Instagram story viewer> @ihk.afr> Posts
4.9K
followers
8195
following
Akun private dan personal | Menyala, jadilah cahaya | Urip iku Urup | Sawang Sinawang | Gusti Mboten Sare
POSTS STORIES REELS TAGGED
Saya jarang sekali berdoa atau berharap secara spesifik, tapi saat itu dulu, entah bagaimana saya memiliki harapan kalau Allah swt berikan rezeki anak, semoga dia anak perempuan..

Lalu benar, Allah Maha Baik memberikan, 
Dengan cerita lahiran @amalwardhani yang mungkin sudah terlalu sering kami sharing ke circle dekat, bagaimana drama di bulan puasa saat itu benar-benar pertaruhan hidup-mati, 

Lalu sekarang putri kecil ini sudah harus mulai menimbang akan SD dimana, lengkap dengan strategi lanjutan dan turunannya, 

Lalu saya pun melihat benar istri sudah berproses sedemikian rupa, membesarkan sekaligus mungkin mendewasa dalam prosesnya, 

Postingan soal istri-anak lately sering saya archive, melihat risk-reward kehidupan profesional nampaknya tidak sebanding, tapi bukan artinya saya tidak bisa posting sekali dua kali kan, 

Mengambil jeda, melihat sejenak jejak kebelakang, mensyukuri berbagai hal, Bunda dan Yasmina adalah mata air dan matahari, menyejukkan sekaligus jadi energi bergerak ayah setiap hari, terimakasih ya, maaf ayah masih banyak kurangnya, ayo semangat kita guling guling sampai masuk surgaNya bersama. by @ihk.afr
6
a month ago
Download
Burung yang bertarung, bebas memilih arena,
kecil tubuhnya, namun langit terbuka ke mana saja.

Bermodal sayap yang diberikan Sang Maha,
ia terbang, menembus angin, membaca cuaca.
Kadang tinggi, kadang rendah,
kadang harus melawan arah.

Sesekali hinggap untuk kembali memberi jeda,
sebab segala kerumitan dan kegilaan, tanpa makna, hanya akan percuma.

Di titik itu, barangkali kita perlu kembali bertanya:
Dari mana kita berasal,
sedang apa kita di dunia,
dan ke mana akhirnya kita akan tiba?

Sebab hidup terlalu mudah membuat kita sibuk terbang,
mengejar langit, berpindah gelanggang,
hingga lupa mengapa dulu sayap ini dibentang.

Untuk apa begitu jauh kita terbang,
jika pada akhirnya lupa ke mana harus pulang?

Maka terbanglah sejauh yang kau mampu,
bertarunglah selama masih tahu untuk apa itu.

Namun sesekali, hinggaplah dahulu
agar hati tetap jernih, arah tetap utuh.

Sebab bukan hanya soal seberapa tinggi kita pergi,
tetapi apakah kita masih mengenali diri:
dari mana berangkat,
untuk apa hidup,
dan kepada siapa kelak kembali. by @ihk.afr
0
2 months ago
Download
Entah kenapa, cahaya hampir selalu ditaruh di tempat yang lebih tinggi.

Mungkin bukan supaya ia lebih mudah dipandang,
tapi supaya terang yang dibawanya bisa menjangkau lebih jauh.

Barangkali begitu juga dengan hidup.
Ada kalanya kita diberi tempat, kesempatan, atau amanah yang lebih tinggi, bukan untuk merasa lebih besar, melainkan agar lebih banyak yang bisa kita terangi.

Sebab pada akhirnya, tinggi bukan soal seberapa banyak orang melihat kita,
tetapi seberapa jauh cahaya kita sampai kepada mereka. by @ihk.afr
0
2 months ago
Download
Kita datang,
membangun,
menjulang.

Mengejar nama,
merentangkan cita,
seolah ada yang bisa kita bangun
cukup tinggi untuk menahan surya.

Lalu senja datang.

Dan segala yang terasa besar
perlahan tampak kecil
di bawah langit yang terlampau akbar.

Menara tetap berdiri,
kabel-kabel tetap membentang,
namun hari tetap akan pulang.

Matahari hilang di balik awan,
tapi cahayanya akan selalu dirindukan.

Ia tinggal di tepian,
meninggalkan terang
meski tak lagi terlihat dalam pandang.

Barangkali manusia pun demikian.

Kita datang,
mengisi ruang,
meninggalkan jejak,
lalu perlahan menjadi kenang.

Yang ramai menjadi sunyi.
Yang dekat menjadi memori.
Yang datang, suatu hari pergi.
Yang singgah, pada akhirnya kembali.

Dan mungkin,
hidup bukan tentang
seberapa tinggi kita pernah berdiri,
atau seberapa lama nama kita dikenali.

Melainkan tentang apa yang tetap tinggal
ketika kita tak lagi di sini:

sedikit baik yang terus mengalir,
sedikit hangat yang terus menjalar,
sedikit cahaya yang masih menyala—

lama setelah
kita pulang kepada yang Abadi. by @ihk.afr
0
3 months ago
Download
Banyak jalan untuk naik.

Ada yang lewat setapak,
anak tangga kecil,
jalur ilalang.

Ada yang mendaki perlahan,
menjaga napas,
menghitung pijakan,
jatuh berkali-kali,
lalu belajar bangkit
dengan hati yang lebih berani.

Ada yang jalannya lebar,
terang,
petunjuknya jelas,
arahnya terbentang.

Ada pula yang harus membuka jalan sendiri,
menyibak duri,
melukai kaki,
meninggalkan jejak
agar mereka yang datang nanti
tak harus tersesat sejauh ini.

Ada yang naik dengan peta warisan,
arah telah ditunjukkan,
jalan telah dipetakan.

Ada yang ditemani sejak langkah pertama,
dituntun ketika ragu,
ditopang ketika tak berdaya.

Ada yang telah disiapkan tangga,
anak demi anak tertata,
hingga yang jauh terasa dekat,
yang tinggi terasa lebih nyata.

Ada pula yang menemukan lift terbuka,
masuk,
menekan angka,
lalu melesat ke atas
melewati lantai demi lantai
lebih cepat dari mereka
yang masih hanya mengandalkan kakinya.

Dan ada yang tak punya semua

Tak punya peta.
Tak menemukan tangga.
Tak ada lift yang terbuka.

Tak ada tangan
yang selalu siap menjaga.

Yang mereka punya
hanyalah langkah,

dan percaya.

Percaya bahwa kabut
tak selamanya menutup arah.

Bahwa jalan yang belum terlihat
bukan berarti tak ada.

Bahwa lambat
bukan berarti kalah.

Bahwa tersesat sesaat
bukan berarti tak akan sampai.

Maka tak semua perjalanan
layak dibandingkan.

Titik mula berbeda.
Bekal tak sama.
Medan tak serupa.
Dan hidup tak pernah membagikan
jalan dengan cara yang sama.

Yang cepat
belum tentu sampai dengan utuh.

Yang lambat
belum tentu tertinggal jauh.

Kadang jalan memutar
bukan pertanda kita salah arah,

melainkan cara Tuhan
mempertemukan kita
dengan sesuatu
yang tak akan ditemukan
di jalan yang terlalu mudah.

Maka naiklah.

Naiklah sejauh yang mampu kita tempuh.

Gapailah ilmu.
Bangunlah karya.
Besarkan manfaat.

Tak ada salahnya menjadi besar.
Tak ada salahnya sampai di atas.

Duduklah di tempat-tempat tinggi,
bila dari sana
lebih banyak yang bisa kita beri.

Sebab ketinggian
bukan selalu tentang kemegahan.

Kadang ia hanyalah tempat
agar pandangan lebih luas,
tangan menjangkau lebih jauh,
dan manfaat mengalir lebih deras. by @ihk.afr
8
3 months ago
Download
Awalnya ada 72 ide. Waduhh, untungnya kami cepat sadar: waktu terbatas, tenaga terbatas, dan dana juga belum bisa diajak kompromi. 🤣

Karena itu, puluhan ide tersebut kami sederhankan menjadi 3 pilar dan 10 program yang paling realistis.

Setahun kemudian, kami bersyukur banyak hal berhasil diwujudkan bareng-bareng!

INI DIAAAA!!!
🎉 SATU TAHUN #RAYAKANKONTRIBUSI (tepuk tangan semuanyah)

Dalam satu tahun terakhir, kami belajar bahwa kontribusi tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Ia hadir dalam ruang belajar bersama, mentorship yang mengubah arah karier, dukungan untuk mengejar beasiswa, pertemuan hangat antarsesama alumni, hingga kolaborasi yang memperluas manfaat bagi lebih banyak orang.

Sepanjang tahun pertama, kami:

✅ Menepati janji kampanye Pak Ketua (alhamdulillah ya Allah)
✅ Rekonseptualisai program
✅ Menjalankan program pengembangan alumni dan beasiswa
✅ Menghadirkan Tour de Indonesia di berbagai wilayah
✅ Menyelenggarakan Majelis IARK sebagai tonggak penguatan organisasi
✅ Menjaga kanal komunikasi tetap aktif selama 12 bulan penuh (Makasih Tim Media #MencintaiDiriSendiri)

Namun capaian ini bukan tentang pengurus aja.

Ini adalah tentang seluruh alumni Rumah Kepemimpinan yang terus hadir, terlibat, mendukung, dan mengambil bagian dalam perjalanan ini.

Terima kasih kepada setiap alumni, mitra, mentor, narasumber, dan relawan yang telah menjadi bagian dari tahun pertama ini.

Karena pada akhirnya, organisasi hanya menjadi hidup ketika anggotanya memilih untuk terus berkontribusi.

Mari melangkah ke tahun kedua dengan semangat yang sama:

melembagakan, memperluas dampak, dan merayakan kontribusi.

#RayakanKontribusi #IARK #AlumniRumahKepemimpinan by @ihk.afr
0
3 months ago
Download
2.800 km mengajarkan saya satu hal yang nggak pernah diajarkan di buku manapun:

Bahwa kelelahan terbesar bukan di kaki yang terus melangkah — tapi di hati yang sudah lama tidak ditanya: "kamu baik-baik saja?"

Kita hidup di dunia yang merayakan kecepatan. Yang menganggap berhenti itu kalah. Yang bilang istirahat itu kemewahan.

Tapi bagaimana kalau justru di situlah — di jeda, di sunyi, di ruang kosong antara satu langkah dan langkah berikutnya — kita menemukan kembali siapa kita sebenarnya?

Post ini bukan ajakan untuk berhenti. Ini ajakan untuk memastikan kamu masih berjalan ke arah yang benar — dengan hati yang utuh.

#refleksi #kalibrasi #growthmindset #muhasabah #selfgrowth by @ihk.afr
3
6 months ago
Download
24 Maret. Ulang tahun.

Hadiahnya: stuck Solo-Semarang lebih dari 5 jam, yang biasanya cuma 1-2 jam.

Saya coba cari jalur lain — keluar pintu tol untuk masuk ke one-way sisi kanan. Pintu tol ditutup. Kembali ke jalur kiri. Macet bersama semua orang.

Yang menarik: saudara yang berangkat lebih sore justru sampai lebih cepat. Dia masuk tepat saat one-way dibuka secara fungsional. Sementara saya yang berangkat lebih awal, terjebak bersama kerumuman tanpa bisa pindah.

Ini bukan soal siapa yang lebih pintar. Ini soal siapa yang punya peta-informasi yang lebih lengkap.

Stiglitz dan Akerlof menyebutnya information asymmetry — ketika satu pihak punya informasi lebih lengkap, pihak yang kurang informasi akan membuat keputusan yang lebih buruk. Bukan karena bodoh, tapi karena memutuskan dengan peta yang tidak lengkap.

Dan saya berpikir: kalau jalur kita adalah jalur kebanyakan orang — bukannya wajar itu terasa penuh dan lambat?

Jalur kanan pada akhirnya hanya diisi oleh mereka yang punya informasi lebih, berani menunda demi timing yang tepat, dan membuat keputusan berbeda dari mayoritas.

Akhirnya saya menginap di Semarang. Berhenti. Istirahat. Besok paginya, langsung masuk one-way jalur kanan dari Kalikangkung. Efeknya jauh berbeda.

Tapi sampai di Cikampek — plot twist — jalur kanan sudah tidak full ditutup. Terpaksa masuk contra-flow. Asimetrik informasi, lagi-lagi.

Barangkali Tuhan benar-benar ingin memberikan pesan sederhana yang bermakna:

Bertambah usia, jangan merasa paling tahu. Karena bahkan usaha dan tebakan terbaikmu — itu semua karena kebaikan-Nya.

Berhenti sejenak bukan berarti kalah. Jalur yang ramai bukan berarti salah.

Tapi jangan pernah berhenti bertanya: "Apakah aku di sini karena memilih, atau karena ikut-ikutan, pasrah, lalu menyerah?"

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
"Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian." (QS Al-'Asr: 1-2)

#refleksi #leadership #mudik2026 #ulangtahun #informationasymmetry #patience #humility by @ihk.afr
5
7 months ago
Download
Mudik kemarin, saya banyak belajar dari jalan tol.

Beberapa kali ketemu pengemudi yang ragu — mau menepi tapi bingung, mau belok tapi tak jadi. Di kecepatan tinggi, dengan traffic padat, keraguan itu bukan sekadar mengganggu. Ia berbahaya.

Dan saya lalu berpikir: berapa banyak keraguan dalam hidup kita yang diam-diam menyakiti orang lain?

Di tim, keraguan pemimpin menciptakan vakum. Di keluarga, keraguan kronis menciptakan ketidakpastian bagi orang-orang terdekat yang butuh kejelasan, bukan kesempurnaan. Di jalan raya, ia bisa fatal.

Gary Klein (1993) dalam model Recognition-Primed Decision menemukan bahwa para ahli di situasi tekanan tinggi — pemadam kebakaran, paramedis — tidak mencari keputusan sempurna. Mereka mengambil keputusan pertama yang viable, lalu bergerak.

Tapi ini bukan soal asal mengambil keputusan.

Islam mengajarkan urutannya dengan jelas:

وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ

"Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah." (QS Ali Imran: 159)

Musyawarah dulu. Timbang sungguh-sungguh. Tapi setelah proses itu selesai — bulatkan tekad, dan jangan terjebak di loop keraguan.

Keputusan tidak harus sempurna. Tapi keraguan yang berlarut selalu punya korban — dan seringkali bukan diri kita sendiri.

Dengarkan. Timbang. Musyawarah. Lalu bulatkan tekad — dan jangan menoleh lagi.

#leadership #decisionmaking #mudik2026 #refleksi #thoughtleadership by @ihk.afr
0
7 months ago
Download
Sambil jalan, sambil mendaki, sambil berkelok,
kita coba terus rayakan, kita coba terus upayakan.

Tidak bisa menyapa semua, minimal beberapa.
Tidak bisa memenuhi semua, minimal dikomunikasikan lagi untuk cari tengahnya.
Tidak bisa bergerak banyak, minimal yang sedikit tetap terlaksana.

Kata siapa tumbuh harus seorang diri.
Jangan-jangan justru karena bersama-sama kita jadi saling menempa.
Jangan-jangan justru karena saling menempa kita jadi lebih lembut dan bisa menerima.
Jangan-jangan justru karena kita bisa menerima, Tuhan lalu berikan lebih banyak lagi kepada kita.

Ambil langkah itu.
Sapa dia yang sudah lama ingin kamu sapa.
Buatlah janji lagi untuk bertemu, temukan lagi tempat dan waktu yang baru.

Meminta maaflah, turunkan segera egomu.
Kejar dan kerjakanlah apa yang ada di pikiranmu.

Rangkul yang bisa, bergerak bersama,
sebab hidup barangkali memang tidak selalu tentang sampai secepatnya,
melainkan tentang siapa saja yang sempat kita jaga di sepanjang jalannya. by @ihk.afr
5
7 months ago
Download
Tadi habis ketemu Mas @muhamadyudapradana 
Beliau habis ketemu Mas @retasamjad_ terus lanjut ke kantor ko @devlinhazs 

Ada @akbartafsili dan @rizkiadpra juga pas saya nyusul ke kantor barunya @skolla.online yang makin keren, 

Tapi singkatnya gara-gara Mas Yuda jadi nostalgia soal momen pertama ketemu Mas @retasamjad_ dan Da @ridhomsakti di @forumosisnasional @islc_id 

Dan dimomen itulah pertama kali ketemu sama sosok yang ada di foto ini.

___
Bulan Ramadhan gini, kalau beliau masih ada, saya yakin pasti ibadahnya lagi ugal-ugalan, 

Pernah ketemu orang yang sedekah shubuhnya udah gak ngecek lagi sisa uang di rekening, dan kadang cuman berhenti karena saldo kurang?

Pernah ketemu orang yang ngejar baca qurannya sampai beneran bisa gak tidur atau nyari waktu dimanapun lagi aktivitas? 

Pernah ketemu orang yang qurbannya bukan cuman satu sapi Limosin tapi sesanggupnya dia lagi ada uang? Yang artinya sering disana qurban, disini qurban, qurbanin aje semuanya bang, haha..

Pernah ketemu orang yang ngementorin anak muda yang jumlah peak nya pernah sampai 180-190an orang, rutin tiap weekend sampe ngorbanin urusan lainnya?

Pernah ketemu orang yang udah jelas gaptek karena ngetik di tab gede pakai telunjuk gitu gak yang 10 jari lancar, tapi selalu konsisten ngabsenin prestasi dan presensi kehadiran? Japriin bos satu satu, keriting gak tuh, 

Pernah ketemu orang yang kalo udah punya pengen, ampe sakit diinfus juga masih dikejar? Beneran ampe bikin agenda di kamar rumah sakit..

Pernah denger respect to system, time, people? 

Ngajarin good vs great pakai bahasa yang bakalan ngaduk ngaduk medioker dan low standar anak yolo?

Perginya pun kolosal, dibuat live YouTube, yang nonton ratusan ribu, emang bener bener kebangetan.

Orangnya memang keras, banyak yang pasti kaget, gak cocok, bahkan ya barangkali justru disitu jadi garisnya, saya pun banyak dramanya, ya gimana, 2011 masih SMA tiba-tiba dapet setrum, lanjut di RK sempet irisan, lanjut ikut Shafa @shafa.community kayaknya dari edisi 1 sampai 4? Sungguh terlalu, kok ya mau maunya kalau diinget, haha..

Tapi barangkali makin besar jadi semakin paham, ketulusan itu sampai, kejujuran niat itu nyata, keinginan beliau un by @ihk.afr
24
7 months ago
Download
Cuaca boleh sedang mendung, hujan kadang bahkan mendadak deras tak pakai permisi, 

Tapi nyala dan harapan itu adanya didalam, 

Harus tahan badai, harus kuat berdiri seorang diri.

Karena hanya yang kuat yang bisa menguatkan, 
Karena hanya yang penuh warna yang bisa mewarnai, 
Karena hanya yang punya api yang bisa memantik nyala energi. 

Jadilah lentera, jadilah bendera, jadilah manusia seutuhnya. by @ihk.afr
0
9 months ago
Download

Download All

Save the photos and videos currently loaded on this page.

0Photos
0Videos
Ready to download 0 / 0

Keep this tab open until your download is ready.

back to up