Instagram story viewer> @outrage_orange> Tagged
POSTS STORIES REELS TAGGED
Hayo ngaku siapa yang dulu jaman sekolah atau kuliah ngidam velg ini? Mungkin sekarang udah pada momong anak ya 😆✌🏼

Velg lightweight alloy lansiran Daytona bernama GP Wheel ini dulunya memang cukup mendominasi pasar velg aftermarket di Indonesia. Berawal dari banyaknya team yang mengandalkan velg ini di lintasan balap pada masa kejayaan road race bikin velg ini diburu para pecinta modifikasi.

Seiring tren yang bergeser memasuki era motor matic dengan velg "CNC", velg alloy seperti ini kurang diminati para gen-Z. Namun untuk para milenial yang ingin bernostalgia, terutama untuk yang dulu belum kesampaian meminang (termasuk gue 😂) velg ini masih punya auranya tersendiri.

Sayangnya velg ini sudah lama discontinued yang bikin harganya melambung tinggi, baik new old stock maupun secondhand. Daytona Indonesia sudah merilis kembali velg ini namun hanya tersedia ukuran untuk motor bebek saja.

Di video ini Daytona GP Wheel untuk Honda Tiger diretrofit ke CBR 250R MC41. Ukurannya yang lebih kecil di 17x2.50-3.50 dan bobotnya yang jauh lebih ringan bikin handling CBR ini sangat lincah.

Yuk @daytonaindonesia bisa yuk, rilis ulang ukuran yang lain lagi 😁
15
Setelah sebelumnya gue downgrade rem belakang, sekarang waktunya untuk downgrade rem depan. “Wah makin ngaco lu bang, bukannya udah bagus pake Brembo 4P? Kok malah didowngrade?” 

Mungkin ada beberapa dari kalian yang berpikiran seperti itu, apa lagi sekarang kita ngomongin rem depan yang memang dibutuhkan buat mengurangi laju motor. Pastinya gue punya alasan untuk hal ini. Mungkin bisa kita mulai dengan sedikit cerita tentang Lembu si MC41 dan parts yang digunakannya. Yuk, swipe ke slide selanjutnya!

Gue sudah punya kaliper Brembo 4-pot 1 pin ini jauh sebelum gue meminang Lembu, tepatnya saat gue masih megang Kawasaki Ninja M yang batal gue restorasi. Untuk Ninja 2 tak yang memiliki engine brake yang lemah masih sangat masuk akal untuk mengupgrade pengeremannya dengan yang lebih kuat.

Fast forward akhirnya gue beralih ke CBR 250R MC41. “Kaliper Brembo-nya masih ada, gue pasang aja deh di CBR. Motor cc besar remnya harus besar juga” kira-kira begitu lah pemikiran gue dulu. Seiring berjalannya waktu pemikiran itu berubah. MC41 ini kebalikannya dari Ninja 2 tak, engine brakenya kuat sekali. Kadang untuk menurunkan kecepatan tidak perlu menekan tuas rem. Bobotnya yang termasuk ringan di kelasnya jadi salah satu faktor pendukung. Walaupun terlihat gambot tapi bobot motor ini hanya sekitar 150 kg.

Tujuan gue meminang Lembu untuk lebih memahami teknik riding. Salah satu caranya dengan ikut trackday. Setelah beberapa kali trackday gue akhirnya mengambil kesimpulan kalo rem standar bawaan pabrik sudah sangat mumpuni dan paling pas ukurannya. Justru ketika gue trackday menggunakan kaliper 4-pot membuat gue lebih lambat karena “kebanyakan ngerem”. It’s simple, kebanyakan ngerem bikin laju motor jadi lambat, kan? Dan pastinya kalian gak pengen riding lebih lambat, terutama di sirkuit.

Memang, teknik late braking bisa membantu memangkas waktu dan membantu overtake dengan mengerem lebih terlambat ketimbang lawan, tapi gue belum berada dalam taraf di mana gue bisa memanfaatkan late braking secara efektif untuk melaju lebih cepat di sirkuit.

Melihat referensi dari teman-teman yang sudah jauh lebih berpengalaman di dunia balap bahkan sampai ke gelaran ARRC kelas AP250 pun
11
Headline dari post ini mungkin bikin sebagian dari kalian bertanya-tanya. “Rem kok di-downgrade? Bukannya harusnya diupgrade biar makin pakem supaya lebih safety dan performanya lebih bagus?”.

Pendapat tersebut menurut gue valid, karena secara teori di atas kertas pengereman yang baik adalah yang memiliki braking powernya lebih besar, supaya lebih kuat untuk menghentikan laju motor dengan lebih cepat. Tapi kenyataannya di lapangan tidak sehitam putih itu. Ada case di mana kemungkinan kalian butuh rem dengan power yang lebih mild. Terutama untuk rem belakang, di mana rem hanya digunakan untuk koreksi mid-turn saat sedang menikung atau saat bermanuver di kecepatan rendah. Dalam kasus tersebut akan lebih ideal jika rem bisa dimodulasi dengan lebih leluasa tanpa terkunci. 

Itulah kenapa saat sudah tiba waktunya menggantikan master rem belakang Lembu dengan diameter piston 14 mm yang sudah berumur 14 tahun (coincidence? lol) dengan master rem dari KTC dengan diameter piston 12,7 mm. Keputusan ini gue ambil setelah berkonsultasi dengan @outrage_orange dari @vpmgarage dan dari pengalaman berkendara gue sendiri di mana beberapa kali gue tidak sengaja mengunci roda belakang saat sedang melakukan koreksi dengan rem belakang sebelum masuk tikungan saat spirited riding.

Untuk pemasangan master remnya gue dibantu oleh @theo_chrstiant dari @vpmgarage. Penasaran gimana prosesnya dan mau tau PnP atau nggak? Langsung aja swipe ke next slide!

Up close dengan master rem belakang KTC dengan diameter piston 12,7 mm.

Sudah include dengan tabung reservoir minyak rem. Cocok buat yang tabung reservoir-nya udah usang, walaupun ukurannya lebih kecil dari bawaan CBR 250R MC41.

Yep, as you can see master rem lamanya sudah leaking alias meler. Wajar untuk parts berusia belasan tahun dan who knows perawatan owner sebelumnya seperti apa. To be honest sebenernya ini alasan utama gue ganti master rem dan gue manfaatkan momennya untuk melakukan upgrade. Kaliper belakang MC41 memiliki 1 piston, di mana menurut gue overkill bila dipasangkan dengan master rem 14 mm.

Beginning of dissasembly.

Karena sudah menggunakan rasier foostep posisi minyak rem harus digeser menggunakan bracket tambahan.
13
Akhirnya ada bapack-bapack lain yang nemenin bengong di sini. 

Tapi jadi gak bengong sih, malah meratapi kenapa kita jadi orang have, have no choice 😂
42
Buat mata yang ngga jeli, CBR ini kemungkinan cuma dilihat sebagai motor yang modifnya ramai. 

And I said it not in a positive way. 

Dari jauh, mungkin sekilas bikin "Eh, apa itu?"

Lalu setelah lihat fairing depan bolong tapi ada alis LED, macam modifan ala ducati minus lampunya dan WINGLET. Yang kemungkinan orang ga percaya itu carbon beneran.. 

Maka reaksi berikutnya adalah.. "Oh.. " 🥱

Kalau itu yang kalian rasakan juga lewat foto ini, maka misi @outrage_orange , yang punya @vpmgarage berhasil. 

Killing expectations is what this bike is all about. 
Built to look like a tasteless sporty mods. 

but still leaving some room to think back. 

Bareng dengan gear ridernya yang outdated, nyisain ruang buat yang seumuran berpikir ulang.. 

Bentar. Kayanya ada yang aneh.. 

Okay. Let's see it again. 
Tulisan 150r di buntut tentu cuma buat bikin kecewa rider2 baru yang panasan. 

Buat generasi yang akrab dengan velg RCB, kemungkinan ga kenal bentuk Daytona GP wheel. Dan kalau cukup lama ngintilin motor ini, baru ketauan arah operan giginya beda. 

Why the hell you need GP shift? 

Wait. Shock depan agak lain? It's old R25 stock set to the clamps. Alasan? Murah, travel lebih panjang. 

Performance and handling matters more than the look. Karena arah KYJ ini adalah streetlegal track bike. 

Dengan sedikit taste buat yang ngga terlalu suka barang mainstream. Nojima Fasarm Carbon buat Z900? Yes please. 

You can ask Ardy @outrage_orange about the specs. 
He mostly put his research about MC41 on this bike. 

Tapi biar saya ulang inti semua caption ini: 
From the photos, did this bike killed your expectations? 

#mc41 
#cbr250r
13
back to up