studio kecil. Kami tidak pernah berniat mendirikan sebuah lembaga. Kami hanya tidak ingin percakapan yang kami cintai itu berhenti, dan ternyata percakapan yang dijaga terus-menerus lama-lama membutuhkan rak, lalu ruangan, lalu rumah.

Kebanyakan perpustakaan dimulai sebagai gedung: dirancang, dibangun, diresmikan, lalu diisi buku. Perpustakaan kami dimulai dengan urutan yang terbalik. Ia bermula sebagai sebuah paviliun kecil di garasi sebuah rumah, tempat beberapa orang berkumpul di akhir pekan untuk membicarakan arsitektur, dan buku-buku datang belakangan, satu demi satu, mengikuti percakapan itu seperti anak-anak yang mengikuti suara ramai.

Nama kami sendiri sudah mengakuinya. Omah, dalam bahasa Jawa, berarti rumah. Dan memang di dalam rumahlah perpustakaan ini lahir: dari koleksi pribadi, dari buku-buku yang terkum by @guhapiyandeling
1
2 months ago
Download
Ada beberapa buku yang terasa seperti sedang mengajak pembacanya berjalan pelan, melihat dunia dari sudut pandang yang lebih sederhana, jujur, dan penuh rasa ingin tahu.

OMAH Library kembali menerima donasi sebuah buku dari @ismail.fahmi19 berjudul “Diary of A (Not So) Girly School Girl – The Travel Journal”. Dirilis pada 2020, buku ini merupakan karya unik yang ditulis oleh seorang anak perempuan berusia 8 tahun bernama Q (putri dari Kak Ismail Fahmi). Ia menuangkan pengalaman dan pengamatannya melalui bentuk catatan harian perjalanan. Ditulis dari sudut pandangnya sendiri, buku ini menghadirkan cara melihat dunia yang terasa jernih, lugu, tetapi tetap tangkas dan penuh kepekaan.

Melalui perjalanan, keseharian, dan hal-hal sederhana yang ia temui, pembaca diajak melihat bahwa pengalaman tidak selalu harus hadir dalam sesuatu yang besar. Kadang, justru detail-detail kecil yang sering terlewat mampu menghadirkan makna yang paling dekat dengan kehidupan sehari hari.

Yang membuat buku ini terasa menarik bukan hanya karena ditulis di usia yang sangat muda, tetapi juga karena cara pandangnya yang terasa jujur dan reflektif. Ada kepekaan dalam melihat ruang, perjalanan, dan manusia di sekitarnya, sesuatu yang perlahan membuat pembacanya ikut berhenti sejenak dan melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Mungkin suatu hari buku ini akan dibaca oleh seseorang yang sedang mencari sudut pandang baru. Atau mungkin menemukan pembaca yang diam-diam merasa dekat dengan cerita-cerita kecil yang ada di dalamnya.

Buku ini sekarang menjadi bagian dari koleksi OMAH Library @guhapiyandeling, dan menjadi bagian dari rak-rak pengetahuan yang terus bertumbuh bersama setiap cerita yang datang.

Buku ini telah tercatat dalam katalog OMAH Library Piyandeling dengan nomor:
G2.163 — “Diary of A (Not So) Girly School Girl – The Travel Journal”

Untuk koleksi lebih lengkap dapat diakses melalui https://bit.ly/OMAH_Collection

Terima kasih atas ketulusan yang telah dibagikan oleh Kak Ismail dan putrinya, Q. Semoga buku ini menemukan banyak pembaca baru dan menjadi bagian kecil dari perjalanan mereka masing-masing. by @guhapiyandeling
0
5 months ago
Download
Di Jakarta yang biasanya suhu bisa mencapai 33°C, kami dalam tumbuh perlahan - lahan berupaya supaya di OMAH - Guha kita bisa merasakan kenyamanan suhu di angka 28-29°C dalam menanggapi krisis lingkungan. Hal ini bisa tercapai salah satunya karena ada banyak lapisan insulasi yang menciptakan bayangan dari pohon, kanopi + screen. Suasana yang asri pun memberikan naungan juga untuk satwa-satwa yang singgah / kami rawat. Ada beberapa refleksi di tahun 2026 ini.

1. Hal ini bisa terjadi saat merencanakan OMAH Library di tahun 2016 di -> refleksi bahwa jendela/pintu barat-timur perlu dipertimbangkan kembali karena paling banyak diterpa panas matahari, dan diposisi  di sisi utara-selatan. 

2. Pada seluruh ruang , sirkulasi udara dialirkan melalui mekanisme bukaan yang mudah dikontrol (jendela + kipas angin tanpa ac), kecuali dj perpustakaan yang membutuhkan kelembapan rendah sehingga memerlukan(ac) mode dry.

3. Fungsi kreatif terjadi di antara ruang publik dan privat dalam dinamika hunian-kantor-perpustakaan.Konsekuensinya kita bisa mendapati di OMAH Library ada banyak jembatan dan tangga di berbagai titik, pintu dengan berbagai macam bentuk, alur ruangan yang mengalir seperti labirin dengan pintu sampai ratusan pintu.

4. Dalam detailing,disini arsitektur yang bagus tidak harus mahal esktrimnya di tahun 2022 hal ini ditunjukkan dalam Guha Boboto. Keyakinan itu mengizinkan kami untuk menggunakan material apa pun, termasuk material sisa untuk membuat sesuatu hal yang sangat efisien di angka 1.5 jt - 2 jt per m2. Sisi kreatif dari para tukang dilatih untuk berpikir di luar kebiasaan. Perpaduan ini menghasilkan cerita proses desain yang banyak kenangan, budaya tukang-desain + wastra  Aceh, jawa, sunda, sumatra, ntt, kalimantan, sulawesi, bali, lombok dan papua banyak daerah Indonesia lain.

5. Riset masa depan ada di bambu, dengan tukang yang minimal, dan puitis, ornamental dan menyatu dengan struktur pohon dan kontur di Bandung di 2026.

4 Cerita ini menjadi cara kami membagikan proses ini—menghadirkan kesempatan untuk mengalami ruang secara utuh, memahami lapisan berpikir di baliknya, dan merasakan bagaimana arsitektur bekerja dalam kehidupan sehari-hari. by @guhapiyandeling
6
6 months ago
Download
On February 21-22, we had the opportunity to welcome friends from @yamadamidori_lab @araki.lab and @nakatani_lab . Midori Yamada, Akiko Okabe, Mika Araki, Naohiko Hino, Chimaru Ikeda, Beatrice Sonia Ferlisan, Rei Takahashi, Takumi Tanabe, and Mone Kitazato  conduct a research study across several sites in Indonesia, including @guhapiyandeling @guhatheguild and @guhaboboto 

This visit became a meaningful space for knowledge exchange. They arrived with a strong sense of curiosity, seeking to understand how architectural practice unfolds in Indonesia—not only through its final outcomes, but also through the processes behind them.

At Piyandeling, conversations ranged from building processes and techniques to the relationships embedded within them, including exchanges with craftsmen alongside Pak Sani’in. Meanwhile, at Guha the Guild, they engaged with explanations on space and concept shared by Kak Rich, before continuing the journey to Guha Boboto. Questions emerged around the relationships between space, family, craftsmen, and the surrounding context, including how OMAH Library and Guha came to exist.

Throughout the experience, they observed with great attention to detail. Questions surfaced around materials, joint systems, craftsmanship, and how space can grow over time. They did not simply observe, but made a genuine effort to understand.

At the end, they shared reflections on the richness of detail, the strength of an evolving architectural concept, and a deep respect for process and craftsmanship. They recognized how materials such as bamboo can form structures that are both strong and beautiful, how joint systems become integral to design, and how open spaces foster close relationships with nature.

Thank you for your presence and for the exchange shared over these two days. May each conversation and observation continue to grow as part of an ongoing journey—both here and wherever it may lead next.

For those who would like to experience the space at Guha the Guild, Guha Boboto, and Guha Piyandeling, reservations can be made through: bit.ly/Visit_OMAHBookstore

#ExperiencingGuha #OMAHLibrary #LearningThroughSpace #GuhaTheGuild by @guhapiyandeling
2
6 months ago
Download
Pada 9 Februari, OMAH Library menerima kiriman buku dari Kak @r3ni_mss — membawa cerita, perjalanan, dan waktu yang pernah menemani hari-harinya.

Dari percakapan singkat kami, Kak Renni berbagi bahwa buku-buku yang ia donasikan sebagian besar adalah novel-novel lama yang selama ini ia nikmati. Ia memiliki ketertarikan pada karya-karya sastra, khususnya dari penulis Seno Gumira Ajidarma dan beberapa novelis perempuan — buku-buku yang tidak hanya dibaca, tetapi juga menemani, mengisi hari, dan mungkin membentuk cara pandangnya terhadap banyak hal.

Menariknya, di balik kecintaannya pada membaca, Kak Renni juga pernah memiliki keinginan untuk menulis novel. Banyak ide yang sempat terlintas, meski pada akhirnya belum sempat diwujudkan. Namun mungkin, justru dari perjalanan sebagai pembaca inilah, benih-benih cerita itu tetap hidup — dengan caranya sendiri.

Kini, buku-buku tersebut menemukan ruang barunya di OMAH Library Piyandeling. Perjalanan buku ini berlanjut — berpindah dari satu pembaca ke pembaca lain, membuka kemungkinan-kemungkinan baru, dan menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi setiap orang yang menemukannya.

Buku-buku ini telah terkatalog dalam koleksi Guha Piyandeling, di antaranya:

C1.015–C1.019 (Biography & Autobiography)
C2.180–C2.188 (Psychology & Self-development)
C6.007 (Language & Writing)
E1.056–E1.058 (Health & Sports)
G1.047–G1.117 (Indonesian Fiction)
G2.165–G2.166 (World Fiction)
J1.004–J1.007 (Religion)

Dan masih banyak lagi buku-buku lain yang belum sempat didokumentasikan, tetapi sudah dapat dijumpai dan menjadi bagian dari koleksi serta perjalanan literasi di OMAH Library Piyandeling @guhapiyandeling 

Terima kasih atas ketulusan dan kepercayaan yang dibagikan. Semoga buku-buku ini dapat terus hidup, dibaca, dan menjadi teman bagi banyak orang yang datang dan singgah di OMAH. 

#OMAHLibrary #donasibuku #berbagiliterasi #perpustakaan by @guhapiyandeling
2
6 months ago
Download
Guha Piyandeling: The Art of Bamboo Mastery
Dari atap hiperboloid sampai detail gagang pintu yang diukir manual, Piyandeling adalah bukti kalau material lokal punya kelas tersendiri. 
Keren sekali, tim RAW Architecture & para pengrajin!💯

📍 Guha Piyandeling
Lokasi ketiga OMAH Library
Mekarwangi, Lembang, Bandung
Siapa yang mau mampir ke sini juga?

#guhapiyandeling #realrichsjarief #realricharchitectureworkshop #omahlibrary #belajararsitektur by @guhapiyandeling
14
6 months ago
Download

Download All

Save the photos and videos currently loaded on this page.

0Photos
0Videos
Ready to download 0 / 0

Keep this tab open until your download is ready.

back to up