Instagram story viewer> @rawarchitecture_best> Posts
55.4K
followers
1827
following
Principal Architect
Studio @rawarchitectureofficial . @omahlibrary
+628161644022
[email protected]
.
Daily on @realrichsjarief
POSTS STORIES REELS TAGGED
Di Jakarta yang biasanya suhu bisa mencapai 33°C, kami dalam tumbuh perlahan - lahan berupaya supaya di OMAH - Guha kita bisa merasakan kenyamanan suhu di angka 28-29°C dalam menanggapi krisis lingkungan. Hal ini bisa tercapai salah satunya karena ada banyak lapisan insulasi yang menciptakan bayangan dari pohon, kanopi + screen. Suasana yang asri pun memberikan naungan juga untuk satwa-satwa yang singgah / kami rawat. Ada beberapa refleksi di tahun 2026 ini.

1. Hal ini bisa terjadi saat merencanakan OMAH Library di tahun 2016 di -> refleksi bahwa jendela/pintu barat-timur perlu dipertimbangkan kembali karena paling banyak diterpa panas matahari, dan diposisi  di sisi utara-selatan. 

2. Pada seluruh ruang , sirkulasi udara dialirkan melalui mekanisme bukaan yang mudah dikontrol (jendela + kipas angin tanpa ac), kecuali dj perpustakaan yang membutuhkan kelembapan rendah sehingga memerlukan(ac) mode dry.

3. Fungsi kreatif terjadi di antara ruang publik dan privat dalam dinamika hunian-kantor-perpustakaan.Konsekuensinya kita bisa mendapati di OMAH Library ada banyak jembatan dan tangga di berbagai titik, pintu dengan berbagai macam bentuk, alur ruangan yang mengalir seperti labirin dengan pintu sampai ratusan pintu.

4. Dalam detailing,disini arsitektur yang bagus tidak harus mahal esktrimnya di tahun 2022 hal ini ditunjukkan dalam Guha Boboto. Keyakinan itu mengizinkan kami untuk menggunakan material apa pun, termasuk material sisa untuk membuat sesuatu hal yang sangat efisien di angka 1.5 jt - 2 jt per m2. Sisi kreatif dari para tukang dilatih untuk berpikir di luar kebiasaan. Perpaduan ini menghasilkan cerita proses desain yang banyak kenangan, budaya tukang-desain + wastra  Aceh, jawa, sunda, sumatra, ntt, kalimantan, sulawesi, bali, lombok dan papua banyak daerah Indonesia lain.

5. Riset masa depan ada di bambu, dengan tukang yang minimal, dan puitis, ornamental dan menyatu dengan struktur pohon dan kontur di Bandung di 2026.

4 Cerita ini menjadi cara kami membagikan proses ini—menghadirkan kesempatan untuk mengalami ruang secara utuh, memahami lapisan berpikir di baliknya, dan merasakan bagaimana arsitektur bekerja dalam kehidupan sehari-hari. by @rawarchitecture_best
6
6 months ago
Download
In RAW Architecture, we produce 3 main analytical framework, such as responses towards attentions to Details (Tectonics), Thermal conditions, and Wind Pressure. It is a lesson learnt that we implement in all of our projects.

In context of this case study, Jakarta exemplifies the challenges such as :

1. Details of Critical resources, our design depart from the fact that our context, Indonesia, is a postcolonial country, and we recognize its lack of resources. To focus on craftsmanship is a way to design in creative way with critical thinking senses. RAW’s core value has been shaped by the intangible knowledge of the craftsmen, artist, and design and we prioritize craftsmanship process over expensive materials. This approach coins to Pluralism architecture that involves diversity in construction, using whatever in our excess to create buildings that are inclusive and connected to their context, combining high-tech systems with low-tech basics. 

2. To achieve thermal and wind pressure comfort in Jakarta, a hot-humid tropical climate (23–33°C, 70–85% humidity, 0.2–0.8 m/s winds), the work of RAW embraces the needs and constraints of our context. We are aware of keeping the indoor temperature towards 27°C, and relative humidity must be kept at 30-60% to avoid dryness and dampness, is essential in maintaining maximum comfort through strategies that allows for microclimate to exist. The architecture must employ passive strategies such as stack and cross ventilation to carry steady cooling inside the building. To add to our efforts, we work with active strategies such as fans to help regulate fresh air. Our analytic team approach designs through the studies of comfort. The team uses modelling and simulation to review design from the lenses of data, to model these strategies more accurately to test its impact to our designs.

Credits to RAW Analytic team:
Principal : @rawarchitecture_best
Analytic Team : @adityakosman @tyoadngrh @rrianditaa 
Team : @ha.ykal @noviola_esther @carmelinagabriellah @farrashsal
Other Lead : @melisaakma @almujaddidi @andriiyansyahmr @joanaagustin @gabymarcelina @putrakhairus @mu.zyd @muhammadyusrul @joshinoel @chairunnisabels @namanyaemailku by @rawarchitecture_best
5
a year ago
Download
Recently, RAW Architecture has just completed the concept phase of the RJ Bioclimatic Home. Each project feels like planting a new seed, shaped by its own process, people, methods, and context. On this site, the sun angles in diagonally and our design adjusts the massing by 50° to true North, aligning the home to its coolest orientation.

This rotation opens a “borrowed vista” toward the courtyard, connecting spaces such as the sunken living room with circular vistas, the staircase with an integrated bookshelf, a poetic book-nook landing, and a set of sleeping and living spaces layered with compartments. Above, a dual realm of healing, resting, and working brings the family together around a central garden.

Through these diagonal forms, we positioned the massing away from direct sunlight, potentially reducing heat from 32°C to comfort 27°C. This axis provides privacy in the North-South direction while revealing glimpses of life along the East-West. The clarity of massing, envelope, details, and brick materiality reinforces this bioclimatic intent.

Reflecting on this project and our works since 2012, nurtured by readings like Strange Details, Poetics of Architecture, and Material Imagination, we are reminded that poetic space, material play, and climatic sensitivity have always been at the heart of our practice. This scheme, through many iterations, leads us into an “upgraded reality,” a fresh outcome born from deep, persistent reflection.

Team: @melisaakma @almujaddidi @joanaagustin @andriiyansyahmr @joshinoel @putrakhairus @k.ezraa @veeryanaa @zikrirahardian @irvitaingrid @timothytuahatu @edhobaronmack @ridwan.kp @rizkasra @reviynatk @carmelinagabriellah @adityakosman @tyoadngrh by @rawarchitecture_best
25
a year ago
Download
[YUK KENALAN SAMA PEMBICARA SAYEMBARA:HACK #2! 💡✨]
Sudah siap membawa karyamu bersaing di level global?

Yuk, kenalan dengan narasumber hebat kita selanjutnya di SAYEMBARA:HACK #2:
Ar. Realrich Sjarief, ST., MUDD., IAI. (@rawarchitecture_best @realrichsjarief) 

Sosok di balik RAW Architecture @rawarchitectureofficial yang didirikannya sejak tahun 2011. Melalui pendekatan desain yang simple, humble, namun memiliki kualitas transcendence, Pak Realrich telah mengukir banyak prestasi internasional.

🏆 Sederet Penghargaan Internasional Beliau:
• Long-listed Rural House, Dezeen Award 2022 for Guha
• Finalist Architizer + 2021 Architecture + Sustainable Category for Piyandeling
• Finalist Terra Fibra Award 2019 for Alfa Omega School

Melalui webinar ini, beliau akan membedah strategi, pengalaman, dan perspektif di balik kompetisi arsitektur, serta memberikan tips & trik jitu agar karyamu menang di internasional!

⚠️ KUOTA TIKET EARLY BIRD SUDAH SOLD OUT! ⚠️
Jangan khawatir, tiket Regular masih tersedia dengan kuota terbatas!

🗓 Jadwal Pelaksanaan:
• Sabtu, 24 Oktober 2026
• 13.00 - 16.00 WIB
• Live via Zoom

💰 Harga Tiket:
• Early Bird: Rp69.000 (SOLD OUT)
• Reguler: Rp89.000 (11 - 23 Oktober 2026) — Terbatas!

🎁 Benefit yang Didapat:
• E-Certificate
• Rekaman Materi (Playback)
• File Presentasi Pembicara
• Sesi Live Q&A Interaktif

🌟 Special Benefits from @haiskill.id:
• Voucher Belajar 10% (SEMUA peserta)
• FREE Bootcamp & Professional Digital System (5 peserta terpilih)

🔗 Link Pendaftaran:
bit.ly/SayembaraHack2

📞 Info Pendaftaran & WA:
• Nadila: 0838 2245 5833
• Livi: 0838 7602 4405

✨ Sponsored by:
@trex.system & @haiskill.id

🤝 Calling More Sponsorship:
CP: 0813 1501 5136

Media Partner:
@architect.wow @archivox.id @koloniarsitektur @archirexture.id @event.architecture @arsitekdandesain @think.lab_collective @brickyplan

#info.sayembara #SayembaraHack2026 #ArsitekturIndonesia SeminarArsitektur RealrichSjarief RAWArchitecture DezeenAward Architizer SayembaraArsitektur by @rawarchitecture_best
0
6 days ago
Download
​[SAYEMBARA:HACK #2 IS FULLY RELEASED! 🚀✨]

​Buat kamu yang mau belajar strategi menembus dan berkarya di kompetisi arsitektur internasional, poster utama SAYEMBARA:HACK #2 resmi rilis penuh dan Pendaftaran Reguler Resmi Dibuka!

​🗣 "How to Win International Competitions"

​Belajar langsung dari dua narasumber berpengalaman global:
​👤 Artha Kisiantara, S.Ars (@arthakrisiantara)
• Experience at Kengo Kuma & Associates
​👤 Ar. Realrich Sjarief, ST., MUDD., IAI. (@rawarchitecture_best)
• Principal Architect of RAW Architecture

​🗓 Jadwal Pelaksanaan:
• Sabtu, 24 Oktober 2026
• 13.00 - 16.00 WIB
• Live via Zoom

​💰 Tiket Masuk:
• Early Bird: Rp69.000 (Terjual Habis)
• Reguler: Rp89.000 (11 - 23 Oktober 2026) — Terbatas untuk 120 Orang!

​🎁 Fasilitas Tambahan:
• E-Certificate
• Akses Rekaman Webinar
• Berkas Presentasi Pemateri
• Sesi Tanya Jawab Interaktif

​🌟 Program Pembelajaran Tambahan dari @haiskill.id:
• Program Bootcamp November & Digital System bagi 5 peserta pilihan
• Apresiasi Pembelajaran 10% untuk seluruh peserta

​🔗 Link Pendaftaran:
bit.ly/SayembaraHack2

​📞 Informasi & Layanan Pendaftaran:
• Nadila: 0838 2245 5833
• Livi: 0838 7602 4405

​✨ Sponsor Utama:
@trex.system & @haiskill.id

​🤝 Kemitraan & Sponsorship:
CP: 0813 1501 5136

​📌 Media Partner:
@architect.wow @archivox.id @koloniarsitektur @archirexture.id @event.architecture @arsitekdandesain @think.lab_collective @brickyplan

​#info.sayembara #SayembaraHack2026 #ArsitekturIndonesia SayembaraArsitektur SeminarArsitektur BelajarArsitektur DesainArsitektur by @rawarchitecture_best
3
8 days ago
Download
From iconic landmarks to community spaces, Indonesian architecture carries stories of culture, creativity, and identity. 

For World Architecture Day, we’re highlighting several projects by Indonesian architects that show how design can connect heritage, materials, and the communities around them.

Which Indonesian architectural project do you think deserves more recognition? 👀

Follow @creativebyindonesia for more stories on Indonesian creative players making an impact locally and beyond. by @rawarchitecture_best
1
14 days ago
Download
These past few days I have been very sad.On Tuesday I had just finished discussing the final pages of Jimmy Lim’s book and was about to call him, when the news came.He passed away on Monday, 28 September 2026, at 82.I knew him closely for the last 2 years, and my children knew him as Uncle Jimmy.

I first knew his name from our research on Malaysia.In the moment of Datum KL 2024 he picked us up himself, me and my family, and spent us 2 days of lunches and dinners together with Agnes, his lead architect. Over lunch I felt I was sitting with my grandfather from Samarinda.Their faces looked alike.

5 months ago I picked him up at the airport in Jakarta, and we talked on the way. I asked him why he had come.To support some young colleagues, he said, who were exhibiting in Jakarta as part of @malaysian_architecture_weeks.

When I look at his design,I recognise something similar to his piano. Details repeat into patterns, the patterns make a microclimate, all of it held by a consistent axis, a grid, and the patience to listen to a client. Some of his later work argues against his earlier methods, the mark of a man still unfinished past 80. Oppositions of things, in harmony.I call the technique “Fragmen”, after the piano piece by Jaya Suprana, gamelan played on a contemporary piano, composed piece by piece into one large thing, with its rises and its falls.

A circle is built slowly, and it feels broken when someone leaves it.I still have the videos of him at the piano here ,and he took picture of me and sent over.

He spent almost a week at Guha, shared his experience at @omahlibrary, in an Arsitektur Mumpuni session.He watched me design and watched us coordinate, and sometimes he played the piano.I would stop working and film him. He loved cabbage.He loved long conversations on postcolonial struggle, tradition, and how to handle a crisis.He talked about his weaknesses more readily than his awards.Remembering moments like these,my tears fall. It felt like my father watching me work, and that is why his leaving made me so sad.

Rest Well Jimmy Lim, I felt honoured meeting him, hearing him, and know him as person, gifted, great architect, a warrior.

1st📸@rrianditaa by @rawarchitecture_best
8
18 days ago
Download
What if a building was never meant to feel finished?

Kampoong Guha grows more like a village than a conventional mixed-use building.
Library, studio, classrooms, co-working spaces and home life overlap through gardens,
terraces, bamboo structures and a labyrinth of more than 200 doors.

Its material language is equally open-ended: bamboo meets concrete, recycled tiles meet steel, and craftsmanship meets industrial construction.
Nothing is forced into perfect uniformity.

Instead, spaces evolve, vegetation takes over edges, and circulation becomes part of the
experience.

Perhaps that is the real lesson here:
good architecture doesn’t always need to look complete—it can remain capable of growth.

Kampoong Guha
Tangerang, Indonesia
2025

Architecture: @realricharchitectureworkshop
Photography: Lu’Luil Ma’nun, Kie Arch, Aryo PhramudhitoBB

Presskit available @bampr.co

#TropicalArchitecture #BambooArchitecture #AdaptiveArchitecture #MixedUseArchitecture
#IndonesianArchitecture by @rawarchitecture_best
9
18 days ago
Download
RAW Architecture mendesain komposisi yang menunjukkan bagaimana aspek 3 hal: klimatik, privasi, dan fungsi program saling terintegrasi.

Arsitekturnya terdiri dari kotak-kotak berbelok yang tersusun membuka ke utara selatan dan menutup ke arah barat timur. Tampaknya merupakan kolase bermacam material yang mudah didapatkan dan dibuat oleh para tukang yang berdedikasi dikepalai pak Singgih, pak Eddy, dan almarhum pak Endang, 

Kulitnya berkolase dengan pertemuan besi, beton, bata, kayu, acian semen ekspos, dan plat besi perforated yang melayang dan tidak saling menempel. Modul logam berlubang kecil dilas satu per satu untuk mengikuti sudut massa yang disesuaikan massa bangunan, arah matahari, menyaring panas matahari seraya mengundang cahaya dan angin masuk. Rumah ini tidak ditutup rapat, ia berpori, agar bisa bernapas. Dari depan rumah ini menyerupai gugusan sebuah bukit. 

Rumah ini dirancang untuk tiga generasi yaitu anak, ayah, ibu, dan kadang kakek nenek, dan massa yang tidak saling menempel ini memberi setiap orang ruang bernapas, dekat tapi tidak berimpitan, dengan jeda berupa ruang keluarga, ruang studi. Bentuk ini menuntut kompromi grid. Massa yang ditekuk tidak bisa berdiri di atas satu grid bersih. Struktur bajanya memadukan lima grid berbeda yang dipotong menyudut dan saling bertemu di irisannya. Setiap kamar mandi mendapat skylight tersendiri.

Satu hal yang kami renungkan kembali adalah bagian kulit bangunan. Bata dan logam berlubang memang memberi privasi di lahan padat, tapi membuat rumah terasa lebih tertutup. Mungkin tanaman rambat kelak bisa memberi keteduhan tanpa menambah dinding untuk sedikit membuka rumah ini tanpa mengorbankan privasi. Kami menamainya rumah Sarang. Bangunan ini telah diserahkan untuk dihuni, namun selesai dibangun tidak sama dengan selesai “bertransformasi”. Kami merancang bangunannya, lalu waktu dan penghuninyalah yang akan menyelesaikan sisanya. 

Kredit lengkap ada di bio kami, tim, tukang, insinyur, dan desainer.

Photography by
2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9: @ericdinardi

#rawarchitecture

Rumah ini memperlihatkan kotak-kotak berbelok yang tersusun seakan tanpa aturan, kulitnya kolase dari bermacam material, seperti melayang, by @rawarchitecture_best
7
a month ago
Download
Here, “international” often means the West. European visitors are honored, Asians as ordinary guests. Last month, 101 architects from India came. We would rather call it a visit from distant kin.

Last year, we met @shrraddhabadiani_foaid in India. This time she brought everyone to us.

Through @project101explorers organized by FOAID @foaidindia.in, they travelled across Jakarta and Bali, visiting Guha the Guild, Guha Boboto, and Alfa Omega School. The encounter felt different. For millennia, the Nusantara has been a place of exchange, and Indian currents brought scripts & epic tales. This house carries that history too. “Guhā” comes from Sanskrit, meaning cave. Standing before the sign, they were reading a word from the language of their ancestors.

Our conversation began in Kolkata, where we shared stories of bamboo, reclaimed bricks, and village craftsmen. At Guha, they asked questions as fellow practitioners: How are reused materials treated? Why the perforated walls? Where do our references come from? Reused materials can become a style, and openings mere decoration. What matters is the reason behind them.

At Alfa Omega, the conversation shifted. We spoke of the founder’s dedication. When we discussed the school built over a swamp, they noted that in India, such a project would be prohibited for biodiversity. We explained the context of our land, squeezed between industrial areas. No one won the argument, but both sides left with a new understanding.

Under that open roof, we remembered Santiniketan in eastern India, Rabindranath Tagore’s school where classes took place beneath trees. There, we learned that a learning space does not always have to be a classroom. That day the lesson returned to them.

Their testimonials were not about form, but about ways of thinking, warmth, and a feeling of home. We keep them as a sign that our work has been understood. Like craftsmen who once travelled to learn, this visit felt less like a tour than an exchange of knowledge. The tradition lives on not because we leave, but also because distant kin come to visit us.

Thank you @shrraddhabadiani_foaid and @saranginair_ for reaching out to us and arranging this encounter. by @rawarchitecture_best
0
a month ago
Download
Di akhir minggu ini saya berefleksi tentang 2 kepergian yang jatuh di tanggal yang sama. Tiga tahun setelah Pak Eko Prawoto berpulang, kabar datang bahwa Mas Greg meninggal di tanggal yang sama, ketika sedang bertugas di Nusa Tenggara Timur.

Kami hanya bertemu 1 kali, saat menyusun video tentang Pak Eko bersama Bu @rinawati11060, Pak @krisnatjahja_architect, Mbak Tyas @jungfrau_herz, @satriaapermana, @tyoadngrh, dan @kennpranoto. Mas Greg banyak bercerita dan kami tertawa sampai terpingkal pingkal, canda ala Warkop yang meletus di sela pembicaraan serius tentang ekosistem arsitektur yang melibatkan penduduk, kerajinan, dan kolaborasi. Beliau orang yang sungguh sungguh mau terlibat, dan jenaka, 

Saya mengenalnya dari lingkaran keluarga besar @yayasanekoagusprawoto, kolaborator @omahlibrary irisan tempat saya juga mengenal Romo Mangun, Pak Ardi Pardiman, Pak Ika, dan banyak arsitek Yogyakarta yang bekerja dengan cara yang sama, menjadi pamong-guru. Begitu ada bencana, mereka datang. Di lingkaran itu pengabdian bukan kehebatan yang diumumkan, melainkan bahasa yang lumrah.

Kalimat Mas @madcahyo kembali terdengar, kita punya banyak “pengajar” tetapi menjadi “guru” itu soal lain. Saya terus berdoa untuk keluarga yang ditinggalkan dan kawan kawan di Yogyakarta serta NTT, agar dilindungi kuasa baik Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam 1 pertemuan itu saya merasa dianggap “manusia”. Orang Jawa punya kata untuk itu, di wongke. Terima kasih, Mas Greg. Jujur saya belum rela, masih banyak yang bisa dikerjakan dan ditertawakan bersama. Selamat jalan sahabat by @rawarchitecture_best
24
a month ago
Download
Tim-tim di studio kami punya nama yang terdengar seperti mata kuliah filsafat, Sophia, Episteme, Phronesis, Techne, Analytic, Strategic, dan beberapa lainnya. Orang sering tersenyum ketika pertama kali mendengarnya. Tetapi di balik nama-nama itu, yang kami bangun sebenarnya sederhana, dunia-dunia kecil dengan bahasa dan cara kerjanya masing-masing.

Ada yang hidup di meja gambar, menyusun metode dan tata bahasa desain. Ada yang hidup di antara buku, meneliti dan menuliskan apa yang orang lain belum sempat pikirkan. Ada dunia pengetahuan praktis, dunia para tukang, tempat gagasan diuji oleh tangan dan material. Ada pula yang menimbang arah dan strategi, serta dunia angka dan arsip yang diam-diam menjaga semua dunia lain tetap berdiri.

Inilah bagian yang paling kami jaga, di studio ini, orang tidak dipaku pada satu dunia. Mereka berpindah-pindah. Yang biasa menggambar sesekali menemani tukang di lapangan. Yang meneliti ikut duduk dalam rapat proyek. Anak magang dapat merasakan beberapa dunia sekaligus, mencicipi bahasa yang berbeda sebelum menemukan bahasa yang paling terasa seperti miliknya. 

Kami percaya kreativitas jarang lahir di tengah satu dunia. Ia justru sering muncul di perbatasan, ketika pengalaman, pengetahuan, dan cara berpikir yang berbeda saling bertemu. Orang yang pernah tinggal di dunia tukang akan menggambar dengan cara berbeda. Orang yang tenggelam di dunia buku akan membangun dengan pertanyaan yang lebih dalam. Setiap perpindahan membuka saluran baru, membuat gagasan dapat mengalir dari satu dunia ke dunia lain.

Berpindah bukan berarti kehilangan tempat. Justru dengan mencoba banyak dunia, seseorang menemukan porsinya sendiri, tempat ia paling mampu memberi dan berkembang. Setelah menemukannya pun, pintu ke dunia lain tetap terbuka, agar porsi itu tidak berubah menjadi tempurung.

Nama-nama Yunani itu boleh terdengar rumit. Tetapi yang kami rawat sederhana, dinding antar tim sengaja dibuat rendah agar mudah dilompati. Karena studio yang sehat bukan kumpulan kotak yang rapi, melainkan rumah dengan banyak pintu terbuka, tempat orang terus bergerak, bertukar bahasa, dan membiarkan gagasan tumbuh di antara dunia yang berbeda.

(rs, ty, fm, ir) by @rawarchitecture_best
0
a month ago
Download

Download All

Save the photos and videos currently loaded on this page.

0Photos
0Videos
Ready to download 0 / 0

Keep this tab open until your download is ready.

back to up